Build Back Better, Rehabilitasi Pascabencana Ubah SD di Desa Baru Lebih Nyaman


DELI SERDANG (Waspada.id): SD Negeri 106178 Desa Baru, Kecamatan Batang Kuis, kini tampil berbeda. Tiga ruang kelas dan ruang administrasi yang rusak akibat banjir November 2025 telah direhabilitasi melalui bantuan APBN revitalisasi senilai Rp474.256.101. Lantai ditinggikan, dinding dilapisi keramik, dan plafon diperbaiki, membuat ruang belajar kini jauh lebih aman dan nyaman dari ancaman genangan air.
Kepala SD Negeri 106178 Desa Baru, Azizah Bandayani (39), menyampaikan perbaikan dimulai awal Juni 2026 dan siswa sudah dapat menempati ruang kelas baru per 13 Juli 2026 saat tahun ajaran baru dimulai. Saat ini progres keseluruhan mencapai 75 persen, menunggu pencairan termin kedua sebesar 30 persen untuk menyelesaikan tahap akhir dan pengadaan perabot.
"Alhamdulillah, anak-anak senang dan nyaman belajar. Sekarang tidak ada lagi air yang masuk ke ruang kelas dan tidak ada lagi kebocoran. Lantai kami tinggikan sebagai langkah antisipasi, mengingat air banjir sebelumnya pernah mencapai bibir lantai teras," ujar Azizah saat ditemui, Rabu (28/10/2026).

Azizah Bandayani selaku Kepala SD Negeri 106178 di Desa Baru, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (28/10/2026). (Dok: Tim Media Satgas PRR)
Banjir November 2025 Hampir Capai Sepaha Orang Dewasa
Banjir besar akhir tahun lalu sempat menggenangi halaman sekolah hingga setinggi lutut, bahkan hampir sepaha orang dewasa. Ruang perpustakaan kemasukan air, dinding mengelupas, keramik pecah, dan kegiatan belajar terpaksa berhenti selama hampir satu minggu. Siswa harus belajar dari rumah.
Kini, tiga ruang kelas yang paling rendah dan terdampak terparah telah berubah total. Dinding dilapisi keramik biru agar tidak rusak oleh kelembapan, lantai ditinggikan, ventilasi dan penerangan diperbaiki. Di teras, tiang-tiang bercat merah muda dan ungu menjadi ciri khas baru sekolah ini.
Daffa Nizam (8), salah satu siswa, mengaku senang dengan ruang kelas barunya. "Banyak anginnya, kipasnya juga bisa diatur. Ruang kelas bersih dan nyaman," katanya.
Masih Ada Pekerjaan Rumah: Drainase dan Ruang Lain Belum Tuntas
Meski ruang kelas yang direvitalisasi sudah aman dari genangan, persoalan banjir belum sepenuhnya teratasi. Halaman sekolah masih becek saat hujan karena posisinya lebih rendah daripada jalan raya dan berdekatan dengan parit besar yang kerap meluap. Ruang guru, perpustakaan, serta kelas 4, 5, dan 6 belum termasuk dalam cakupan rehabilitasi dan masih membutuhkan perhatian.
"Kami masih memiliki lahan kosong dan berharap ada penambahan ruang kelas agar calon siswa tidak lagi dialihkan ke sekolah lain. Selain itu, pembenahan drainase dan pembangunan sumur bor juga sangat kami butuhkan agar sekolah benar-benar aman dari banjir," ungkapnya.
Negara Hadir Pulihkan Fasilitas Pendidikan Pascabencana
Rehabilitasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memulihkan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana di Sumatera. Melalui APBN revitalisasi, negara hadir memastikan anak-anak dapat kembali belajar di tempat yang lebih layak dan aman. Secara nasional, pemerintah telah merevitalisasi ribuan sekolah dengan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable, namun penanganan lanjutan tetap diperlukan di banyak titik.
Wali murid Chairina berharap perbaikan menyeluruh dilakukan ke depannya. "Anak saya senang dengan kelas barunya. Semoga kelas-kelas lainnya juga segera dibenahi dan sekolah tidak lagi kebanjiran," ucapnya.
Latar Belakang dan Renduk
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mengungkapkan, kegiatan belajar-mengajar telah kembali berjalan. Namun, ia menggarisbawahi masih ada 99 sekolah yang menggelar pembelajaran di kelas darurat karena membutuhkan relokasi.
Meski berbagai layanan mulai pulih, Tito mengingatkan bahwa hujan berintensitas tinggi masih memicu banjir dan longsor susulan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menambah pekerjaan pemerintah dalam memulihkan akses dan aktivitas masyarakat.
Karena itu, Tito meminta kementerian/lembaga yang telah memperoleh alokasi anggaran mempercepat pelaksanaan kegiatan sesuai target tahun ini. Ia menegaskan, kegiatan yang mencakup perbaikan sekolah, rumah, jalan, jembatan, serta fasilitas ekonomi masyarakat perlu terus dikerjakan agar manfaatnya segera dirasakan oleh warga terdampak.
"Harapan kami dengan koordinasi ini akan mempercepat semua proses dan teman-teman K/L semua bergerak dan juga bisa mendorong semua pemerintah daerah dengan anggaran masing-masing dan tambahan anggaran itu juga bisa bergerak dengan lebih cepat," tandasnya.
Terkait itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono menegaskan perlunya percepatan pada sejumlah titik yang belum selesai serta penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh unsur Satgas. Langkah ini diperlukan agar rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dituntaskan sesuai target dan kebutuhan masyarakat terdampak.
"Memang beberapa tempat harus kita lakukan akselerasi tetapi saya kira semua itu bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan yang kita harapkan," ujarnya.
Selain mempercepat pemulihan, Sugiono mengingatkan pentingnya memasukkan mitigasi bencana ke dalam perencanaan pembangunan. Perubahan iklim berpotensi memengaruhi pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia sehingga kesiapsiagaan perlu diperkuat untuk mengurangi risiko serta mempercepat penanganan apabila bencana kembali terjadi.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk merevitalisasi 4.922 fasilitas pendidikan yang terdampak bencana di wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Upaya pemulihan ini mengacu pada Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) dengan target penyelesaian dalam kurun waktu tiga tahun.
Kebijakan tersebut mencakup perbaikan sekolah, madrasah, pesantren, serta perguruan tinggi negeri dan keagamaan. Pemulihan juga diarahkan melalui penyediaan fasilitas dan peralatan pembelajaran, dukungan operasional pendidikan, serta bantuan bagi peserta didik, mahasiswa, guru, dan dosen yang terdampak bencana.
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda