Datok Yan Djuna Apresiasi Dialog AHY Dengan 8 Kesultanan SumutDatok Yan Djuna Apresiasi Dialog AHY Dengan 8 Kesultanan Sumut

MEDAN (Waspada.id): Tokoh pemuda Melayu sekaligus penyiar program Resam Melayu RRI Pro 4 FM Medan, Datok Yan Djuna, mengapresiasi langkah Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang membuka ruang dialog bersama para pemangku delapan Kesultanan di Sumatera Utara.
Pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup belum lama ini kediaman tokoh masyarakat Sumatera Utara sekaligus Ketua Overlanding Sumut, H. Irmansyah Lubis, Jalan Rajawali, Sunggal, Medan. Pertemuan dikoordinasikan H. Syarifuddin Siba dan berlangsung di sela kunjungan kerja AHY ke Medan.
Kunjungan tersebut berkaitan dengan agenda Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2026 di Lapangan Merdeka serta Rakernas XVIII APEKSI 2026 di Hotel JW Marriott Medan.
Menurut Datok Yan Djuna, sikap AHY yang bersedia berdialog dan mendengarkan langsung aspirasi para pemangku Kesultanan merupakan langkah positif dalam memperkuat komunikasi antara pemerintah dengan lembaga adat dan masyarakat.
"Saya hadir langsung di acara tersebut ketika AHY bersama jajarannya menemui para Sultan dan membuka ruang dialog. Beliau datang dengan penuh keramahan dan senyuman meskipun Kota Medan saat itu sedang diguyur hujan deras usai penutupan Rakernas XVIII APEKSI," ujar Datok Yan Djuna.
Ia menilai kesediaan AHY mendengarkan aspirasi delapan Kesultanan, yakni Deli, Langkat, Serdang, Asahan, Billah, Kualuh, Panai, dan Kota Pinang, di tengah kesibukannya sebagai pejabat negara merupakan sikap negarawan yang patut diapresiasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Datok Yan Djuna saat berkumpul bersama sejumlah musisi dan seniman Melayu Kota Medan di Cafe Wak Bogeng, Medan Marelan. Pertemuan itu turut dihadiri Jamal Accordion, eks Lebah Begantong, Syahrizal selaku gitaris, serta Syamsul Baqi, keyboardist yang merupakan putra maestro musik Melayu, Prof. Ahmad Baqi, pimpinan OM El-Surayya.
Menurutnya, dialog antara pemerintah dan Kesultanan memiliki arti penting dalam mempererat komunikasi sekaligus mencari solusi terhadap berbagai persoalan sejarah, tanah ulayat, dan warisan budaya.
"Dialog seperti ini penting untuk mempertemukan pemerintah, lembaga adat, akademisi, budayawan dan masyarakat. Dengan komunikasi yang baik, berbagai persoalan warisan sejarah dan budaya dapat dibahas secara adil serta tetap berlandaskan hukum," katanya.

Para tokoh Melayu dari Kesultanan Kualuh, Kesultanan Serdang, Tokoh Masyarakat Sumut Irwansyah Lubis, Kesultanan Asahan dan Kesultanan Bilah. Waspada.id/ist
Aspirasi Tanah Ulayat
Dalam pertemuan tersebut, para raja dan sultan menyampaikan sejumlah aspirasi, di antaranya mengenai keberadaan sekitar 5.000 hektare tanah ulayat di kawasan Sumatera Timur yang masa konsesinya telah berakhir.
Menanggapi aspirasi tersebut, AHY menyampaikan komitmen pemerintah untuk menyikapi persoalan tanah ulayat secara bijaksana, objektif, serta berpedoman pada koridor hukum dan prinsip keadilan.
Dalam konteks reforma agraria, pemerintah menekankan dua agenda utama, yakni pengelolaan aset pertanahan melalui kejelasan hak kepemilikan serta pengelolaan akses pertanahan agar aset tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat.
AHY juga menyampaikan bahwa klaim historis dapat ditindaklanjuti sebagai dasar pengajuan hak apabila didukung penguasaan fisik, bukti administratif, dan legalitas hukum yang memadai.
Untuk itu, pemerintah akan memfasilitasi koordinasi teknis bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) guna melakukan verifikasi terhadap data dan dokumen yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Pelestarian Cagar Budaya
Selain persoalan tanah ulayat, dialog juga membahas keberadaan aset dan bangunan bersejarah yang berkaitan dengan peristiwa Revolusi Sosial 1946.
AHY menyampaikan bahwa pelestarian cagar budaya merupakan bagian penting dari pembangunan nasional. Pemerintah akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mendorong revitalisasi, rehabilitasi, sekaligus penguatan status hukum terhadap bangunan-bangunan bersejarah tersebut.
Datok Yan Djuna menilai perhatian pemerintah terhadap sejarah dan kebudayaan Melayu Sumatera Timur perlu terus dikawal agar berbagai peninggalan sejarah tidak hilang akibat perkembangan zaman.
Ditutup dengan Kuliner Melayu Deli
Suasana silaturahmi berlangsung hangat dan ditutup dengan santap malam bersama. AHY dan rombongan menikmati sejumlah kuliner khas Melayu Deli, seperti bubur pedas, roti jala dengan kari kambing, gulai asam ikan baung, serta aneka kue tradisional, di antaranya rasidah, tempur banda, dan halwa.
Santap malam tersebut juga diiringi alunan musik Melayu klasik dan modern yang semakin menambah keakraban suasana.
Sebagai bentuk penghormatan, Datok Yan Djuna turut menyerahkan cenderamata berupa Tengkulok Mahkota Alam dan kain songket karya UMKM Melayu kepada AHY melalui H. Irmansyah Lubis.
Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah akademisi, sejarawan, cendekiawan Muslim, budayawan, serta tokoh masyarakat Sumatera Utara.
Datok Yan Djuna yang juga merupakan bagian dari Tim Humas Universitas Prima Indonesia (UNPRI) berharap dialog serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga aspirasi Kesultanan dan masyarakat Melayu Sumatera Utara dapat tersampaikan secara langsung kepada pemerintah. (wsp.id)

























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda