Dari Kamera Belasan Kilo ke Smartphone: Evolusi Liputan Televisi di Indonesia

BANDA ACEH (Waspada.id): Pada suatu hari belasan tahun lalu, telepon Jamalul Insan berdering ketika ia sedang menikmati hari libur di rumah. Di seberang sana, atasannya mempertanyakan sebuah liputan di daerah yang dianggap tidak dikerjakan dengan baik.
Keluhan itu datang dari seorang narasumber yang merasa tidak benar-benar diliput oleh televisi nasional. Padahal, kontributor yang bertugas telah melakukan wawancara dan mengirimkan materi berita ke redaksi.
Masalahnya ternyata bukan pada isi liputan, melainkan peralatan yang digunakan wartawan.
Kontributor tersebut datang hanya dengan kamera berukuran kecil.
"Narasumber merasa tidak puas karena menganggap dirinya tidak diliput televisi nasional. Dia berpikir, kalau televisi nasional datang, harusnya membawa kamera besar dan perlengkapan lengkap," kenang Jamalul saat berbagi pengalaman sekaligus materi mengenai Jurnalisme Audio-Visual di Era Digital dalam kegiatan Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2026, Rabu (10/6/2026).
Cerita itu menggambarkan bagaimana teknologi dan persepsi terhadap kerja jurnalistik telah berubah sangat cepat dalam dua dekade terakhir. Jika dulu ukuran kamera menjadi simbol profesionalisme media, kini sebuah telepon pintar di genggaman wartawan mampu menjalankan fungsi yang hampir sama dengan seperangkat alat produksi televisi.
Ketika Liputan Televisi Menjadi Operasi Besar
Pada masa kejayaan televisi konvensional, peliputan berita, terutama siaran langsung, merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak orang dan peralatan.
Sebuah tim siaran langsung bisa terdiri dari belasan kru dengan tugas masing-masing. Ada reporter, kameramen, teknisi audio, operator transmisi, hingga petugas yang bertanggung jawab mengoperasikan kendaraan siaran.
Bahkan, menurut Jamalul, untuk melakukan siaran langsung pada masa itu dibutuhkan setidaknya 13 orang kru.
"Kalau dulu mau live tidak bisa kurang dari 13 orang. Ada yang tugasnya mencari sinyal, ada yang mengurus kendaraan siaran, ada yang mengatur transmisi. Kurang satu orang saja bisa membuat siaran tidak berjalan," ujarnya.
Peralatan yang digunakan pun tidak sederhana. Kamera televisi berukuran besar, tripod berat, mikrofon profesional, hingga mobil satelit menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi berita. Biaya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan seluruh sistem tersebut tentu tidak kecil. Karena itu, tidak semua peristiwa dapat dilaporkan secara langsung.
Smartphone Mengubah Segalanya
Perkembangan teknologi digital perlahan mengubah peta industri media. Kehadiran smartphone dengan kemampuan kamera yang semakin baik, jaringan internet yang semakin cepat, serta berbagai aplikasi produksi konten membuat banyak tahapan kerja jurnalistik menjadi lebih sederhana.
Hari ini, seorang wartawan dapat merekam gambar, melakukan wawancara, menulis naskah, menyunting video, hingga menyiarkan laporan secara langsung hanya dengan satu perangkat.
Smartphone yang dahulu hanya berfungsi sebagai alat komunikasi berubah menjadi ruang redaksi mini yang bisa dibawa ke mana saja.
"Dengan satu handphone, wartawan bisa mengambil gambar, wawancara, membuat berita, lalu langsung menyiarkannya kepada publik," kata Jamalul.
Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai mobile journalism atau Mojo.
Konsep tersebut memungkinkan seorang jurnalis bekerja lebih mandiri tanpa harus bergantung pada kru besar maupun peralatan mahal.
Jika dahulu siaran langsung hanya dapat dilakukan oleh stasiun televisi dengan sumber daya besar, kini hampir siapa saja dapat menyiarkan peristiwa secara real time kepada audiens yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Dari Nasional Menjadi Global
Perubahan yang dibawa teknologi tidak hanya menyangkut alat produksi, tetapi juga jangkauan distribusi informasi.
Pada masa lalu, siaran televisi umumnya menjangkau wilayah tertentu sesuai cakupan jaringan penyiaran. Kini, sebuah siaran langsung melalui media sosial dapat diakses secara global dalam hitungan detik.
Seorang wartawan yang sedang melaporkan peristiwa di sebuah kota kecil dapat disaksikan secara bersamaan oleh audiens di berbagai negara. Menurut Jamalul, transformasi ini membuat proses penyebaran informasi menjadi jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Tidak lagi diperlukan satelit khusus atau perangkat transmisi yang mahal. Koneksi internet dan platform digital sudah cukup untuk menjangkau khalayak luas.
Wawancara Lebih Akrab
Perubahan teknologi juga memengaruhi hubungan antara wartawan dan narasumber. Kamera televisi yang besar sering kali menciptakan suasana formal dan membuat sebagian orang merasa tegang saat diwawancarai.
Sebaliknya, penggunaan smartphone menghadirkan suasana yang lebih santai. Wawancara dapat berlangsung seperti percakapan biasa tanpa tekanan psikologis yang sering muncul ketika berhadapan dengan kamera profesional berukuran besar.
"Interaksi menjadi lebih intim. Kadang seperti ngobrol biasa, tetapi sebenarnya proses wawancara sudah berjalan," ujar Jamalul.
Pendekatan semacam ini dinilai membantu wartawan memperoleh informasi yang lebih natural dan mendalam dari narasumber.
Adaptasi atau Tertinggal
Transformasi digital juga mengubah cara publik mengonsumsi informasi.
Video kini menjadi format yang paling dominan di internet. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, hingga podcast video menggeser pola konsumsi berita yang sebelumnya didominasi teks.
Perubahan tersebut memaksa perusahaan media untuk beradaptasi. Media yang bertahan hanya dengan pola kerja lama berisiko kehilangan audiens yang kini lebih menyukai konten visual dan mudah diakses melalui perangkat seluler.
Karena itu, kemampuan menguasai teknologi digital menjadi kebutuhan baru bagi jurnalis. Namun, di tengah perubahan alat dan platform, Jamalul mengingatkan bahwa prinsip dasar jurnalistik tidak boleh berubah. Verifikasi, akurasi, dan kepentingan publik tetap menjadi fondasi utama dalam setiap karya jurnalistik.
Teknologi boleh membuat proses produksi semakin cepat dan murah. Smartphone boleh menggantikan kamera besar. Tetapi fungsi utama jurnalisme sebagai penyedia informasi yang akurat dan dapat dipercaya tetap tidak berubah. Di tengah revolusi digital yang terus bergerak, itulah nilai yang membedakan jurnalis dari sekadar pembuat konten biasa. (Hulwa)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda