Breaking News
Memuat breaking news...

CeDMA USU Bahas Integrasi Pendidikan Kebencanaan dalam Kurikulum Perguruan Tinggi

Redaksi
Redaksi
Jumat, 4 September 2026 - 2.51 PM WIB
CeDMA USU Bahas Integrasi Pendidikan Kebencanaan dalam Kurikulum Perguruan Tinggi
Centre of Disaster Mitigation and Adaptation (CeDMA) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar diskusi tentang kurikulum dan pendidikan kebencanaan di perguruan tinggi. Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id) — Centre of Disaster Mitigation and Adaptation (CeDMA) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar diskusi tentang kurikulum dan pendidikan kebencanaan di perguruan tinggi bersama akademisi dari University of Kitakyushu, Jepang, Senin (1/9/2026).

Diskusi bertajuk “Disaster Curriculum Management at Universities: Sharing and Exploring from Expert in University Kitakyushu, Japan” tersebut menghadirkan Assoc. Prof. Fumitoshi Murae, M.Ed., sebagai narasumber.

Kegiatan yang berlangsung di USU tersebut dihadiri jajaran pengurus CeDMA, di antaranya Zaid Perdana Nasution, S.T., M.T., Dr. rer. medic. dr. M. Ichwan, M.Sc., Sp.KKLP., Subsp.FOMC, Dr. Dra. Linda Elida, M.Si., Yasmine Anggia Sari, S.Si., M.T., Arliza Juairiani Lubis, M.Si., Psikolog, Farida Hanim, S.Sos., M.I.Kom, serta Mahnum Lailan Nasution, S.Kep., Ns., M.Kep.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi karena berada di kawasan Ring of Fire dan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif. Kondisi tersebut menjadikan kesiapsiagaan dan pendidikan kebencanaan sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

Sumatera Utara sendiri menghadapi beragam potensi bencana, mulai dari gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, kebakaran hutan dan lahan, hingga angin puting beliung. Berbagai ancaman tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga kehidupan sosial, ekonomi, dan keselamatan masyarakat.

Ketua CeDMA USU, Dr. Meutia Nauly, S.Psi., M.Si., Psikolog, mengatakan pendidikan kebencanaan perlu memberikan ruang bagi pemahaman bahwa manusia merupakan bagian utama dalam sistem penanggulangan bencana.

Menurutnya, dari perspektif psikologi klinis komunitas, bencana tidak hanya menimbulkan dampak terhadap kondisi fisik dan lingkungan, tetapi juga memberikan konsekuensi terhadap kehidupan psikologis dan sosial individu maupun komunitas.

“Pendidikan kebencanaan perlu mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, pengalaman lapangan, serta kemampuan bekerja bersama masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi muda yang akan menjadi tenaga profesional, pemimpin, dan bagian dari masyarakat. Karena itu, pendidikan kebencanaan perlu diterjemahkan secara komprehensif dalam kurikulum dan proses pembelajaran.

Berbagai aspek, seperti kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa, keterhubungan pembelajaran di kelas dengan pengalaman nyata di masyarakat, serta keterlibatan mahasiswa dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana menjadi hal penting untuk dikembangkan.

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga mempelajari pengalaman Jepang dalam membangun pendidikan kebencanaan di lingkungan perguruan tinggi.

Assoc. Prof. Fumitoshi Murae memaparkan berbagai bentuk kesiapsiagaan yang diterapkan di University of Kitakyushu. Jepang sendiri memiliki beragam ancaman bencana, termasuk gempa bumi, hujan lebat, banjir, tanah longsor, dan topan.

Menurutnya, kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan dilakukan melalui berbagai program, seperti penyediaan titik kumpul (assembly point), panduan evakuasi bagi mahasiswa, jalur evakuasi, serta pelatihan evakuasi secara berkala.

Selain itu, pendidikan kebencanaan juga dikembangkan melalui metode pembelajaran yang lebih aplikatif, seperti storytelling, simulasi atau role play, hingga pengenalan tas siaga bencana.

Di University of Kitakyushu, materi mengenai mitigasi dan pencegahan bencana juga diberikan melalui mata kuliah pilihan bertajuk Disaster Prevention in Communities dengan bobot dua satuan kredit semester (SKS).

Sementara itu, Ameilia dari CeDMA USU mengatakan agenda diskusi tersebut menjadi langkah awal untuk menginisiasi perumusan arah integrasi kurikulum kebencanaan yang komprehensif, aplikatif, dan relevan dengan karakteristik ancaman di Sumatera Utara maupun secara nasional.

“Pendidikan kebencanaan perlu mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, pengalaman lapangan, serta kemampuan bekerja bersama masyarakat,” katanya.

CeDMA USU berharap pengalaman Jepang tidak sekadar ditiru, tetapi dapat menjadi referensi dalam mengembangkan model pendidikan kebencanaan yang sesuai dengan karakteristik geografis, sosial, dan budaya Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, CeDMA USU juga menyampaikan apresiasi kepada Assoc. Prof. Fumitoshi Murae, M.Ed., atas kesediaannya berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai pengelolaan pendidikan kebencanaan di perguruan tinggi.

Diharapkan, diskusi ini dapat membuka perspektif baru dalam pengembangan pendidikan kebencanaan di perguruan tinggi Indonesia sekaligus memperkuat kerja sama akademik antara Indonesia dan Jepang. Wsp.id

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement