Breaking News
Memuat breaking news...

Dari Uang Saku Hingga Investasi, Ini 5 Cara Mengajarkan Legacy Sesuai Usia Anak

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 8.04 PM WIB
Dari Uang Saku Hingga Investasi, Ini 5 Cara Mengajarkan Legacy Sesuai Usia Anak
Pemahaman tentang keuangan perlu ditanamkan sejak anak masih kecil.Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Membangun warisan keluarga atau legacy tidak hanya berkaitan dengan harta dan aset yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Lebih dari itu, nilai kehidupan, tanggung jawab, serta pemahaman tentang keuangan perlu ditanamkan sejak anak masih kecil.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menjelaskan bahwa pendidikan tentang uang dan tanggung jawab dapat diberikan secara bertahap, mulai dari pilihan sederhana saat anak menerima uang saku hingga memahami keputusan finansial yang lebih kompleks ketika dewasa.

Hal itu disampaikannya, Kamis (15/10/2026), dalam pembahasan mengenai lima cara mengajarkan legacy sesuai usia anak.

Menurut Albertus, anak tidak serta-merta memahami nilai uang ketika pertama kali menerima penghasilan atau memiliki aset. Pemahaman tersebut tumbuh melalui pengalaman sehari-hari, seperti menentukan penggunaan uang saku, menabung untuk membeli sesuatu yang diinginkan, hingga melihat bagaimana orang tua menetapkan prioritas keuangan keluarga.

Seiring bertambahnya usia, anak juga dapat mulai dilibatkan dalam percakapan keluarga mengenai perencanaan masa depan, pengelolaan aset, dan tanggung jawab antargenerasi.

Pendekatan bertahap ini sejalan dengan temuan Studi Sun Life Asia 2026 bertajuk Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan.

Dari 506 responden di Indonesia, kesempatan pendidikan dan kekayaan sama-sama masuk dalam tiga prioritas warisan teratas bagi 65% responden. Sementara itu, tradisi keluarga dipilih oleh 47% responden.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa bekal bagi generasi berikutnya tidak hanya berupa kekayaan material. Pendidikan, nilai-nilai keluarga, dan pemahaman tentang tanggung jawab juga menjadi bagian penting yang dapat dipersiapkan jauh sebelum aset diwariskan secara formal.

Lima Cara Mengajarkan Legacy Sesuai Usia Anak

1. Usia sekolah dasar: Kenalkan pilihan sederhana

Uang saku dapat menjadi sarana awal untuk mengajarkan anak memahami keuangan. Orang tua dapat membimbing anak membagi uang untuk kebutuhan, tabungan, dan berbagi dengan orang lain.

Alih-alih sekadar melarang anak bersikap boros, orang tua sebaiknya membantu mereka memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dan uang dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda.

Melalui kebiasaan sederhana tersebut, anak mulai belajar mengatur pengeluaran, menentukan prioritas, serta memahami pentingnya menabung.

2. Menjelang remaja: Ajak membuat tujuan keuangan

Ketika anak mulai memiliki keinginan yang lebih besar, orang tua dapat mengajaknya menentukan target dan jangka waktu menabung.

Pendidikan finansial dapat dikaitkan dengan tujuan nyata, seperti membeli buku, perangkat belajar, mengikuti kegiatan tertentu, atau mendapatkan pengalaman yang diinginkan.

Dengan cara ini, anak belajar bahwa mencapai suatu tujuan membutuhkan perencanaan, kesabaran, dan konsistensi.

Kebiasaan tersebut juga membantu mereka memahami bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi seketika.

3. Masa remaja: Ceritakan perjalanan keuangan keluarga

Memasuki usia remaja, anak mulai mampu memahami bahwa kondisi finansial keluarga terbentuk melalui proses panjang.

Orang tua dapat berbagi pengalaman tentang bagaimana keluarga menghadapi masa sulit, memperbaiki keputusan keuangan, membangun usaha, atau mengembangkan karier.

Cerita tersebut dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai kerja keras, kehati-hatian, dan tanggung jawab.

Dengan memahami pengalaman nyata keluarga, anak diharapkan dapat melihat bahwa kestabilan finansial bukan hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan atau aset, tetapi juga oleh cara mengelola sumber daya dan mengambil keputusan.

4. Menjelang dewasa: Kenalkan risiko dan fondasi finansial

Ketika anak mulai memahami pendapatan, biaya pendidikan, dan perencanaan karier, orang tua dapat memperkenalkan dasar-dasar pengelolaan keuangan yang lebih kompleks.

Materi yang dapat dibahas mencakup pengelolaan arus kas, dana darurat, tabungan, investasi sesuai tujuan dan profil risiko, serta perlindungan finansial berdasarkan kebutuhan.

Pada tahap ini, anak perlu memahami bahwa setiap keputusan keuangan memiliki risiko dan harus mempertimbangkan kemungkinan perubahan kondisi di masa depan.

Tujuan utamanya bukan mendorong anak memilih produk keuangan tertentu, melainkan membangun kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

5. Dewasa muda: Libatkan dalam percakapan keluarga

Ketika anak telah memiliki penghasilan atau tanggung jawab finansial sendiri, pembicaraan keluarga dapat berkembang ke persoalan karier, investasi, aset keluarga, hingga perencanaan warisan.

Orang tua dapat mulai melibatkan anak dalam percakapan yang relevan dengan kondisi keluarga. Namun, penyampaian informasi perlu dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan dan tingkat pemahaman mereka.

Melalui keterlibatan tersebut, anak dapat memahami latar belakang keputusan keluarga, tanggung jawab dalam mengelola aset, serta pentingnya menjaga nilai-nilai yang diwariskan.

Dengan demikian, ketika suatu hari menerima tanggung jawab yang lebih besar, mereka memiliki bekal pemahaman untuk mengelolanya secara bijaksana.

Legacy Dibangun Sejak Dini

Pada akhirnya, mengajarkan legacy bukan sekadar satu percakapan mengenai warisan, melainkan proses panjang yang berkembang seiring pertumbuhan anak.

Rumah, uang, dan bisnis dapat diwariskan pada waktu tertentu. Namun, pemahaman tentang tanggung jawab, kebiasaan mengelola keuangan, serta nilai-nilai kehidupan dibangun sedikit demi sedikit melalui pengalaman sehari-hari.

Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi berikutnya, bukan hanya agar mampu menerima warisan, tetapi juga memahami cara menjaga dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Pendidikan finansial sejak dini diharapkan dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dalam mengambil keputusan, memahami risiko, serta memiliki kesiapan menghadapi tantangan kehidupan pada masa mendatang.

Catatan Metodologi

Studi Sun Life Asia 2026 bertajuk Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan melibatkan 506 responden di Indonesia. Beberapa temuan menggunakan basis responden tertentu sebagaimana dijelaskan dalam metodologi studi.

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum, bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau perpajakan. Setiap keputusan perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi finansial, profil risiko, serta ketentuan yang berlaku. Manfaat produk asuransi, apabila disebutkan, mengikuti syarat dan ketentuan polis. (wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement