Breaking News
Memuat breaking news...

Dari Kursi Roda, Keripik Tempe Asyifa Menjadi Jalan Bertahan Hidup

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11.35 AM WIB
Dari Kursi Roda, Keripik Tempe Asyifa Menjadi Jalan Bertahan Hidup
Sugiono dan istrinya di warung bakso Asyifa.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Di atas kursi roda yang menjadi penopangnya menjalani segala aktivitas, tak membuat Sugiono lupa akan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga untuk menafkahi istri dan kedua anaknya.

Dengan keterbatasan fisiknya sebagai penyandang disabilitas Tunadaksa, Keripik Tempe Asyifa menjadi penopang hidup mereka berempat. "Kalau untuk kebutuhan yang biasa-biasa saja dari jualan keripik tempe ini sudah cukup. Tapi namanya kita manusia ingin ini dan ingin itu ya. Jadi Alhamdulillah istrinya saya ikut membantu perekonomian dengan menjual bakso dengan menyewa kios di pinggir jalan. Ini sudah berjalan 2 bulan. Sebelumnya istri saya jualan bakso keliling dari siang sampai malam," ujar Sugiono dengan bangga terhadap kegigihan istrinya Suparni, kepada Waspada, Jumat (31/7) di warung bakso Asyifa di Jalan Makmur Pasar VII Tembung Deli Serdang.

Diceritakan Sugiono yang saat ini berusia 54 tahun ini, tahun 1997 menjadi titik balik kehidupannya. Saat itu usianya baru 25 tahun. Sebelum musibah datang, Sugiono dikenal sebagai pedagang bakso keliling di Solo. Sementara istrinya bekerja di sebuah pabrik tekstil.

Kehidupan mereka sederhana, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Semuanya berubah ketika Sugiono terjatuh dari kereta. Cedera pada bagian pinggang membuat tubuhnya lumpuh dari pinggang ke bawah. "Masih ada rasa di kaki, tapi tidak ada tenaga," katanya.

Ia tak lagi leluasa bekerja. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan dengan mudah mendadak menjadi sangat terbatas.

"Awalnya berat sekali. Mau mencari kerja juga susah. Tidak punya ijazah, kondisi seperti ini juga membuat orang raga. Biaya pengobatan menguras seluruh harta yang dimiliki keluarga," ucapnya.

Dengan kondisi keterbatasan gisik dan ekonomi, Sugiono memboyong istri dan kedua anaknya merantau ke Medan. Menumpang di rumah saudara dan akhirnya mengontrak rumah dengan berjualan bakso keliling dan ia mengemudikan becak motor yang dimodifikasi selama lima tahun. "Tapi fisik saya tidak sanggup untuk narik becak. Jadi berhenti dan membuka warung kecil dan berjualan sayur. Tapi tak mampu bertahan karena kalah bersaing dengan minimarket," ujarnya.

Harapan baru datang ketika pulang ke kampung halaman di Jawa. Di Solo, Sugiono melihat saudaranya membuat keripik tempe. Setelah belajar memproduksi keripik tempe, ia pun kembali ke Medan pada Desember 2020.

Keripik Tempe Asyifa, mengambil nama putri bungsunya. Semua proses produksi dilakukan sendiri. Kedelai direndam, direbus, difermentasi hingga tiga hari, kemudian dikukus, diberi ragi, diiris tipis, lalu digoreng. Untuk menghasilkan satu keripik yang renyah dibutuhkan waktu hampir enam hari.

Dalam sebulan mereka mengolah sekitar 100 hingga 200 kilogram kedelai. Saat pesanan meningkat menjelang hari raya, produksi dibantu hingga tiga pekerja.

Bagi Sugiono, tantangan terbesar bukan membuat keripik. Tapi paling sulit adalah membuat orang percaya.

"Awalnya banyak yang meragukan. Melihat saya seperti ini. Tapi keraguan itu saya tunjukkan melalui kualitas. Keripik Tempe Asyifa dibuat tanpa bahan pengawet dan sudah ada sertifikasi halal. Seluruh tempe diproduksi sendiri agar mutu tetap terjaga. Memang harganya sedikit lebih mahal, tetapi pelanggan bilang rasanya berbeda," ucapnya bangga.

Kepercayaan pelanggan mulai tumbuh.

Pesanan datang dari komunitas perantau asal Jawa, warung bakso, rumah makan, hingga pelanggan tetap di Medan. Beberapa kali produknya juga dikirim ke Jakarta. Bahkan ada pelanggan yang membawa keripik tersebut hingga Malaysia sebagai buah tangan.

Dalam kondisi pasar normal, omzet usahanya berkisar Rp15 juta hingga Rp20 juta setiap bulan. Saat permintaan meningkat, omzet bisa mencapai sekitar Rp50 juta.

Meski mulai berkembang, Sugiono merasa perjuangannya belum selesai. Ia masih memproduksi keripik di rumah yang sekaligus menjadi tempat tinggal keluarga. Mimpinya sederhana, memiliki rumah produksi sendiri agar kapasitas usaha meningkat.

Ia juga berharap pemerintah memberi ruang lebih besar bagi UMKM, terutama pelaku usaha penyandang disabilitas.

"Bukan hanya modal. Yang kami butuhkan juga pemasaran, pelatihan digital, kesempatan ikut pameran, dan alat produksi," katanya.

Menurutnya, pelatihan pemasaran digital akan sangat membantu UMKM seperti dirinya agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Bagi Sugiono, setiap bungkus keripik yang keluar dari dapurnya bukan sekadar produk.

Itu adalah bukti bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi tekad seseorang untuk bangkit.

Dari balik kursi roda, ia terus bekerja, berharap suatu hari Keripik Tempe Asyifa tak hanya dikenal di Medan, tetapi juga menjadi kebanggaan yang mampu menjangkau pasar lebih luas dan menghidupi lebih banyak orang.***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement