Bupati Safaruddin Gelontorkan Rp1,5 Miliar Kembangkan Kopi AbdyaBupati Safaruddin Gelontorkan Rp1,5 Miliar Kembangkan Kopi Abdya

BLANGPIDIE (Waspada.id): Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin, mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,5 miliar, untuk mempercepat pengembangan komoditas kopi di Kecamatan Tangan-Tangan dan Lembah Sabil.
Program yang dibiayai melalui Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) itu, menjadi langkah awal pemerintah daerah, membangun sentra ekonomi baru berbasis sektor perkebunan.
Komitmen tersebut disampaikan Safaruddin, saat membuka Workshop Pemasaran Kopi dan Pelatihan Menjadi Petani Kopi Muda Abdya, yang diselenggarakan MUSI di Jamboe Drien, Blangpidie, Minggu (19/7).
Menurut Safaruddin, pemerintah tidak ingin lagi sebatas menyalurkan bantuan bibit seperti program-program sebelumnya. Kali ini, pengembangan kopi akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit, pendampingan budidaya, pembangunan akses menuju sentra produksi, hingga memastikan hasil panen memiliki pasar yang jelas.
"Kita sedang menjalankan program pengembangan dua komoditas unggulan, yaitu kopi robusta dan nilam. Untuk kopi, kita siapkan anggaran sekitar Rp1,5 miliar, yang difokuskan di wilayah Tangan-Tangan dan Lembah Sabil," kata Safaruddin.
Ia menegaskan, keberhasilan sektor perkebunan, tidak cukup hanya mengandalkan bantuan bibit. Pemerintah harus memastikan seluruh rantai usaha berjalan, mulai dari hulu hingga hilir, agar mampu meningkatkan kesejahteraan petani. "Pemerintah tidak hanya memberikan bibit, tetapi juga mengupayakan akses jalan dan seluruh kebutuhan pendukungnya. Pengembangannya harus kita selesaikan dari hulu sampai hilir," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Abdya Hendri Yadi STP menjelaskan, anggaran tersebut dialokasikan untuk pengadaan bibit kopi, yang akan ditanam di lahan seluas sekitar 120 hektare.
Pengembangan tahap awal dipusatkan di Kecamatan Tangan-Tangan dan Lembah Sabil. Sementara perluasan ke kecamatan lain, seperti Blangpidie, Setia dan wilayah lainnya, direncanakan mulai tahun depan.
Menurut Hendri, pola tanam yang diterapkan menggunakan sistem parsial, yakni menanam kopi di sela-sela tanaman perkebunan yang sudah ada, seperti durian, jengkol dan tanaman pelindung lainnya. Metode tersebut dipilih karena keterbatasan hamparan lahan yang tersedia, sekaligus sesuai dengan kaidah budidaya tanaman kopi. "Setelah dilakukan identifikasi lapangan, hamparan lahan yang tersedia hanya sekitar 30 persen, sementara target pengembangan mencapai 120 hektare. Karena itu pola tanam parsial menjadi solusi," jelasnya.
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU), Dedy Darmansyah, menilai Abdya memiliki potensi besar menjadi daerah penghasil kopi robusta. Kondisi geografis wilayah dinilai lebih sesuai untuk robusta dibanding arabika yang membutuhkan dataran lebih tinggi.
Ia juga mendorong pemerintah mulai mengembangkan kopi liberika, yang memiliki prospek pasar menjanjikan. Menurutnya, jenis kopi tersebut mulai mendapat perhatian di pasar internasional dan berpotensi menjadi komoditas bernilai tambah bagi petani di Abdya.
Dengan dukungan anggaran, pendampingan, serta penguatan hilirisasi, Pemerintah Kabupaten Abdya berharap komoditas kopi dapat tumbuh menjadi sektor unggulan baru yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan petani.(id82)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda