Brent Kembali Tembus US$103, Harga Minyak Dunia Bangkit Setelah Anjlok 5 Hari

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali bangkit setelah tertekan selama lima hari perdagangan berturut-turut. Kenaikan dipicu memanasnya kembali sentimen geopolitik setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNBC, Kamis (24/9/2026), harga minyak Brent sebagai patokan global melonjak 3,9% dan ditutup pada level US$103,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,8% menjadi US$92,16 per barel.
Penguatan harga minyak terjadi setelah Pezeshkian menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pidatonya, dia menegaskan Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah.
“Mereka telah menguji kekuatan dan keteguhan Iran, dan mereka telah belajar bahwa Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah,” kata Pezeshkian dalam pidatonya di PBB, Rabu.
Minyak Masih Tertekan dalam Sepekan
Meski kembali menguat pada perdagangan Rabu, tekanan terhadap harga minyak belum sepenuhnya mereda.
Harga minyak mentah AS masih tercatat turun sekitar 8% dalam sepekan. Sementara itu, harga Brent telah terkoreksi hampir 1% dalam periode yang sama.
Pergerakan harga minyak kini sangat dipengaruhi perkembangan hubungan AS dan Iran, termasuk kemungkinan tercapainya kesepakatan maupun meningkatnya kembali ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Trump Hadapi "Keputusan Besar"
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pejabat Amerika Serikat telah melakukan pertemuan yang “sangat baik” dengan delegasi Iran. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam.
Namun, dalam pidatonya di PBB, Trump mengatakan dirinya tengah menghadapi “keputusan besar” mengenai apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau “memusnahkan” negara tersebut.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar minyak karena setiap peningkatan ketegangan berpotensi mengganggu pasokan dan jalur distribusi minyak dunia.
Reuters melaporkan Iran berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sepekan jika AS bersedia mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting perdagangan energi global, sehingga perkembangan terkait kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar minyak.
Harga Minyak Belum Tentu Melonjak Tajam
Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, upaya diplomasi masih menjadi salah satu faktor yang dapat meredam risiko eskalasi.
“Upaya mediasi Pakistan dengan Teheran juga dapat mengurangi risiko eskalasi yang lebih luas,” kata Paolo Broccardo, CEO bank digital swasta BankPro.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat harga minyak belum tentu langsung mengalami lonjakan tajam dalam waktu dekat.
“Dalam lima sesi perdagangan berturut-turut terakhir, harga telah turun hampir 12%, kembali menjauh dari ‘zona intervensi’ di atas US$ 100, yang berulang kali menjadi area ketika kami melihat upaya perdamaian yang semakin intensif dari kedua belah pihak,” ujar Broccardo.
Dengan harga Brent kembali menembus US$100 per barel, pasar kini akan mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, khususnya terkait Selat Hormuz dan kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran. (Lip6)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda