Cegah DBD dari Rumah, Poltekkes Kemenkes Medan Latih Warga Kuta Bangun Membuat OvitrapCegah DBD dari Rumah, Poltekkes Kemenkes Medan Latih Warga Kuta Bangun Membuat Ovitrap

KARO (Waspada.id): Upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak harus dimulai dari langkah yang rumit. Berbekal botol plastik bekas dan pengetahuan yang tepat, masyarakat dapat berperan aktif memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Hal itulah yang dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Medan melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) di Desa Kuta Bangun, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo, baru-baru ini.

Program yang dipimpin Samuel M. Halomoan Manalu, SKM, MKM, bersama Erba Kalto Manik, SKM, MSc dan TH. Teddy Bambang S., SKM, M.Kes, serta melibatkan mahasiswa ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat agar mampu mencegah DBD secara mandiri dan berkelanjutan.
Sebanyak 50 warga mengikuti kegiatan yang dikemas secara edukatif dan partisipatif. Peserta memperoleh pemahaman mengenai bahaya DBD, siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, serta pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.
Penyampaian materi dilakukan menggunakan leaflet dan video edukatif yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif serta praktik langsung sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah pelatihan pembuatan ovitrap, yakni perangkap sederhana untuk memantau keberadaan telur dan larva nyamuk. Dengan memanfaatkan botol plastik bekas dan bahan yang mudah ditemukan, warga diajarkan membuat ovitrap yang dapat ditempatkan di area lembap dan minim cahaya, lokasi yang kerap menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD.
Samuel M. Halomoan Manalu menyebutkan, selain praktik pembuatan ovitrap, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai cara pemasangan, pemeriksaan rutin, hingga penanganan telur atau larva yang ditemukan agar tidak berkembang menjadi nyamuk dewasa.
"Program ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan memperlihatkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan masyarakat. Sebelum pelatihan, hanya 36 persen atau 18 peserta yang memiliki pengetahuan kategori baik. Setelah mengikuti edukasi dan praktik, jumlah tersebut melonjak menjadi 92 persen atau 46 peserta. Rata-rata skor pengetahuan juga meningkat dari 65,3 persen menjadi 96,7 persen," ujarnya.
Perubahan positif juga terlihat pada sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan DBD. Sebelum kegiatan, hanya 34 persen peserta yang memiliki sikap kategori baik. Setelah pelatihan, angkanya meningkat drastis menjadi 98 persen atau 49 peserta.
"Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi edukasi melalui leaflet dan video yang dipadukan dengan praktik langsung terbukti efektif meningkatkan pemahaman sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif dalam pencegahan DBD," jelasnya.

Tim Poltekkes Kemenkes Medan berharap masyarakat Desa Kuta Bangun terus menerapkan gerakan PSN 3M Plus, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan dan memantau ovitrap secara berkala sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran DBD.
Keberlanjutan program ini juga membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Desa Kuta Bangun, kader Jumantik, Puskesmas Tiga Binanga, hingga seluruh masyarakat. Pemantauan jentik diharapkan dapat menjadi bagian dari kegiatan rutin desa, seperti Jumat Bersih, PKK, dan Posyandu.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat, upaya pencegahan DBD diharapkan semakin kuat sehingga mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat sekaligus membangun kemandirian masyarakat dalam mengendalikan penyakit berbasis lingkungan. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda