Danantara Siapkan Suntikan Modal ke INKA, Produksi KRL Digenjot

JAKARTA (Waspada.id): Danantara tengah mengkaji suntikan modal untuk PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA guna memperkuat kondisi keuangan sekaligus menopang produksi sarana perkeretaapian yang dibutuhkan Indonesia.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan, INKA saat ini menghadapi persoalan keuangan yang cukup berat. Salah satunya kondisi ekuitas negatif dan beban pinjaman yang dinilai tidak berkelanjutan.
Karena itu, pembenahan kondisi keuangan menjadi bagian dari proses transformasi INKA yang tengah dilakukan Danantara.
"INKA itu sekarang posisinya sudah saya sampaikan bahwa equity-nya negatif, kemudian ada unsustainable loan-nya. Makanya ini bagian dari proses transformasi yang juga harus kita lakukan. Bagian dari proses itu nanti akan kita lihat," ujar Dony di Tribrata Hotel, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Danantara Buka Opsi Tambah Modal
Dony mengatakan Danantara membuka kemungkinan memberikan tambahan ekuitas kepada INKA apabila kebutuhan modal tersebut diperlukan untuk mendukung proses transformasi perusahaan.
Salah satu pertimbangannya adalah adanya kepastian penyerapan produk INKA oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
"Kalau mereka membutuhkan equity tambahan, kita akan lakukan proses penambahan equity karena offtake-nya jelas, kan? Pabrik yang produksinya mereka buat akan di-offtake oleh Kereta Api, dan bagi Kereta Api ini bagian dari roadmap transportasi publik kita," tuturnya.
Meski demikian, besaran suntikan modal belum ditentukan. Danantara masih melakukan penghitungan terhadap kebutuhan INKA serta skema penambahan ekuitas yang diperlukan.
"Jadi ini tidak bisa dilihat satu per satu. Ada possibility yang sedang kita kaji, berapa kemungkinan kita harus inject equity kepada INKA," imbuh Dony.
Kapasitas Produksi INKA Jadi Perhatian
Kebutuhan tambahan modal tersebut juga tidak terlepas dari kebutuhan sarana kereta api, khususnya rangkaian kereta rel listrik (KRL).
Sebelumnya, Dony mengungkapkan bahwa pemerintah mempertimbangkan sejumlah alternatif untuk memenuhi kebutuhan KRL di Indonesia. Pilihannya mencakup produksi lokal melalui INKA, impor KRL baru dari produsen luar negeri, hingga mendatangkan KRL bukan baru dari luar negeri.
"Betul (perlu produksi lokal). Makanya proses transformasi INKA ini kan sedang berjalan, ya. Tapi kapasitas produksi mereka kan juga sangat terbatas. Jadi ada pilihan-pilihan yang harus kita buat," kata Dony.
Menurut Dony, kapasitas produksi lokal menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan pemenuhan kebutuhan armada KRL.
Elektrifikasi Jalur Tambah Kebutuhan KRL
Kebutuhan armada KRL juga diperkirakan meningkat seiring rencana elektrifikasi sejumlah jalur kereta api.
Selain kebutuhan pada lintas eksisting di Jabodetabek, terdapat rencana elektrifikasi pada jalur Jakarta–Cikampek, Jakarta–Sukabumi, dan Jakarta–Merak.
Elektrifikasi jalur tersebut akan meningkatkan kebutuhan terhadap tambahan armada KRL.
Namun, Danantara masih harus menyeimbangkan kebutuhan armada dengan kemampuan produksi INKA sebelum menentukan alternatif pemenuhannya.
"Nah, kita balance-kan antara kebutuhannya dengan kapasitas produksi INKA. Sisanya, itu yang akan kita cari alternatifnya," ujar dia.
Bahas KRL Bekas Jepang dengan Menhub
Salah satu opsi yang sebelumnya dipertimbangkan adalah mendatangkan rangkaian KRL bekas dari Jepang.
Dony mengatakan pembahasan mengenai opsi tersebut akan dilakukan bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, terutama untuk memastikan kebutuhan operasional KRL di Jabodetabek.
"Hari ini harusnya saya ada pertemuan dengan Pak Menhub untuk berdiskusi," ungkap Dony. (Lip6)

















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda