Breaking News
Memuat breaking news...

Dari Membaca hingga Bermain, “Misi untuk Raka” Ajak Anak Menikmati Dunia Tanpa Gawai

Redaksi
Redaksi
Jumat, 15 Mei 2026 - 4.22 PM WIB
Dari Membaca hingga Bermain, “Misi untuk Raka” Ajak Anak Menikmati Dunia Tanpa Gawai
Puluhan murid usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar (SD) berkumpul di ruang pertemuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rabu (13/5/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Puluhan murid usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar (SD) berkumpul di ruang pertemuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rabu (13/5/2026). Suasana siang itu dipenuhi gelak tawa dan rasa penasaran anak-anak yang duduk rapi sambil memegang buku cerita bergambar berjudul Misi untuk Raka.

Keceriaan mereka semakin terlihat ketika membuka halaman demi halaman buku yang disediakan pada acara peluncuran tersebut. Sebagian anak tampak antusias menunjuk ilustrasi berwarna-warni, sementara yang lain mendengarkan guru dan pendamping membacakan cerita tentang aktivitas menyenangkan tanpa gawai.

Di tengah derasnya arus digital yang kini akrab dengan kehidupan anak-anak, momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa dunia bermain, membaca, dan berinteraksi langsung masih menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi anak usia dini.

Buku Misi untuk Raka diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Tanoto Foundation sebagai bagian dari kampanye #SeruTanpaLayar. Buku cerita bergambar untuk anak usia 3–8 tahun itu hadir untuk mendorong anak melakukan aktivitas positif tanpa bergantung pada gawai.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan sebanyak 39,71 persen anak usia dini telah mengakses dunia digital lebih dari dua jam per hari. Padahal, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan durasi penggunaan layar bagi anak usia 2–6 tahun maksimal satu jam per hari dengan pendampingan orang tua.

Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan penggunaan gawai yang berlebihan tanpa pengawasan dapat mengurangi kebutuhan dasar anak untuk bergerak, bermain, dan berinteraksi sosial secara langsung.

“Tanpa pengawasan yang jelas dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak, penggunaan gawai berlebihan berisiko mengganggu kebutuhan dasar anak akan aktivitas fisik, interaksi sosial, dan pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangannya,” ujar Arifah.

Menurutnya, buku Misi untuk Raka tidak hanya menjadi media cerita bagi anak, tetapi juga sarana membangun komunikasi antara orang tua dan anak mengenai penggunaan gawai yang sehat.

“Perlu kolaborasi banyak pihak untuk menjaga pertumbuhan anak Indonesia optimal, bukan hanya dari orang tua, guru, dan pemerintah, namun juga pihak lain yang berkaitan,” katanya.

Di sela acara, beberapa anak terlihat mengikuti aktivitas membaca bersama dan permainan interaktif yang disiapkan panitia. Ada pula yang sibuk mewarnai karakter dalam buku sambil sesekali berbincang dengan teman sebaya. Suasana hangat itu memperlihatkan bahwa aktivitas sederhana tanpa layar tetap mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati mengatakan penguatan karakter anak harus berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi digital.

“Melalui cerita, anak-anak memiliki alternatif yang positif sekaligus bermanfaat bagi dirinya,” ujarnya.

Sementara itu, Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry menilai anak usia dini tetap membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, membaca, dan berkarya secara nyata di tengah penggunaan teknologi yang semakin masif.

Sebagai seri keempat Buku Cerita Anak SIGAP, Misi untuk Raka mengangkat empat aktivitas utama #SeruTanpaLayar, yakni bergerak, berbuat baik, membaca, dan berkarya. Buku ini juga dilengkapi panduan praktis bagi orang tua melalui prinsip 3S, yaitu screen time, screen break, dan screen zone.

Buku Misi untuk Raka tersedia dalam format cetak dan dapat diunduh gratis melalui Tanoto Foundation.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement