Breaking News
Memuat breaking news...

Budaya Melayu Pantun dan Telangkai Harus Dijaga Kelelestariannya

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 27 Juni 2026 - 5.52 PM WIB
Budaya Melayu Pantun dan Telangkai Harus Dijaga Kelelestariannya
Wabup Deliserdang, Lom Lom Suwondo didampingi Staf Ahli I TP PKK, Ny Asniar Lom Lom Suwondo, mengikuti pembukaan Seminar Seloka Telangkai, Pelestarian Seni Pantun di Aula Kantor Desa Pasar V Kebun Kelapa, Beringin, Sabtu (27/6/26). Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

BERINGIN (Waspada.id): Wakil Bupati (Wabup) Deliserdang, Lom Lom Suwondo menilai, seni pantun dan tradisi telangkai merupakan warisan budaya Melayu yang tidak hanya mengandung nilai sastra dan adat istiadat. Tetapi juga menjadi bagian dari identitas masyarakat yang perlu terus dijaga keberlangsungannya.

"Pelestarian budaya tersebut penting untuk memperkuat jati diri generasi muda di tengah derasnya pengaruh modernisasi, " kata Lom Lom Suwondo pada seminar Seloka Telangkai, Pelestarian Seni Pantun, di Aula Kantor Desa Pasar V Kebun Kelapa, Kecamatan Beringin, Sabtu (27/6/26).

Menurutnya, upaya melestarikan pantun dan tradisi telangkai sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, religius, dan berbudaya.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung pelestarian seni budaya daerah agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Seminar yang diinisiasi Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara bekerja sama dengan Himpunan Pelangkai Pelestari Adat Melayu (HIPAM) Kabupaten Deliserdang itu turut dihadiri Staf Ahli I TP PKK Deliserdang, Ny Asniar Lom Lom Suwondo. Kegiatan dibuka oleh Kepala Subbagian Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara, Salya Rusdi.

Salya mengatakan, tradisi telangkai merupakan salah satu kekayaan budaya Melayu yang berperan sebagai penghubung atau juru bicara dalam prosesi pernikahan adat. Namun, keberadaannya kini mulai jarang ditemui, sehingga perlu upaya bersama untuk menjaga kelestariannya.

“Telangkai memiliki nilai budaya dan nilai sakral yang tinggi. Namun, tradisi ini mulai jarang dijumpai. Karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali warisan budaya Melayu, serta melahirkan generasi muda yang mampu meneruskannya,” harapnya.

Salya juga menilai, Deliserdang sebagai daerah yang tepat untuk penyelenggaraan kegiatan tersebut karena masih memiliki akar budaya Melayu yang kuat, khususnya di wilayah pesisir timur Sumatera Utara.

Ketua Panitia, Bahriun Syam, menjelaskan, seminar diikuti lebih dari 100 peserta yang terdiri dari pelajar SMA, mahasiswa, dan seniman dari berbagai kecamatan di Deliserdang, seperti Pantai Labu, Beringin, Lubukpakam, dan Galang.

Dijelaskan Bahriun, kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan, mempelajari, melestarikan pantun di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.

Seminar menghadirkan sejumlah budayawan, akademisi, dan pemerhati bahasa yang membahas sejarah pantun, teknik berpantun, serta peran telangkai dalam adat Melayu.(id.28)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement