Breaking News
Memuat breaking news...

Dandim Abdya: Mencegah Api Jauh Lebih Penting daripada Memadamkannya

Redaksi
Redaksi
Kamis, 27 Agustus 2026 - 2.29 PM WIB
Dandim Abdya: Mencegah Api Jauh Lebih Penting daripada Memadamkannya
Dandim Abdya Letkol Inf Rana Mega Al-Amin. Kamis (27/8).Waspada.id/Syafrizal
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

BLANGPIDIE (Waspada.id): Mencegah munculnya api, jauh lebih penting daripada berjibaku memadamkannya, setelah kebakaran meluas.

Prinsip itu menjadi penekanan Dandim 0110/Aceh Barat Daya (Abdya), Letkol Inf Rana Mega Al-Amin, dalam mengajak masyarakat bersama-sama mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepada awak media Kamis (27/8), Dandim Rana mengingatkan, karhutla tidak semestinya dipandang sebagai persoalan yang baru ditangani, ketika api sudah membesar.

Pencegahan sejak dini, terutama menghindari sumber api di lahan kering, merupakan langkah paling efektif, untuk menekan risiko bencana.

“Mencegah api jauh lebih penting daripada memadamkannya. Ketika api sudah membesar, yang kita hadapi bukan lagi sekadar titik api, tetapi bisa menjadi bencana yang mengancam lingkungan dan masyarakat,” kata Dandim Rana.

Ia meminta masyarakat, tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Dalam kondisi lahan yang kering, api dapat dengan cepat merambat dan sulit dikendalikan, terlebih ketika dipengaruhi angin.

Rana mengingatkan, persoalan karhutla sering kali berawal dari hal yang dianggap sederhana. Puntung rokok yang dibuang sembarangan, api unggun yang tidak dipastikan padam, hingga pembakaran sampah maupun lahan, dapat menjadi sumber persoalan apabila tidak diawasi. “Jangan menganggap api kecil selalu mudah dikendalikan. Api memiliki sifat yang tidak bisa sepenuhnya kita prediksi, terutama ketika berhadapan dengan lahan kering dan angin. Karena itu, jangan memberi kesempatan kepada api untuk berkembang,” ujarnya.

Lebih jauh, Rana menilai keberhasilan mitigasi karhutla, sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. Aparat memiliki peran penting dalam penanganan, tetapi masyarakat merupakan mata dan telinga pertama, yang berada di lapangan. “Mitigasi bukan hanya pekerjaan aparat. Masyarakat memiliki posisi yang sangat strategis, karena merekalah yang paling awal melihat kondisi lingkungan di sekitarnya. Kepedulian satu orang, bisa mencegah kerugian yang dialami banyak orang,” katanya.

Ia mengajak warga yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan, perkebunan maupun lahan terbuka, untuk meningkatkan pengawasan. Bila menemukan asap, titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, warga diminta segera melapor kepada aparat terkait. “Jangan menunggu api membesar baru kita bergerak. Ketika masih berupa asap atau titik api, itulah waktu terbaik untuk bertindak,” tegasnya.

Menurut Rana, pencegahan karhutla bukan hanya menyangkut upaya menyelamatkan hutan dan lahan. Dampaknya berkaitan langsung dengan ruang hidup, kesehatan lingkungan, aktivitas ekonomi dan keselamatan masyarakat.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, membangun budaya sadar api, menggunakan api secara bertanggung jawab dan tidak mengambil risiko yang dapat merugikan banyak pihak. “Menjaga lingkungan bukan tanggung jawab satu institusi. Ini tanggung jawab bersama. Kalau kita bisa mencegah satu api hari ini, berarti kita telah mencegah kemungkinan terjadinya bencana yang lebih besar esok hari,” pungkasnya.(id82)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement