Breaking News
Memuat breaking news...

Dari Laboratorium ke Menara Telekomunikasi, Bekal Siswa SMK Menatap Karier

Redaksi
Redaksi
Senin, 6 Juli 2026 - 5.32 PM WIB
Dari Laboratorium ke Menara Telekomunikasi, Bekal Siswa SMK Menatap Karier
Siswa penerima manfaat program CSR PT TBIG di bidang pendidikan, George Christian Imanuel dari SMK 11 Maret Bekasi dan Gazes, siswa SMK Negeri 7 Jakarta, berbagi pengalaman dalam kelas JFC 2026. tangkapan layar zoom.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

BANDA ACEH (Waspada.id): Selama belajar di sekolah, George Christian Imanuel mengenal jaringan telekomunikasi melalui buku dan praktik sederhana di laboratorium. Namun bayangannya tentang bagaimana pekerjaan itu dijalankan di lapangan baru berubah ketika mengikuti pelatihan dan kunjungan industri yang diselenggarakan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG).

Di sana, siswa SMK 11 Maret Bekasi itu melihat langsung cara penyambungan kabel fiber optik, mengenal berbagai peralatan yang digunakan teknisi, hingga memahami budaya kerja di industri telekomunikasi. Pengalaman tersebut membuat dunia kerja yang sebelumnya hanya ia bayangkan akhirnya menjadi nyata.

"Ternyata begini cara kerjanya industri, terutama di bidang telekomunikasi dan jaringan. Selama ini masih ngawang-ngawang di kepala, ternyata seperti itu terapannya kalau bekerja," kata George saat berbagi pengalamannya.

George mengaku pelatihan yang diikutinya tidak hanya mengenalkan peralatan fiber optik, tetapi juga praktik penyambungan kabel hingga proses penanganan jaringan menuju pelanggan. Pengalaman tersebut memberinya gambaran nyata tentang pekerjaan yang kelak mungkin akan ia tekuni.

Cerita serupa disampaikan Gazes, siswa dari SMK Negeri 7 Jakarta. Baginya, manfaat terbesar dari program bukan sekadar tambahan pengetahuan teknis, melainkan juga pemahaman mengenai budaya kerja, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), disiplin, komunikasi, serta pentingnya kerja sama tim.

"Saya memperoleh pengetahuan tentang dunia kerja, melihat proses kerja secara langsung, memahami prosedur keselamatan kerja, mengenal peralatan dan teknologi yang digunakan di lapangan. Saya merasa senang karena kegiatan ini memberikan pengalaman baru dan menambah wawasan saya," ujarnya.

Pengalaman para siswa itu menjadi gambaran bahwa pembelajaran vokasi semakin membutuhkan kedekatan dengan dunia industri. Hal itu juga dirasakan SMK 11 Maret Jakarta yang telah bermitra dengan TBIG selama tiga tahun.

Kepala Program Teknik Komputer dan Jaringan SMK 11 Maret, Andika Prawira, mengatakan kolaborasi tersebut membuat sekolah tidak lagi hanya mengandalkan kurikulum pemerintah. Materi pembelajaran kini diperkaya dengan kurikulum yang disusun bersama industri sehingga lebih sesuai dengan perkembangan teknologi telekomunikasi.

"Saat ini SMK 11 Maret tidak seratus persen menggunakan kurikulum dari pemerintah, tetapi menggunakan kurikulum gabungan dari pemerintah dan PT TBIG. Dampaknya, kami bisa melakukan link and match atau relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri," kata Andika.

Menurutnya, perubahan paling nyata terlihat pada penggunaan materi fiber optik sebagai bagian dari uji kompetensi profesi. Selain itu, guru-guru juga memperoleh pelatihan rutin sehingga pengetahuan dari industri dapat langsung diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Tidak hanya itu, siswa diajak mengikuti kunjungan industri sebelum menjalani praktik kerja lapangan. Berbeda dengan kunjungan perusahaan pada umumnya yang hanya berisi pemaparan profil perusahaan, para siswa diperlihatkan langsung proses kerja, penggunaan peralatan, hingga budaya keselamatan kerja.

"Anak-anak bukan hanya mendengarkan company profile, tetapi melihat langsung cara kerja di industri, budaya kerjanya, juga mendapatkan tambahan soft skill dan K3 yang relevan di semua bidang profesi," ujar Andika.

Bagi sekolah, pendekatan seperti ini menjadi nilai tambah karena siswa memperoleh gambaran nyata mengenai lingkungan kerja yang akan mereka hadapi setelah lulus. Soft skill seperti disiplin, komunikasi, dan budaya kerja dinilai sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

Di balik berbagai capaian program, pengalaman George dan Gazes menunjukkan bahwa manfaat terbesar sebuah pendidikan tidak selalu diukur dari banyaknya peserta. Kadang, perubahan dimulai dari satu pengalaman sederhana: ketika seorang siswa akhirnya dapat melihat secara langsung seperti apa dunia kerja yang selama ini hanya ia bayangkan dari balik meja kelas. (Hulwa)

BANDA ACEH (Waspada.id) - Selama belajar di sekolah, George Christian Imanuel mengenal jaringan telekomunikasi melalui buku dan praktik sederhana di laboratorium. Namun bayangannya tentang bagaimana pekerjaan itu dijalankan di lapangan baru berubah ketika mengikuti pelatihan dan kunjungan industri yang diselenggarakan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG).

Di sana, siswa SMK 11 Maret Bekasi itu melihat langsung cara penyambungan kabel fiber optik, mengenal berbagai peralatan yang digunakan teknisi, hingga memahami budaya kerja di industri telekomunikasi. Pengalaman tersebut membuat dunia kerja yang sebelumnya hanya ia bayangkan akhirnya menjadi nyata.

"Ternyata begini cara kerjanya industri, terutama di bidang telekomunikasi dan jaringan. Selama ini masih ngawang-ngawang di kepala, ternyata seperti itu terapannya kalau bekerja," kata George saat berbagi pengalamannya.

George mengaku pelatihan yang diikutinya tidak hanya mengenalkan peralatan fiber optik, tetapi juga praktik penyambungan kabel hingga proses penanganan jaringan menuju pelanggan. Pengalaman tersebut memberinya gambaran nyata tentang pekerjaan yang kelak mungkin akan ia tekuni.

Cerita serupa disampaikan Gazes, siswa dari SMK Negeri 7 Jakarta. Baginya, manfaat terbesar dari program bukan sekadar tambahan pengetahuan teknis, melainkan juga pemahaman mengenai budaya kerja, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), disiplin, komunikasi, serta pentingnya kerja sama tim.

"Saya memperoleh pengetahuan tentang dunia kerja, melihat proses kerja secara langsung, memahami prosedur keselamatan kerja, mengenal peralatan dan teknologi yang digunakan di lapangan. Saya merasa senang karena kegiatan ini memberikan pengalaman baru dan menambah wawasan saya," ujarnya.

Pengalaman para siswa itu menjadi gambaran bahwa pembelajaran vokasi semakin membutuhkan kedekatan dengan dunia industri. Hal itu juga dirasakan SMK 11 Maret Jakarta yang telah bermitra dengan TBIG selama tiga tahun.

Kepala Program Teknik Komputer dan Jaringan SMK 11 Maret, Andika Prawira, mengatakan kolaborasi tersebut membuat sekolah tidak lagi hanya mengandalkan kurikulum pemerintah. Materi pembelajaran kini diperkaya dengan kurikulum yang disusun bersama industri sehingga lebih sesuai dengan perkembangan teknologi telekomunikasi.

"Saat ini SMK 11 Maret tidak seratus persen menggunakan kurikulum dari pemerintah, tetapi menggunakan kurikulum gabungan dari pemerintah dan PT TBIG. Dampaknya, kami bisa melakukan link and match atau relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri," kata Andika.

Menurutnya, perubahan paling nyata terlihat pada penggunaan materi fiber optik sebagai bagian dari uji kompetensi profesi. Selain itu, guru-guru juga memperoleh pelatihan rutin sehingga pengetahuan dari industri dapat langsung diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Tidak hanya itu, siswa diajak mengikuti kunjungan industri sebelum menjalani praktik kerja lapangan. Berbeda dengan kunjungan perusahaan pada umumnya yang hanya berisi pemaparan profil perusahaan, para siswa diperlihatkan langsung proses kerja, penggunaan peralatan, hingga budaya keselamatan kerja.

"Anak-anak bukan hanya mendengarkan company profile, tetapi melihat langsung cara kerja di industri, budaya kerjanya, juga mendapatkan tambahan soft skill dan K3 yang relevan di semua bidang profesi," ujar Andika.

Bagi sekolah, pendekatan seperti ini menjadi nilai tambah karena siswa memperoleh gambaran nyata mengenai lingkungan kerja yang akan mereka hadapi setelah lulus. Soft skill seperti disiplin, komunikasi, dan budaya kerja dinilai sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

Di balik berbagai capaian program, pengalaman George dan Gazes menunjukkan bahwa manfaat terbesar sebuah pendidikan tidak selalu diukur dari banyaknya peserta. Kadang, perubahan dimulai dari satu pengalaman sederhana: ketika seorang siswa akhirnya dapat melihat secara langsung seperti apa dunia kerja yang selama ini hanya ia bayangkan dari balik meja kelas. (Hulwa)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement