Dari Mimbar Darul Falah, Tgk Abimaulana Mengajak Menjemput Ampunan AllahDari Mimbar Darul Falah, Tgk Abimaulana Mengajak Menjemput Ampunan Allah

Suasana Masjid Agung Darul Falah Langsa, Minggu (2/8) malam, terasa berbeda. Usai salat Magrib, jemaah tidak segera beranjak. Mereka memilih tetap duduk bersaf, menyimak tausiah seorang da’i muda Kota Langsa, Tgk Abimaulana.
Malam itu, Tgk Abimaulana mengajak jemaah merenungi satu perkara yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, tetapi kerap terlupakan: taubat dari segala dosa.
Dengan bahasa yang sederhana, namun sarat makna, Tgk Abimaulana mengupas isi kitab Tuhfatur Raghibin, sebuah kitab yang menjadi rujukan dalam pembahasan keislaman. Dari lembaran kitab tersebut, jemaah diajak memahami bahwa manusia tidak pernah luput dari kesalahan, tetapi pintu ampunan Allah SWT senantiasa terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Di hadapan jemaah Masjid Agung Darul Falah, Tgk Abimaulana tidak sekadar menyampaikan dalil dan uraian kitab. Ia membawa pembahasan taubat menjadi sebuah perenungan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebab, dosa tidak selalu hadir dalam bentuk perbuatan besar yang kasatmata. Ada dosa yang mungkin dilakukan melalui ucapan, pandangan, hati, maupun tindakan yang dianggap sepele.
Karena itu, taubat bukan hanya perkara ketika seseorang merasa telah melakukan dosa besar. Taubat merupakan kebutuhan setiap manusia.
Pesan tersebut terasa semakin kuat ketika Tgk Abimaulana mengajak jemaah untuk tidak menunda-nunda kembali kepada Allah.
Waktu yang dimiliki manusia tidak pernah ada yang bisa memastikan. Hari ini masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah esok masih diberikan kesempatan yang sama.
Taubat, dalam pesan yang disampaikan Tgk Abimaulana, bukan tanda bahwa seseorang telah menjadi manusia sempurna. Justru taubat adalah tanda bahwa seorang hamba menyadari kelemahan dirinya dan membutuhkan ampunan Allah.
Menghidupkan Kajian Kitab di Tengah Generasi Muda
Sosok Tgk Abimaulana menjadi menarik karena ia merupakan bagian dari generasi muda yang memilih untuk aktif berdakwah dan menghidupkan tradisi pengajian kitab di tengah masyarakat.
Selain dikenal sebagai da’i muda Kota Langsa, Tgk Abimaulana juga merupakan salah seorang pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Langsa.
Keterlibatannya dalam dakwah dan organisasi masyarakat menunjukkan bahwa generasi muda tidak harus jauh dari tradisi keilmuan dan nilai-nilai agama.
Justru di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kajian-kajian keislaman yang membahas persoalan mendasar seperti taubat menjadi penting untuk terus dihidupkan.
Masjid bukan hanya tempat untuk melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga ruang untuk menuntut ilmu, memperbaiki akhlak dan membangun kesadaran spiritual masyarakat.
Pengajian bakda Magrib di Masjid Agung Darul Falah Langsa itu pun menjadi salah satu ruang perjumpaan antara ilmu, tradisi dan kehidupan masyarakat.
Melalui kitab Tuhfatur Raghibin, jamaah diajak melihat kembali perjalanan hidup masing-masing.
Sudahkah kita benar-benar bertaubat?
Sudahkah kesalahan yang pernah dilakukan menjadi pelajaran?
Atau justru kita masih merasa nyaman dengan dosa-dosa yang berulang?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi renungan penting. Sebab, hakikat taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar dengan lisan, tetapi juga menghadirkan kesadaran di dalam hati untuk meninggalkan kesalahan dan berusaha memperbaiki diri.
Jangan Tunggu Tua untuk Bertaubat
Salah satu pesan yang terasa kuat dari pengajian tersebut adalah bahwa taubat tidak mengenal usia.
Jangan menunggu tua untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu sakit untuk memperbanyak ibadah. Jangan pula menunggu datangnya musibah baru kemudian menyadari betapa banyak waktu yang telah disia-siakan.
Selagi masih diberikan kesempatan hidup, pintu taubat masih terbuka.
Di sinilah relevansi dakwah Tgk Abimaulana bagi generasi muda. Taubat bukan tema yang hanya pantas dibicarakan kepada orang-orang yang sudah berusia lanjut. Anak-anak muda juga membutuhkan ruang untuk memahami agama, mengenali kesalahan dan menemukan jalan pulang.
Sebab, perjalanan hidup manusia bukan tentang siapa yang tidak pernah salah, melainkan siapa yang mau menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar.
Dari mimbar Masjid Agung Darul Falah malam itu, pesan tersebut terasa sederhana, tetapi dalam: jangan pernah merasa dosa terlalu banyak sehingga malu untuk kembali kepada Allah.
Karena selama hayat masih di kandung badan, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dan mungkin, pengajian itu bukan sekadar tentang kitab yang dibacakan dan diterangkan. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bagi setiap jamaah bahwa perjalanan menuju Allah harus dimulai dengan keberanian untuk mengakui kesalahan, menyesalinya, meninggalkannya dan memohon ampun.
Sebab manusia boleh memiliki masa lalu yang penuh kekhilafan, tetapi selalu ada kesempatan untuk menulis lembaran baru dengan taubat.
Dari Darul Falah, Tgk Abimaulana seakan mengingatkan: jangan menunggu pintu kesempatan tertutup, sebelum kita benar-benar belajar mengetuk pintu ampunan Allah.
Ibnu Sa’dan































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda