Breaking News
Memuat breaking news...

Dari Sebatang Serai, Sihar Menjaga Harapan Keluarganya

Redaksi
Redaksi
Senin, 27 Juli 2026 - 11.43 PM WIB
Dari Sebatang Serai, Sihar Menjaga Harapan Keluarganya
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Matahari siang menggantung tepat di atas kepala ketika Sihar perlahan membungkukkan tubuhnya di antara rumpun-rumpun serai yang baru dipanen.

Jemarinya yang kasar bergerak lincah membersihkan tanah yang melekat di pangkal batang, lalu mengikatnya menjadi beberapa ikatan rapi.

Tak ada mesin, tak ada pekerja yang membantu. Hanya sepasang tangan yang telah bertahun-tahun bersahabat dengan tanah, keringat, dan aroma khas serai di sekelilingnya.

Sesekali pria berusia 45 tahun itu berhenti sejenak. Punggung tangannya mengusap keringat mengalir di wajah sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.

Baginya, setiap batang serai yang berhasil dikumpulkan bukan sekadar hasil panen, melainkan bagian dari perjalanan panjang untuk menjaga keluarganya tetap bertahan.

Warga Kampung Paya Baru, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, itu bukanlah petani dengan lahan luas.

Ia juga bukan pedagang besar yang memiliki kios di pasar. Namun, selama lebih dari satu dekade, kehidupannya bergantung pada tanaman yang kerap menjadi pelengkap bumbu dapur.

Dari kampung ke kampung, Sihar yang akrab disapa Har mengendarai sepeda motor bak sederhana.

Ia mendatangi pekarangan warga, kebun kecil, hingga lahan-lahan yang ditanami serai sebagai sumber penghasilan tambahan.

Di sanalah ia membeli hasil panen warga, kemudian membawanya ke Pasar Kuala Simpang untuk dijual kembali kepada para pedagang bumbu masakan.

"Kalau lagi musim panen serai milik warga, bisa dapat sampai 100 kilogram juga sehari-nya bang," kata Sihar ditemui Waspada.id, saat ia membeli serai milik warga di Kampung Paya. Senin, (27/7/2026).

Saat ini, ia membeli serai dari warga senilai Rp5.000 per kilogram, lalu menjualnya kembali senilai Rp8000 per kilogram.

Keuntungan yang diperoleh memang tidak besar. Namun dari selisih itulah kebutuhan rumah tangga dipenuhi dan biaya pendidikan anak-anaknya juga bisa atasi.

Perjalanan itu pernah nyaris terhenti ketika banjir bandang menerjang Aceh Tamiang pada akhir November 2025.

Banjir tidak hanya merendam rumah dan lahan pertanian, tetapi juga mengubah mata pencaharian banyak warga.

Serai menjadi langka, harga berubah, sementara pola jual beli yang selama bertahun-tahun menggunakan sistem ikatan kecil harus berganti menjadi sistem kilogram.

Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin menjadi alasan untuk menyerah. Namun tidak bagi Sihar. Ia tetap bisa beradaptasi.

Menata kembali jaringan pembeli, mencari pasokan ke desa-desa lain, dan tetap berkeliling meski hasil yang dibawa pulang tak selalu sesuai harapan, tetap ia jalani.

"Alhamdulillah, dari sini masih bisa makan dan masih bisa sekolahkan anak," ucapnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna yang besar.

Dari hasil menjual serai, Sihar bisa menyekolahkan dua dari empat anaknya di sebuah Dayah di Kecamatan Manyak Payed.

Baginya, pendidikan agama merupakan cara terbaik dan paling tepat untuk memberikan pondasi agama untuk anak - anaknya.

"Ilmu agama penting. Itu bekal anak-anak menghadapi kehidupan nanti," katanya pelan.

Masih ada dua anak lagi yang menunggu giliran. Sihar berharap suatu hari nanti hasil dari batang-batang serai yang ia kumpulkan mampu mengantar mereka mengenyam pendidikan yang sama.

Harapan itu juga tumbuh di belakang rumahnya.

Di sebidang lahan seluas sekitar satu rante, ia menanam serai sendiri.

Tanaman-tanaman hijau itu tumbuh rapat, mengeluarkan aroma segar setiap kali tertiup angin.

Dalam satu kali panen, kebun kecil itu mampu menghasilkan lebih dari 100 kilogram serai, dengan masa panen sekitar empat bulan sekali.

Sihar sadar, serai mungkin tidak akan membuatnya hidup bergelimang harta. Namun ia percaya, pekerjaan yang dijalani dengan tekun akan selalu menghadirkan jalan untuk bertahan.

Menjelang sore, motor bak miliknya kembali penuh oleh tumpukan serai. Perlahan ia meninggalkan kebun, melintasi jalan kampung yang berdebu menuju Pasar Kuala Simpang.

Di balik setiap batang serai yang dibawanya, tersimpan cerita tentang kerja keras seorang ayah. Tentang harapan yang tak pernah padam, tentang pendidikan anak-anak yang terus diperjuangkan, dan tentang keyakinan bahwa rezeki selalu datang kepada mereka yang tidak berhenti berusaha.

Bagi Sihar, setiap batang serai bukan sekadar bumbu dapur. Ia adalah saksi perjalanan hidup, pengikat mimpi, sekaligus penopang masa depan keluarganya.

Sutrisno

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement