Dari Makam hingga Apam, Mahdiana Kawal Budaya Pidie

SIGLI (Waspada.id): Satu tangan membersihkan pusara, tangan lain menata acara, keduanya ibarat dua sisi mata uang yang sama-sama bernilai menjaga sejarah dan menghidupkan tradisi.
Itulah kesibukan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie, Mahdiana, S.Pd., dalam mengawal rangkaian Peuingat Lahe ke-515 Pidie.
Dari meuseuraya di Makam Sultan Ma’ruf Syah hingga koordinasi pawai kebudayaan dan kegiatan toet apam serta kenduri apam di kawasan Pidie Convention Center (PCC), berbagai agenda budaya tersebut mendapat perhatian Mahdiana.
Kamis (17/9/2026), di sela kesibukannya sebagai Kabid Kebudayaan, Mahdiana turun langsung memantau kegiatan meuseuraya di kompleks Makam Sultan Ma’ruf Syah, Gampong Dayah Tanoh Klibeut, Kecamatan Pidie.
Kegiatan gotong royong tersebut dilakukan untuk membersihkan dan menata kawasan makam yang saat ini tengah dipugar. Persiapan itu dilakukan menjelang ziarah Forkopimda Pidie ke makam Raja Pedir tersebut sebagai bagian dari rangkaian Peuingat Lahe ke-515 Pidie.
Namun, kesibukan Mahdiana tidak hanya terhenti di kompleks makam.
Di tengah kegiatan meuseuraya, ia juga memimpin rapat koordinasi bersama beberapa pimpinan instansi terkait untuk memastikan kesiapan pawai kebudayaan.

Kabid Kebudayaan Pidie, Mahdiana, S.Pd., sedang mengarahkan dan menjelaskan kondisi Makam Sultan Ma’ruf Syah, Kamis (17/9/2026).Waspada.id/Muhammad Riza
Koordinasi tersebut dilakukan untuk menyatukan berbagai persiapan, termasuk kesiapan peserta dan teknis pelaksanaan, sehingga pawai kebudayaan dapat berlangsung tertib serta mampu menampilkan kekayaan budaya Pidie.
Di sela padatnya agenda itu, Mahdiana juga memastikan kegiatan toet apam dan kenduri apam yang berlangsung di bawah Rumah Adat Aceh, kompleks PCC, tetap berjalan dengan baik.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Peuingat Lahe ke-515 Pidie, sekaligus ruang untuk menghidupkan kembali tradisi masyarakat melalui makanan tradisional Aceh.
Merawat Sejarah dan Tradisi
Mahdiana mengatakan, berbagai kegiatan yang dikawal tersebut memiliki nilai penting dalam rangkaian Peuingat Lahe ke-515 Pidie.
Menurutnya, peringatan tersebut tidak hanya menjadi momentum memeriahkan hari jadi daerah, tetapi juga kesempatan untuk mengenalkan sejarah, kebudayaan dan tradisi Pidie kepada masyarakat.
“Kita ingin seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan dengan baik. Ada sisi sejarah yang kita rawat melalui ziarah dan pemugaran makam, ada kebudayaan yang kita tampilkan melalui pawai, dan ada tradisi masyarakat yang kita hidupkan melalui toet apam dan kenduri apam,” ujar Mahdiana.
Ia menambahkan, koordinasi lintas instansi diperlukan karena setiap agenda memiliki persiapan dan karakter yang berbeda.
“Semua harus kita persiapkan bersama, supaya kegiatan bukan hanya meriah, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Pidie,” katanya.
Meuseuraya di Makam Sultan Ma’ruf Syah
Makam Sultan Ma’ruf Syah di Gampong Dayah Tanoh Klibeut merupakan salah satu situs yang menyimpan jejak sejarah Kerajaan Pedir.
Sultan Ma’ruf Syah dikenal sebagai salah seorang Raja Pedir yang hidup pada awal abad ke-16. Pusara tersebut menjadi salah satu peninggalan sejarah yang penting untuk dijaga dan diperkenalkan kepada generasi penerus.
Saat ini, makam Sultan Ma’ruf Syah tengah dipugar dan ditata. Kegiatan meuseuraya menjadi bagian dari persiapan kawasan sekaligus bentuk kepedulian terhadap situs sejarah tersebut.
Mahdiana menilai, pelestarian sejarah tidak cukup hanya melalui pemugaran fisik, tetapi juga membutuhkan kepedulian bersama untuk menjaga lingkungan situs.

“Makam ini merupakan bagian dari jejak sejarah Pidie. Karena itu, keberadaannya perlu dirawat dan dijaga bersama agar nilai sejarahnya tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.
Pawai Kebudayaan dan Tradisi Apam
Selain sejarah, kekayaan budaya masyarakat juga mendapat ruang dalam rangkaian Peuingat Lahe ke-515 Pidie.
Pawai kebudayaan dipersiapkan sebagai ruang untuk menampilkan beragam kekayaan budaya Pidie. Untuk memastikan kesiapan kegiatan tersebut, Mahdiana memimpin koordinasi bersama sejumlah instansi terkait.
Sementara di Rumah Adat Aceh kawasan PCC, kegiatan toet apam dan kenduri apam masih berlangsung.
Tradisi membuat apam secara bersama-sama tidak hanya menghadirkan makanan tradisional, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan dan menjadi media untuk mengenalkan warisan budaya kepada generasi muda.
Kesibukan Mahdiana mengawal sejumlah agenda tersebut memperlihatkan bahwa tugas di bidang kebudayaan tidak hanya berlangsung di belakang meja. Kehadiran langsung di lapangan diperlukan untuk memastikan setiap kegiatan berjalan sesuai rencana.
Dari meuseuraya di makam Sultan Ma’ruf Syah, rapat koordinasi pawai kebudayaan, hingga memastikan toet apam dan kenduri apam berlangsung, semuanya menjadi bagian dari upaya menyukseskan Peuingat Lahe ke-515 Pidie.
Dari makam hingga apam, sejarah dan tradisi bertemu dalam satu rangkaian peringatan. Sebab, budaya ibarat akar pohon: tidak selalu terlihat, tetapi menjadi sumber kekuatan bagi tumbuhnya jati diri sebuah daerah.(Id69)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda