Dampak Banjir Deliserdang Tahun 2026 Turun 94 Persen, Normalisasi Sungai Capai 95.985 Meter


LUBUKPAKAM (Waspada.id): Dampak bencana banjir di Kabupaten Deliserdang pada 2026 menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan kejadian banjir pada November 2025. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Deliserdang, jumlah masyarakat terdampak banjir pada 29 Oktober 2026 tercatat sebanyak 19.067 jiwa, jauh menurun dibandingkan pada 27 November 2025, sebanyak 330.273 jiwa.
Penurunan tersebut mencapai sekitar 94,2 persen. Tidak hanya jumlah masyarakat terdampak, cakupan wilayah banjir, jumlah rumah terdampak, hingga durasi dan ketinggian genangan juga mengalami penurunan cukup drastis.
"Penurunan dampak banjir tersebut menjadi gambaran positif dari berbagai upaya penanganan dan pencegahan bencana yang terus dilakukan pemerintah daerah bersama masyarakat," kata Kalaksa BPBD Deliserdang, H. Mukti Ali Harahap, Jumat (30/10/26) sore.
Menurutnya, penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi harus dibarengi langkah pencegahan, pemeliharaan lingkungan, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
"Alhamdulillah, berdasarkan data perbandingan kejadian banjir tahun 2025 dan 2026, kita melihat adanya penurunan dampak yang cukup signifikan. Ini tentu menjadi hal yang patut kita syukuri. Namun, capaian ini bukan alasan untuk berpuas diri. Kita harus terus meningkatkan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan karena potensi bencana banjir masih bisa terjadi," papar Mukti.
Berdasarkan data BPBD, kejadian banjir pada 27 November 2025, genangan berlangsung kurang lebih selama 14 hari dengan ketinggian air mencapai sekitar 3 meter. Sementara pada kejadian 29 Oktober 2026, genangan tercatat berlangsung sekitar satu hari dengan ketinggian air berkisar 70 sentimeter.
Dari sisi cakupan wilayah, banjir pada November 2025 melanda 19 kecamatan dan 197 desa, dengan 81.266 rumah terdampak, 100.176 kepala keluarga (KK), serta 330.273 jiwa.
Sedangkan pada kejadian banjir Oktober 2026, dampaknya tercatat meliputi 8 kecamatan dan 16 desa, dengan 5.403 rumah, 4.514 KK, serta 19.067 jiwa terdampak.
Mukti menjelaskan, salah satu langkah konkret yang telah dilakukan Pemka Deliserdang dalam mengurangi risiko banjir adalah normalisasi sungai dengan total panjang mencapai 95.985 meter.
"Normalisasi sungai merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengurangi risiko luapan air ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi," jelasnya.
Selain normalisasi sungai, Pemkab Deliserdang juga melakukan pengerukan bendungan di wilayah Medan Krio sebagai upaya meningkatkan kapasitas tampung air dan memperlancar aliran.
Upaya lainnya dilakukan melalui program gotong royong GASPEDALSUSUDELI yang melibatkan masyarakat. Melalui program tersebut, kegiatan penanganan dan pembersihan saluran telah mencapai 7.200 meter.
Menurut Mukti, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan upaya pencegahan banjir. Kesadaran menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah sembarangan, serta bergotong royong membersihkan saluran air harus terus dibangun.
"Kami berharap masyarakat tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam penanganan banjir. Perlu kesadaran dan keterlibatan bersama untuk menjaga sungai, drainase, serta lingkungan sekitar," ungkapnya.
Di sisi lain, keberadaan Bendungan Lau Simeme juga menjadi salah satu infrastruktur pendukung pengendalian banjir. Bendungan tersebut memiliki fungsi menampung dan mengatur aliran air, sehingga dapat membantu mengurangi risiko banjir di wilayah yang dipengaruhinya.
"Meksi demikian, kita tidak boleh lengah. Kesiapsiagaan harus tetap menjadi prioritas. BPBD akan terus mendorong koordinasi dengan seluruh pihak, mulai dari pemerintah kecamatan, desa, hingga masyarakat, agar langkah antisipasi dan penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat dan tepat," tegasnya.(id.28)
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda