Daging Ayam Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Agustus

MEDAN (Waspada.id): Sumatera Utara (Sumut) diperkirakan masih menghadapi tekanan inflasi pada Agustus 2026. Secara bulanan atau month to month (mtm), inflasi Sumut diproyeksikan menembus lebih dari 0,41 persen.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga daging ayam ras yang melonjak sekitar 17 persen hingga 25 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Komoditas penyumbang inflasi terbesar datang dari daging ayam, yang mengalami kenaikan dalam rentang 17 persen hingga 25 persen secara bulanan,” kata Gunawan, Kamis (27/8).
Selain daging ayam, sejumlah komoditas pangan lainnya juga mengalami kenaikan harga. Harga cabai rawit tercatat naik sekitar 8-10 persen, cabai merah meningkat sekitar 1,6-11 persen, sementara harga beras relatif stabil meski cenderung naik hingga 1,8 persen.
Untuk bawang merah, pergerakan harga relatif beragam. Sebagian pedagang mencatat penurunan, sementara pedagang lainnya masih mengalami kenaikan. “Namun saya menilai bawang merah akan menyumbang deflasi di bulan Agustus,” ujarnya.
Tekanan harga juga terlihat pada sejumlah komoditas ikan segar. Harga ikan kembung naik sekitar 8,6 persen, tongkol sekitar 6 persen, ikan dencis 1,3 persen dan udang basah sekitar 5,7 persen.
Kenaikan juga terjadi pada harga emas yang mencapai sekitar 7 persen serta sejumlah komoditas sayuran, seperti kacang panjang dan kangkung.
Di luar komoditas pangan, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah material bangunan, di antaranya cat tembok, semen dan besi beton.
Meski demikian, terdapat sejumlah komoditas yang berpeluang memberikan tekanan deflasi. Selain bawang merah, harga bawang putih tercatat turun sekitar 15 persen, jeruk sekitar 13 persen, serta tomat dan wortel masing-masing sekitar 5 persen. Penurunan juga terjadi pada harga bayam dan sawi hijau.
Biaya Produksi Jadi Pemicu
Gunawan menilai tekanan inflasi Sumut pada Agustus tidak terlepas dari kenaikan biaya input produksi. Kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah turut memberikan tekanan terhadap biaya pakan, logistik, plastik, ayam bakalan atau grand parent stock hingga multivitamin.
Menurutnya, kenaikan biaya tersebut pada akhirnya tidak hanya berdampak pada harga komoditas pertanian, tetapi juga merembet ke berbagai produk olahan.
“Dampak dari tensi geopolitik yang memanas di wilayah Timur Tengah telah mendorong kenaikan biaya pakan, logistik, plastik, ayam bakalan hingga multivitamin,” jelasnya.
Kenaikan harga daging ayam bahkan berpotensi memberikan tekanan lebih luas karena ayam merupakan bahan baku berbagai jenis makanan yang dikonsumsi masyarakat.
Bukan hanya rumah tangga yang terdampak, usaha kuliner seperti rumah makan dan pelaku usaha makanan juga harus menghadapi kenaikan biaya produksi. Kondisi serupa berpotensi dirasakan pengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kenaikan harga daging ayam menjadi beban berat bagi usaha kuliner seperti rumah makan atau usaha kuliner pada umumnya, rumah tangga hingga pengelola dapur MBG,” kata Gunawan.
Ancaman Inflasi Hingga Akhir Tahun
Gunawan memperkirakan tekanan inflasi di Sumut belum sepenuhnya berakhir. Bahkan, laju kenaikan harga masih berpotensi berlanjut hingga penghujung 2026.
Salah satu risiko terbesar ke depan adalah faktor cuaca. Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah di luar Sumut akibat fenomena El Nino dinilai dapat mengganggu produksi pangan dan pasokan antardaerah.
Di beberapa wilayah Indonesia, kondisi cuaca ekstrem bahkan telah meningkatkan risiko kebakaran hutan.
“Faktor cuaca menjadi ancaman utama potensi lonjakan inflasi ke depan. Mengingat sejumlah wilayah di luar Sumut mengalami kekeringan hebat akibat El Nino,” ujarnya.
Menurut Gunawan, meskipun Sumut relatif aman dari ancaman kekeringan, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat daerah ini terbebas dari tekanan harga. Ketergantungan terhadap pasokan dari berbagai daerah membuat gangguan produksi di luar Sumut tetap dapat memengaruhi harga pangan di wilayah ini.
“Sumut masih sulit untuk mengelak dari tekanan inflasi, meskipun wilayah ini relatif aman dari ancaman kekeringan,” pungkasnya. (id09)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda