Dari Geumpang, Amat Tong Menyulam Cahaya KemerdekaanDari Geumpang, Amat Tong Menyulam Cahaya Kemerdekaan

Dulu, Aceh pernah mengenal suara senjata dan perpisahan. Kini, di Geumpang, Kabupaten Pidie, suara rapai justru menjadi penanda kebersamaan.
Dentuman rapai, riuh anak-anak dalam karnaval, lengkingan suara pelajar dalam lomba seni, hingga sorak penonton di lapangan sepak bola mewarnai perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Geumpang.
Di tengah suasana itu hadir Muhammad Yusri Syamaun, yang akrab disapa Amat Tong, sosok yang dikenal sebagai eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Perjalanan hidupnya menjadi bagian dari perjalanan panjang Aceh, dari masa konflik menuju kehidupan dalam suasana damai.
Kini, ruang perjuangan telah berubah. Bukan lagi tentang pertentangan, melainkan bagaimana masyarakat menjaga persaudaraan, memperkuat persatuan dan mengisi perdamaian dengan kegiatan yang bermanfaat.
Bagi Amat Tong, tanah kelahirannya, Geumpang, bukan sekadar tempat untuk pulang. Di tempat inilah sebagian perjalanan hidupnya berakar, sekaligus tempat ia melihat perubahan Aceh dari masa konflik menuju masa damai.
Perayaan HUT ke-81 RI di Geumpang tahun ini menjadi salah satu gambaran perubahan tersebut. Berbagai kegiatan digelar dan melibatkan masyarakat dari berbagai unsur, mulai dari kegiatan keagamaan, olahraga, seni budaya hingga karnaval pelajar.
Mukim Bangkeh, Geumpang, Tgk Samsuar M. Jamil, menyebut perayaan HUT RI tahun ini sebagai salah satu yang paling meriah selama masa damai.
“Selama damai ini paling meriah. Masyarakat sangat antusias dan semua unsur ikut terlibat,” ujar Tgk Samsuar M. Jamil.
Dari MTQ hingga lapangan sepak bola
Rangkaian kegiatan diisi dengan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kecamatan Geumpang yang dilaksanakan di Gampong Keune.
MTQ menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Semangat kompetisi kemudian berlanjut melalui Turnamen Bola Kaki Semi Open yang dipusatkan di Lapangan Aleu Sane, Gampong Leupue.
Turnamen tersebut mendapat sambutan antusias masyarakat. Pertandingan berlangsung kompetitif, namun tetap dalam semangat sportivitas dan persaudaraan. Partai final turnamen dijadwalkan berlangsung hari ini dan menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu masyarakat.
Lapangan sepak bola bukan sekadar tempat bertanding. Di sana anak-anak muda dari berbagai gampong bertemu, berkompetisi dan belajar bahwa kemenangan tidak boleh menghilangkan persaudaraan.
Karnaval semarakkan Geumpang
Kemeriahan semakin terasa ketika peserta karnaval HUT RI turun ke jalan.
Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK/PAUD, SD, SMP hingga SMA. Mereka tampil dengan beragam kreativitas, termasuk pertunjukan drumband yang membuat suasana semakin semarak.
Ada pula lomba pakaian adat dan profesi, serta penampilan yang menggambarkan sosok para pejuang di bawah komando Koramil 17/Geumpang.
Bagi generasi muda, karnaval bukan sekadar perlombaan. Ia menjadi cara sederhana untuk mengenalkan sejarah, budaya dan nilai perjuangan kepada anak-anak sejak dini.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan lomba tarian pelajar tingkat TK, SD, SMP dan SMA.
Anak-anak tampil dengan penuh percaya diri. Gerak tari dan kreativitas mereka menjadi gambaran bahwa masa depan daerah tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui pelestarian budaya dan pembentukan karakter generasi muda.
Ketika rapai menyatukan tiga wilayah
Malam hari menjadi salah satu puncak kemeriahan.
Masyarakat disuguhi hiburan rakyat Rapai Daboh, melalui kolaborasi kelompok seni dari Geumpang, Mane dan Pameue.
Dentuman rapai terdengar di tengah kerumunan masyarakat. Tidak ada sekat antarwilayah. Para seniman datang membawa kesenian, sementara masyarakat datang membawa semangat kebersamaan.
Rapai malam itu seolah menjadi simbol perjalanan Aceh.
Dulu, masyarakat pernah hidup dalam suasana yang penuh ketegangan. Kini, kesenian tradisional menjadi ruang perjumpaan, tempat masyarakat berkumpul, bersilaturahmi dan merayakan kemerdekaan bersama.
Panitia juga membagikan kaus HUT ke-81 RI kepada peserta seni rapai sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan terhadap keberlangsungan seni budaya masyarakat.
Gotong royong berbagai unsur
Seluruh rangkaian kegiatan merupakan hasil kerja sama Koperasi Tambang Geumpang Bersatu dengan Muspika Plus, Forum Keuchik dan Imum Mukim Geumpang.
Sejumlah unsur pemerintahan dan keamanan turut hadir, di antaranya Kapolsek Geumpang AKP Asnawi, Camat Geumpang Mahdi, ST, serta Danramil Geumpang Kapten Kav. Dian Prayatna.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan di Geumpang dibangun melalui semangat gotong royong.
Pemerintah, tokoh masyarakat, aparat keamanan, pemuda, pelajar, seniman dan masyarakat menyatu dalam satu perayaan.
Bagi Mukim Bangkeh, Tgk Samsuar M. Jamil, perjalanan Amat Tong juga layak dilihat dalam konteks perjalanan masyarakat Aceh setelah konflik.
Menurutnya, seseorang tidak seharusnya terus-menerus dinilai dari masa lalunya. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman hidup digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat pada masa sekarang.
“Kita semua punya sejarah. Ada yang melewati masa sulit, ada yang mengalami pahitnya konflik. Tetapi setelah damai, yang paling penting adalah bagaimana kita mengisi perdamaian itu,” kata Tgk Samsuar.
Ia menilai Amat Tong kini telah memilih ruang pengabdian yang berbeda, terutama melalui kegiatan olahraga, sosial dan kemasyarakatan.
“Amat Tong sekarang kita lihat bukan lagi dalam suasana masa lalu. Dia hadir bersama masyarakat, mendukung olahraga, kegiatan seni dan kegiatan sosial. Bagi kami, itu adalah bentuk lain dari perjuangan, perjuangan untuk membangun masyarakat,” ujarnya.
Tgk Samsuar mengibaratkan perjalanan tersebut seperti air sungai yang telah melewati batu-batu terjal. Arusnya mungkin pernah deras dan penuh rintangan, tetapi pada akhirnya air tetap mencari jalan untuk memberikan kehidupan di sepanjang alirannya.
“Masa lalu adalah batu yang sudah kita lewati. Jangan kita jadikan batu itu untuk saling melempar. Jadikan ia pijakan agar kita bisa melangkah lebih jauh,” katanya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Amat Tong terhadap kegiatan HUT ke-81 RI di Geumpang.
Menurutnya, dukungan terhadap kegiatan masyarakat, terutama yang melibatkan anak-anak dan generasi muda, merupakan investasi sosial yang manfaatnya tidak selalu dapat dilihat hari ini.
“Anak-anak yang hari ini ikut MTQ, menari, bermain bola dan ikut karnaval, merekalah yang akan membawa Geumpang ke depan. Kalau mereka tumbuh dalam persaudaraan, kita sudah mewariskan sesuatu yang sangat berharga,” ujar Tgk Samsuar.
Ia berharap para tokoh masyarakat, pengusaha dan generasi muda terus bergandengan tangan menjaga suasana damai yang telah dirasakan masyarakat Aceh.
“Kita tidak boleh membiarkan perdamaian hanya menjadi cerita. Perdamaian harus terlihat dalam kehidupan kita—dalam cara kita bersaudara, dalam cara kita membantu sesama dan dalam cara kita membangun daerah,” katanya.
Dari masa konflik menuju pengabdian
Di tengah kemeriahan perayaan kemeriahan itu, perjalanan Amat Tong sebagai eks kombatan GAM memberikan perspektif tersendiri.
Ia pernah melewati masa ketika Aceh berada dalam konflik. Namun setelah perdamaian hadir, kehidupannya bergerak ke arah yang berbeda.
Kini Amat Tong dikenal sebagai pengusaha, tokoh masyarakat dan Ketua Umum PSAP Sigli periode 2025–2029. Dunia olahraga, kegiatan sosial dan kemasyarakatan menjadi bagian dari aktivitasnya di masa damai.
Bagi Amat Tong, perjalanan Aceh tidak seharusnya berhenti pada ingatan tentang masa lalu. Setiap generasi memiliki cara sendiri untuk meneruskan perjuangan.
Ia mengibaratkan Aceh seperti sebatang pohon yang pernah diterpa badai. Batangnya mungkin menyimpan bekas luka, sebagian dahannya pernah patah, tetapi selama akarnya tetap kuat, pohon itu akan kembali tumbuh dan memberi teduh bagi siapa saja.
Karena itu, masa lalu harus dihormati sebagai sejarah, sementara masa depan harus dibangun dengan persaudaraan.
Perjuangan masa lalu, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk mewariskan perpecahan kepada generasi berikutnya. Pengalaman pahit harus menjadi pelajaran agar anak-anak Aceh dapat tumbuh dalam suasana damai, saling menghargai dan memiliki kesempatan meraih masa depan.
Perdamaian bukan garis akhir sebuah perjuangan, melainkan awal dari perjuangan yang baru.
Jika dahulu tenaga dan keberanian digunakan untuk menghadapi keadaan yang keras, maka di masa damai energi yang sama harus diarahkan untuk membangun masyarakat, mendidik generasi muda, menghidupkan olahraga, menjaga budaya dan membantu sesama.
Ia juga mengibaratkan persaudaraan seperti anyaman tikar. Satu helai lidi tidak akan cukup kuat untuk menjadi tempat berpijak. Namun ketika helai-helai itu dirajut dan saling menguatkan, terbentuk sesuatu yang mampu menopang banyak orang.
Begitu pula masyarakat. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru perbedaan harus dirajut menjadi kekuatan.
Dalam konteks HUT ke-81 RI di Geumpang, kegiatan MTQ, olahraga, karnaval, tarian dan Rapai Daboh bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat ruang untuk mempertemukan masyarakat, mendidik generasi muda dan memperkuat rasa memiliki terhadap daerah.

“Perjuangan kita hari ini bukan lagi tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu menjaga persaudaraan. Karena senjata bisa memenangkan sebuah pertempuran, tetapi hanya persaudaraan yang mampu memenangkan masa depan,” demikian pesan yang menggambarkan pandangan Amat Tong tentang perjalanan dari konflik menuju perdamaian.
Ia berharap generasi muda Aceh tidak mewarisi luka dari masa lalu, tetapi mewarisi hikmah dari sejarah.
“Jangan wariskan bara kepada anak cucu. Wariskanlah cahaya. Jangan ajarkan mereka untuk saling mencari perbedaan, tetapi ajarkan mereka untuk menemukan persamaan. Sebab Aceh akan kuat bukan karena kita semua sama, melainkan karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan.”
Perdamaian harus terus dirawat
Bagi Amat Tong, masa damai adalah amanah. Dan amanah itu harus dijaga bersama.
Sebab, perdamaian yang tidak diisi dengan pembangunan akan menjadi sunyi, sementara pembangunan tanpa persaudaraan akan kehilangan ruhnya.
Karena itu, kegiatan masyarakat seperti yang berlangsung di Geumpang menjadi bagian dari perjuangan yang lebih besar: menjaga agar generasi yang lahir setelah konflik dapat mengenal Aceh bukan dari suara senjata, melainkan dari suara rapai, lantunan ayat suci, sorak olahraga, tarian anak-anak dan tawa masyarakat yang hidup dalam persaudaraan.
Perayaan HUT ke-81 RI di Geumpang akhirnya bukan hanya tentang perlombaan dan hiburan.
Ia adalah pengingat bahwa perjalanan panjang Aceh telah membawa masyarakat ke sebuah ruang baru—ruang untuk hidup bersama, membangun daerah dan menjaga perdamaian.
Dari Geumpang, Amat Tong seolah menyulam cahaya kemerdekaan melalui cara yang berbeda: menghidupkan kebersamaan, mendukung generasi muda dan merawat persaudaraan.
Dari suara senjata di masa lalu, kini yang terdengar adalah suara rapai.
Bukan lagi suara yang memisahkan, tetapi suara yang mengumpulkan orang-orang untuk duduk bersama sebagai saudara.
Dan dari Geumpang, Pidie pesan itu mengalir sederhana: persaudaraan harus dijaga, persatuan harus dirawat, dan perdamaian harus diisi dengan karya untuk generasi yang akan datang. WASPADA.id
Muhammad Riza


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda