Breaking News
Memuat breaking news...

Dari Sungai Batang Gadis Mengalir ke Meja Makan di Ibu Kota

Redaksi
Redaksi
Selasa, 18 Agustus 2026 - 8.13 PM WIB
Dari Sungai Batang Gadis Mengalir ke Meja Makan di Ibu Kota
Dari kiri ke kanan, M. Nuh Nasution, Erman Tale Daulay dan Akhir Matua Harahap dalam program “Bincang Tipis-Tipis” yang dipandu host Erman Tale Daulay, di RM Batang Gadis, Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (18/8/2026). Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Sungai Batang Gadis bukan sekadar bentang alam yang mengalir dari pedalaman Mandailing Natal. Bagi masyarakat Tapanuli Bagian Selatan, (Tabagsel), sungai itu menyimpan ingatan tentang masa kecil, perjalanan, perdagangan, kehidupan sosial, hingga cita rasa kuliner yang diwariskan lintas generasi.

Kini, aliran kenangan itu seolah menemukan muaranya di meja makan Rumah Makan Batang Gadis, Cibubur, Jakarta Timur.

Di tempat ini, kekayaan kuliner Tabagsel dihadirkan kembali sebagai cara sederhana untuk mempertemukan perantau dengan rasa kampung halaman.

Hal tersebut mengemuka dalam program “Bincang Tipis-Tipis” yang dipandu host Erman Tale Daulay, Selasa (18/8/2026).

Dengan tema, Dari Sungai Batang Gadis Mengalir ke Meja Makan di Ibu Kota, menghadirkan narasumber Muhammad Nuh Nasution, pemilik Rumah Makan Batang Gadis asal Mandailing, dan Akhir Marua Harahap, dosen Universitas Indonesia (UI) sekaligus pecinta dan peneliti budaya Tabagsel.

Muhammad Nuh mengatakan, pemilihan nama Batang Gadis bukan keputusan bisnis semata. Nama tersebut lahir dari kenangan masa kecilnya bersama sungai yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Mandailing.

“Batang Gadis ini penuh kenangan,” ujarnya.

Di sungai itu, kata Muhammad Nuh, anak-anak dahulu berkumpul, memancing, menjala ikan, berenang, hingga melintas ketika hendak menuju sawah. Karena itu, ketika nama Batang Gadis digunakan sebagai identitas rumah makan, yang ingin dihadirkan bukan hanya nama, tetapi juga suasana kampung halaman.

“Dengan melihat nama Batang Gadis, maka teringatlah Tabagsel, teringatlah Mandailing,” katanya.

Dari ingatan tentang sungai itulah kemudian hadir berbagai hidangan yang sejak kecil akrab dengan lidah masyarakat Mandailing dan Tabagsel, seperti daun ubi tumbuk, ikan mas bakar, ikan mas gulai, ikan sale atau asap, holat, sambal tuktuk dan berbagai sajian khas lainnya.

Bagi Muhammad Nuh, makanan tersebut merupakan cara untuk menjawab kerinduan para perantau.

“Harapannya, tanpa berpanjang lebar, dengan melihat Batang Gadis maka sudah terbayang kampung halaman,” tuturnya.

Sungai sebagai “Jalan Tol” Masa Lalu

Akhir Marua Harahap kemudian membawa perbincangan dari meja makan menuju sejarah dan lanskap budaya Batang Gadis.

Ia menjelaskan, dalam konteks bahasa setempat, kata “batang” merujuk pada aek atau sungai.

Karena itu dikenal pula nama-nama sungai seperti Batang Angkola, Batang Toru, Batang Barumun dan Batang Pane.

Menurutnya, Batang Gadis bukan sekadar sungai, melainkan bagian dari daerah aliran sungai yang sejak dahulu menjadi jalur penting pergerakan manusia dan barang.

Jika menggunakan perumpamaan masa kini, daerah aliran sungai tersebut dapat dianalogikan sebagai “jalan tol” pada masa lalu.

Alirannya menghubungkan kawasan hulu hingga wilayah pesisir. Dari kawasan Gunung Kulabu, aliran Batang Gadis bergerak melewati berbagai wilayah Mandailing hingga bertemu dengan aliran sungai lainnya dan terus menuju kawasan pantai barat.

“Sebagai jalan tol, berarti lalu lintas yang paling padat dan paling cepat melalui daerah aliran sungai tersebut,” jelas Akhir Marua.

Dari jalur sungai itulah kemudian terbentuk interaksi masyarakat, perdagangan, pertukaran bahan pangan dan kebudayaan yang pada akhirnya ikut membentuk karakter kuliner masyarakat Tabagsel.

Menurut Akhir Marua, kuliner tradisional tidak lahir di ruang kosong. Ia tumbuh dari hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Kesuburan daerah aliran sungai Batang Gadis menghasilkan beragam tumbuhan dan bahan pangan yang kemudian diolah menjadi makanan sehari-hari. Salah satu contoh paling kuat adalah daun ubi tumbuk.

Keistimewaan daun ubi tumbuk bukan sekadar pada bahan utamanya, tetapi juga pada teknik pengolahan dan penggunaan rempah lokal.

Salahsatu yang menjadi ciri khas adalah penggunaan palak-palak, rempah yang menjadi bagian dari kearifan lokal dalam pengolahan makanan masyarakat Mandailing.

“Dari wilayah lokal di daerah aliran sungai, tanahnya subur, tanamannya beragam. Dari situlah terbentuk warisan kuliner kita sampai sekarang,” ungkapnya.

Hal serupa terlihat pada holat, yang menggunakan rempah dan bahan lokal, termasuk balakka. Dengan demikian, makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga menjadi rekaman ekologis dan sejarah suatu masyarakat.

Ikan merah, cita rasa dan prestise masa lalu Batang Gadis juga membawa kekayaan hayati berupa ikan-ikan sungai yang sejak dahulu menjadi bagian dari konsumsi masyarakat.

Salah satunya adalah ikan merah, yang menurut Akhir Marua memiliki posisi istimewa dalam tradisi kuliner setempat.

Ikan tersebut hidup di kawasan sungai berarus deras dan tidak mudah ditangkap. Populasinya pun tidak sebanyak ikan yang lebih umum ditemukan di perairan tenang.

Karena sulit diperoleh dan memiliki cita rasa yang dianggap istimewa, ikan merah kemudian memiliki posisi prestisius dalam kuliner masyarakat.

“Dia menjadi makanan para raja-raja di zaman dulu,” katanya.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kuliner tradisional juga memiliki lapisan sosial dan sejarah. Sebuah hidangan dapat menyimpan cerita tentang lingkungan, cara memperoleh bahan pangan, bahkan status sosial masyarakat pada masanya.

Sambal Tuktuk: Inovasi Kuliner dari Masa Lampau

Salah satu hidangan yang menarik perhatian dalam perbincangan adalah sambal tuktuk.

Menurut Akhir Marua, sambal sebenarnya terdapat hampir di berbagai daerah dengan karakter dan bahan yang berbeda. Namun sambal tuktuk memiliki cerita tersendiri karena memperlihatkan adanya kreativitas kuliner masyarakat Tabagsel sejak masa lampau.

Dasarnya adalah cabai dan garam yang dihaluskan. Kemudian ditambahkan ikan gadapang yang memiliki cita rasa asin dan berasal dari kawasan pesisir.

Proses menumbuk bahan tersebut kemudian melahirkan nama “tuktuk”.

Menariknya, keberadaan sambal tuktuk juga menunjukkan hubungan ekonomi antara wilayah pedalaman dan pesisir. Bahan pangan dari pedalaman bertemu dengan komoditas dari pesisir melalui jalur perdagangan yang dahulu sangat bergantung pada jaringan sungai.

Dengan kata lain, sambal tuktuk bukan sekadar sambal.

Ia adalah produk perjumpaan antara alam, perdagangan, kreativitas dan budaya.

“Di zaman dulu, sambal tuktuk adalah produk baru, hasil pemikiran orang-orang kita. Karena diterima secara umum dan rasanya enak, dia tetap lestari sampai sekarang,” jelas Akhir Marua.

Makanan Ikut Merantau

Di Jakarta, perjalanan kuliner tersebut mendapatkan ruang baru.

Muhammad Nuh melihat Rumah Makan Batang Gadis sebagai tempat untuk mempertemukan perantau Tabagsel dengan rasa yang mereka kenal sejak kecil.

Ia mengatakan, banyak pelanggan dari kalangan perantau datang bukan sekadar untuk makan, tetapi untuk mendapatkan kembali suasana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk Ibu Kota.

“Rata-rata tamu kita sangat menikmati dan mengatakan rasanya enak dan serasa di kampung halaman,” katanya.

Ungkapan tersebut menjadi menarik karena menunjukkan bahwa orang Tabagsel ketika merantau tidak hanya membawa tubuhnya, tetapi juga membawa ingatan, kebiasaan dan makanannya.

Karena itu, keberadaan Rumah Makan Batang Gadis menjadi lebih dari sekadar usaha kuliner. Ia menjadi ruang kecil tempat identitas budaya tetap dirawat melalui rasa.

Bagi perantau yang tidak sempat pulang kampung, semangkuk holat, daun ubi tumbuk, ikan asap atau sambal tuktuk dapat menjadi jembatan menuju memori masa lalu.

Dari sungai menuju meja makan. Dari Mandailing menuju Jakarta. Dari kenangan menuju cita rasa.

Di situlah Batang Gadis terus mengalir—bukan hanya sebagai sungai di tanah Mandailing, tetapi sebagai aliran ingatan dan kebudayaan yang kini bermuara di tengah Ibu Kota.

Dan mungkin benar, untuk “pulang kampung” sejenak, seorang perantau tidak selalu membutuhkan tiket pesawat.

Kadang, cukup duduk di meja makan, mencicipi masakan kampung, lalu membiarkan rasa membawa ingatan pulang.(id29)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement