Cerita Situs Legenda Eluh Bru Tinambunen Dalam Berbagai Versi

Oleh Khairul Boangmanalu
MENYUSUL tulisan Situs Legenda Eluh Bru Tinambunen 'Tidur' di Musim Kemarau', Waspada.id, Minggu 21 Juni 2026, ditemukan sejumlah cerita kisahnya, baik melalui tulisan maupun youtube/video.
Situs legenda yang terletak di Dllng (gunung) Simpon, Desa Ulumerah, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Pakpak Bharat, berbatas langsung dengan Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) memuat kisah pilu yang dialami sang gadis cantik, bru Tinambunen.
Latar belakang penulis membuat tulisan ini merespon kabar jika eluh (air mata) Bru Tinambunen dalam kolam kecil yang dalam sejarahnya tak pernah kering, justru dikabarkan setahun terakhir kering, terkesan tidak dirawat.
Bersama dua warga bermarga Tinambunen, Batsim dan Syahril, putra asli suku Pakpak di Kota Subulussalam, Aceh, penulis turun ke situs legenda etnis Pakpak Suak Kelasen itu pertengahan, Juni lalu.
Meski kondisi jalan menuju lokasi mulus, namun sempit, tanjakan dan kelokan tajam cukup menantang.
"Airnya tak pernah kering walaupun sering diambil, diminum jadi obat," aku keduanya, berharap pemerintah setempat mengambil langkah pasti, memugar dan merawat situs yang pada sisi kanannya bertulis latin dan aksara Pakpak 'Situs Legenda Eluh Bru Tinambunen' agar kembali hidup sebagaimana sejarah awalnya.
Pertanyaan keprihatinan muncul saat berada di situs itu, kenapa kering dan masihkah bisa hidup kembali, lalu berharap respon pemerintah menyikapi kondisi ini.
Terlepas dari pertanyaan itu, ada sejumlah referensi mengisahkan Bru Tinambunen yang berbeda, dirangkum dalam tulisan ini.
Dikisahkan, sosok Bru Tinambunen (putri mbettar daroh/darah putih), warga Pakpak Suak Kelasen yang ramah, bersuara merdu dan sangat cantik yang hidup di zaman Kerajaan Pakpak.
Saat itu, seorang raja dari wilayah Simsim, si Berutu berkunjung ke Kelasen terpesona akan kecantikan sang gadis yang pandai bernyanyi dan bersuara merdu. Sampaikan niat ingin mempersunting, namun ditolak.
Kecewa lalu pulang ke desanya, si Berutu bertekad mendapatkan sang gadis dengan cara apapun.
Anak buah atau suruhan si Berutu diminta menggotong sang gadis saat tidur bersama tempat tidurnya untuk dibawa ke desa si Berutu.
Dalam perjalanan antara Kelasen dengan Dllng Simpon, rombongan istirahat, sang gadis terbangun dan sadar dirinya dibawa paksa suruhan raja.
Saat istirahat itu, sang gadis terus menangis, merenungi nasib dan semakin sedih hingga air mata tak henti. Tanpa sengaja sang gadis mengorek tanah yang membentuk lubang kecil, air matanya memenuhi lubang itu. Namun di tempat ini pula dikisahkan sang gadis hilang, suruhan raja gagal membawa sang gadis ke tujuan.
Cerita lain, sejarah di satu desa, Kecamatan Parlilitan sepasang suami istri memiliki gadis cantik menjadi idola. Banyak lelaki ditolak karena sang gadis mengaku telah menaruh hati kepada seorang pemuda miskin di desanya.
Suatu waktu, seorang kaya si Berutu menyampaikan hajatnya kepada sang gadis. Karena ditolak, si Berutu berinisiatif menemui ayah sang gadis dan menyampaikan hajatnya.
Meski semula menolak, sang ayah yang hobi berjudi dan banyak utang luluh karena ditawarkan hamparan tanah luas bersama beberapa ekor kerbau dan 24 bakul emas sebagai imbalan.
Masih ragu tawaran itu bisa meluluhkan hati sang gadis, sang ayah dan si Berutu sepakat untuk menggelar pesta besar tujuh hari tujuh malam di desa itu dan setiap hari si Berutu menyembelih seekor kerbau.
Si Berutu pun membuat perjanjian dengan sang gadis, bahwa sang gadis harus melayani para tamu, si Berutu menyediakan kebutuhan selama pesta, termasuk seekor kerbau setiap hari. Jika si gadis tak sanggup, harus bersedia dinikahi dan kalau si Berutu tak mampu, tak boleh menikahi si gadis.
Hari keenam pesta, sang gadis kelelahan lalu istirahat dan tertidur di rumah panggung bertiang kayu. Saat itu, si Berutu dan pengikutnya memotong tiang rumah tempat si gadis tidur digotong ke Ulumerah, rumah orang tua si Berutu.
Jelang dinihari, tepat di Dllng Simpon, sudah mendekati desa si Berutu, kaki seorang penggotong terantuk dan rumah yang digotong hampir jatuh.
Sang gadis terbangun dan sadar dibawa suruhan si Berutu, minta berhenti sejenak. Di tempat ini sang gadis menangis panjang meratapi nasibnya sambil menancapkan sepotong kayu ke tanah yang memenuhi air matanya.
Kepada si Berutu, si gadis akui telah menghianati paribannya, pemuda miskin yang ia cintai karena kejadian itu. Akibatnya, si gadis segera dibawa ke rumah orang tua si Berutu.
Disambut suka, sang gadis diajak masuk rumah orang tua si Berutu (tujuh tingkat), menaiki tangga demi tangga menuju tingkat tujuh.
Naas, saat tiba di tangga keenam, sang gadis terjatuh dan meninggal, meski telah diberikan pertolongan.
Kabar inipun sampai ke orang tua sang gadis, sehingga berencana menjemput jasad putrinya.
Untuk mengenang kisah ini, kolam kecil tempat eluh Bru Tinambunen dibangun di Dllng Simpon, sampai saat ini masih menyisakan cerita.
Versi lain, era gencar-gencarnya praktik perjudian di Suak Kelasen, terkenal dua pemain judi, si Berutu kaya dan si Tinambunen miskin.
Kemenangan tetap berpihak si Berutu. Si Tinambunen masih terlilit utang meski semua harta telah dikuras habis untuk bayar utang.
Hampir setiap hari si Berutu menagih utang si Tinambunen. Satu-satunya yang ada cuma sang gadis, Bru Tinambunen.
Meskipun dibujuk, sang gadis tetap menolak keras. Sang ayah tidak punya pilihan lain untuk membayar utang, kecuali sang gadis dijadikan istri si Berutu. Usia keduanya jauh berbeda juga menjadi persoalan bagi sang gadis.
Melalui pemaksaan, sang gadis dibawa menuju Ulumerah, Simsim. Perjalanan melelahkan, rombongan istirahat di atas Dllng Simpon, sang gadis terus menangis, tumpahan air matanya membentuk kolam kecil.
Rombongan akhirnya sampai juga di Ulumerah, mereka menikah.
Saat sudah hamil, sang putri tetap saja tidak rela menerima kondisi ini. Namun saat melahirkan, bersama anak dalam kandungannya, bru Tinambunen meninggal dunia.
Pemkab Pakpak Bharat Diyakini Mendukung Pelestarian Budaya
Menyimak sejumlah pemberitaan media lokal, Pemkab Pakpak Bharat diyakini sangat mendukung upaya pelestarian budaya Pakpak di daerah ini.
Bahkan, saat bersama dua marga Tinambunen dan penulis turun ke Situs legenda Eluh Bru Tinambunen, Juni lalu, Bupati Pakpak Bharat, Franc Bernhard Tumanggor turun dan meninjau lokasi itu.
Sumber setempat menyebut kalau Pemkab Pakpak Bharat berencana memugar situs legenda ini, tidak kecuali lokasi Wisata Pendakian Dllng Simpon, searea dengan situs tersebut.
Penulis Putra Uruk Gantung, Desa Tanjung Meriah, Kecamatan Sitellu Tali Urung Jehe, Pakpak Bharat.



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda