Bupati Abdya Tantang Pejabat Jadi Ayah Asuh Anak Yatim, Wajib Santuni Setiap BulanBupati Abdya Tantang Pejabat Jadi Ayah Asuh Anak Yatim, Wajib Santuni Setiap Bulan

BLANGPIDIE (Waspada.id): Kepedulian terhadap anak yatim di Aceh Barat Daya (Abdya), tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial.
Bupati Abdya Dr. Safaruddin, meminta seluruh pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten setempat, mengambil peran langsung dengan menjadi “ayah asuh”, bagi sedikitnya satu anak yatim dan memberikan santunan secara rutin setiap bulan.
Seruan tersebut disampaikan Safaruddin di hadapan sekitar seribuan anak yatim, dalam kegiatan penyaluran santunan yang digelar Dinas Sosial Abdya, di halaman Masjid Agung Baitul Ghafur, Selasa (18/8).
Di hadapan Plt Sekda Abdya, para kepala SKPK, camat serta jajaran pejabat lainnya, Safaruddin menegaskan program tersebut harus menjadi gerakan kepedulian yang berkelanjutan, bukan sekadar muncul ketika momentum tertentu.
“Saya minta Plt Sekda dan kepala dinas, badan serta kantor, untuk melihat ke belakang, memilih satu orang anak yatim untuk dijadikan anak asuh,” kata Safaruddin.
Ia mengusulkan, besaran bantuan yang diberikan setiap pejabat berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per anak setiap bulan.
Menurutnya, nominal tersebut relatif kecil jika ditanggung secara pribadi, namun akan memiliki arti besar bagi anak yatim apabila diberikan secara konsisten. “Cukup Rp150 ribu sampai Rp200 ribu setiap orang setiap bulan. Yang penting dilakukan secara rutin,” ujarnya.
Safaruddin menyebutkan, sasaran program tidak harus berada jauh dari lingkungan tempat tinggal pejabat. Anak yatim yang dibantu dapat berasal dari lingkungan sekitar rumah, tempat kerja, maupun wilayah lain yang membutuhkan perhatian. “Boleh membantu anak yatim yang ada di sekitar rumah masing-masing atau di mana pun. Yang penting, setiap bulan ada satu anak yatim yang disantuni,” katanya.
Program tersebut diarahkan bagi pejabat eselon II dan III, mulai dari Plt Sekda, asisten, kepala dinas, kepala badan, camat, sekretaris hingga kepala bidang.
Safaruddin bahkan memberikan penekanan khusus, agar komitmen tersebut benar-benar diwujudkan. Ia tidak ingin gagasan kepedulian terhadap anak yatim berhenti sebagai instruksi, yang hanya ramai ketika disampaikan di hadapan publik. “Saya serius. Ini harus dijalankan, bukan hanya seremoni. Kalau ada pejabat yang tidak mau, silakan mundur dari jabatannya,” tegasnya.
Bagi Safaruddin, perhatian kepada anak yatim tidak semata-mata berkaitan dengan nilai bantuan. Yang lebih penting adalah memastikan mereka tidak merasa berjalan sendirian, dalam menghadapi kebutuhan hidup dan pendidikan.
Ia berharap para pejabat dapat menjadi contoh bagi masyarakat, dalam membangun budaya saling membantu, khususnya terhadap kelompok yang membutuhkan perhatian dan perlindungan.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Abdya melalui Dinas Sosial, pada 2026 menyalurkan bantuan kepada 1.604 anak yatim, yang tersebar di sembilan kecamatan.
Jumlah tersebut menunjukkan, besarnya kebutuhan terhadap dukungan sosial bagi anak-anak yatim di daerah tersebut. Karena itu, keterlibatan pemerintah dan pejabat secara berkelanjutan dinilai penting, agar kepedulian tidak hanya bergantung pada program bantuan pemerintah.
Dengan mendorong pejabat menjadi ayah asuh, Pemkab Abdya ingin membangun pola kepedulian yang lebih personal dan berkesinambungan. Satu pejabat membantu satu anak setiap bulan, sehingga bantuan tidak berhenti pada satu kali penyaluran, tetapi menjadi komitmen yang terus berjalan.(id82)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda