Dari Panggung Seni Pinggir Pantai, Anak Kepulauan Seribu Tampil Percaya Diri


JAKARTA (Waspada.id): Alunan musik berpadu dengan debur ombak di pesisir Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Di bawah langit cerah, satu per satu siswa dari berbagai jenjang pendidikan naik ke atas panggung yang berdiri tepat menghadap laut. Ada yang menari, menyanyi, membaca puisi, hingga memainkan sendratari. Senyum dan tepuk tangan mengiringi setiap penampilan, menjadikan ruang terbuka di tepi pantai itu hidup oleh semangat berkarya.
Pemandangan tersebut disaksikan langsung oleh Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Yudhistira Nugraha, yang berkunjung bersama sejumlah awak media ke Pulau Tidung. Perjalanan sekitar satu setengah jam menggunakan kapal jet dari Pelabuhan Sunda Kelapa menuju pulau itu seolah terbayar lunas saat rombongan disambut atraksi drum band SMKN 61 Jakarta dan antusiasme para pelajar.
Ruang Seni dan Kreasi yang digelar Suku Dinas Pendidikan Kepulauan Seribu memang bukan sekadar panggung hiburan. Bagi para siswa, kegiatan ini menjadi ruang untuk menunjukkan bakat, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus belajar mencintai budaya. Pesertanya pun datang dari berbagai pulau, seperti Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Payung, hingga Pulau Pramuka.
Melihat semangat para peserta, Yudhistira mengaku bangga. Menurutnya, anak-anak yang tampil merupakan potret generasi Indonesia yang berani berekspresi dan terus mengembangkan potensinya.
"Anak-anak semua yang tampil hari ini adalah anak-anak Indonesia Hebat. Kalian pasti sudah tahu kan apa saja tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat?" ujarnya, membuka dialog santai bersama para siswa.
Tak lama kemudian, suasana berubah semakin hangat ketika seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu Rukun Sama Teman, karya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti. Lagu yang menjadi bagian dari program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat itu sudah akrab di telinga para siswa. Mereka menyanyikannya dengan penuh semangat, menciptakan suasana kebersamaan yang terasa alami.
Di sela kegiatan, para guru turut berbagi pengalaman mengenai penerapan metode deep learning dalam proses pembelajaran. Kepala Sekolah Kaswiyah menjelaskan bahwa pendekatan tersebut menempatkan kebahagiaan siswa sebagai pintu masuk utama dalam belajar.
"Yang penting bagaimana supaya murid senang dulu pada pelajaran, nanti pasti mudah memancing ide mereka," katanya.
Yudhistira kemudian menjelaskan tiga fokus pendekatan Kemendikdasmen kepada masyarakat. Selain pembangunan fisik melalui revitalisasi 16.170 sekolah dan digitalisasi pendidikan, kementerian juga terus memperkuat implementasi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat serta membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
"Pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti berpesan agar para murid dapat belajar di sekolah dengan penuh rasa aman dan nyaman, menyenangkan, serta penuh kreativitas," tutur Yudhistira.
Bagi Kepala Suku Dinas Pendidikan Kepulauan Seribu, Muhammad Thohari, panggung sederhana di tepi pantai itu bisa menjadi awal lahirnya talenta-talenta besar Indonesia. Banyak seniman, katanya, memulai perjalanan dari pentas-pentas sekolah yang memberi ruang bagi anak untuk tampil dan percaya diri.
"Tujuan Ruang Seni dan Kreasi memang untuk memunculkan potensi murid dalam berbagai bidang, termasuk seni dan budaya. Hal ini menjadi bagian dari pendidikan karakter," ujarnya.
Thohari juga mengajak masyarakat melihat Kepulauan Seribu bukan hanya sebagai destinasi wisata, melainkan benteng terdepan Jakarta. Ia mengibaratkan gugusan pulau itu sebagai pemecah ombak yang melindungi ibu kota, sebagaimana pendidikan berperan membentuk karakter anak-anak agar mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Sore itu, panggung di tepi pantai terus diisi beragam penampilan. Tari Apuse, Ampar-Ampar Pisang, Zapin Melayu, tari kreasi Betawi, hingga jingle khas Kepulauan Seribu dibawakan bergantian oleh siswa PAUD hingga SMA. Diiringi semilir angin laut, mereka membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas wilayah. Bahkan dari pulau-pulau kecil di utara Jakarta, tumbuh anak-anak yang berani bermimpi, berkarya, dan menjadi wajah Indonesia Hebat.(id11)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda