Breaking News
Memuat breaking news...

Dampak Kerusakan Ekosistem Hutan, Desa Sekoci Kerap Menjadi Langganan Banjir

Redaksi
Redaksi
Senin, 20 Juli 2026 - 8.50 PM WIB
Dampak Kerusakan Ekosistem Hutan, Desa Sekoci Kerap Menjadi Langganan Banjir
BANJIR yang melanda Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, sudah surut. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

LANGKAT (Waspada.id): Permukiman warga di Dusun Pantai Pulo dan Dusun Sidodadi, Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Senin (20/7) pagi, terendam banjir akibat meluapnya air dari Sungai Besitang.

Ketinggian air yang merendam jalanan desa dan rumah permukiman warga bervariasi. Meski pun arus air dari hulu Sungai Besitang pada sore harinya tampak masih mengalir deras menuju hulu, tapi debit air sudah turun.

"Debit air sudah turun sekitar satu meter. Luapan air di jalan dan permukiman warga sudah mulai kering," ujar Kades Sekoci, Gunawan, saat dihubungi waspada.id lewat panggilan WhatsApp, Senin malam.

Meski kondisi air sudah surut, tapi Kades tetap mengimbau kepada masyarakatnya agar tetap meningkatkan kewaspadaan dan jangan terlalu nyenyak tidur mengingat cuaca di hulu sungai diselimuti mendung bisa saja hujan turun kembali.

Paling Parah

Pada saat terjadi musibah bencana banjir bandang pada akhir tahun 2025 lalu, Desa Sekoci termasuk salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir dibanding sejumlah daerah lain di Kabupaten Langkat.

Ketinggian air ketika itu mencapai empat meter. Cukup banyak rumah warga di desa itu yang rusak berat dan hanyut diterjang arus banjir. Bahkan seorang warga tewas terseret arus banjir saat berusaha menyelamatkan diri.

Warga di desa ini cukup rentan terkena banjir karena kondisi Sungai Besitang yang sudah semakin dangkal pasca banjir bandang tahun 2006 silam. Pendangkalan sungai diperparah dengan terulangnya kembali bencana banjir bandang tahun 2025.

Kerusakan Ekologis

Bencana banjir besar yang meluluhlantakan sejumlah daerah di wilayah Langkat, Sumut, termasuk provinsi Aceh terjadi ekses dari perbuatan tangan-tangan manusia yang terus mengeksploitasi hutan secara besar-besaran.

Aksi eksploitasi, baik illegal logging maupun perambahan menyebabkan terjadinya degradasi kawasan hutan, salah satunya kawasan hutan hujan tropis dataran rendah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Seorang sumber di Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDAE), kepada waspada.id, beberapa waktu lalu, mengatakan kerusakan kawasan hutan TNGL, khususnya di Langkat mencapai puluhan ribu hektare.

Kerusakan ekosistem hutan ini dipicu aksi illegal logging, termasuk masifnya aksi perambahan. Hutan yang harusnya menjadi benteng untuk mencegah terjadi bencana, kini menjadi hamparan kebunan kelapa sawit.

Belum lama ini, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH), turun ke TNGL melakukan upaya penertiban tanaman ilegal, baik di Langkat, maupun di wilayah Aceh Tamiang. Petugas memusnahkan tanaman pohon kelapa sawit.

Deforestasi

Tingginya laju deforestasi tidak sebanding dengan upaya rehabilitasi yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Kemenhut. Hutan yang dieksploitasi terus semakin meluas, jauh mengalahkan upaya restorasi yang dilakukan.

Menurut catatan, pada tahun 2008, pihak TNGL pernah melakukan rehabilitasi hutan di kawasan Resort Sekoci yang secara geografis berbatasan dengan Desa PIR ADB, Kecamatan Besitang, seluas kurang lebih 2.000 hektare dengan anggaran mencapai miliar rupiah.

Kawasan hutan ini sebelumnya dirambah dan ditanami pohon kelapa sawit. Namun, pihak TNGL melakukan okupasi tanaman kelapa sawit ilegal tersebut, kemudian mereforestasi berbagai jenis pohon dengan tujuan untuk menghutankan kembali taman nasional ini.

Akan tetapi, upaya reforestasi yang menelan anggaran cukup besar tersebut gagal total karena kawasan ini kembali dikuasi oleh perambah. Hutan hujan tropis dataran rendah terluas ketiga di dunia ini kembali ditanami komplotan perambah dengan kelapa sawit.

Eskalasi perambahan kian meluas di berbagai blok hutan di Besitang, Sei. Lepan, Bahorok, dan wilayah Aceh Tamiang. Kondisi ini menyebabkan kawasan hutan ini kehilangan penyangga dan resapan air. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi, air tidak bisa terserap ke tanah dan akhirnya meluap ke permukiman.

RUAS jalan di Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, yang sempat terendam banjir sudah dapat dilalui. Waspada.id/Ist

Ekses banjir tidak hanya meluluhlantakan segala harta benda, tapi cukup banyak warga yang harus kehilangan nyawa orang terkasih.

Peristiwa banjir besar yang terjadi di Langkat, Sumut, dan Aceh, harusnya menjadi refleksi bagi elite ibu kota pembuat kebijakan.

Tidak ada pilihan lain, untuk menyelamatkan kawasan hutan hukum harus benar-benar ditegakkan secara konsisten. Peristiwa banjir besar yang sudah dua kali terjadi, yakni tahun 2006 dan 2025 menimbulkan efek kerugian luar biasa besar.

Untuk mencegah banjir, warga mendesak pemerintah agar membuat political will yang jelas dan tegas, salah satunya hukum harus benar-benar ditegakkan. Siapa saja yang terlibat dalam aksi perusakan hutan harus ditindak tegas dan jangan ada tebang pilih.(id24)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement