Breaking News
Memuat breaking news...

Daya Beli Tertekan, Konsumsi Semester II 2026 Terancam Melambat

Redaksi
Redaksi
Senin, 31 Agustus 2026 - 7.32 AM WIB
Daya Beli Tertekan, Konsumsi Semester II 2026 Terancam Melambat
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia pada paruh pertama 2026. Namun, sejumlah indikator mulai menunjukkan tekanan terhadap daya beli masyarakat yang berpotensi berlanjut hingga semester II.

Pelemahan penjualan ritel, penurunan keyakinan konsumen, hingga tertahannya pembelian aset bernilai besar menjadi sinyal bahwa rumah tangga mulai lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya.

Secara agregat, konsumsi rumah tangga secara riil masih tumbuh dan mencapai sekitar Rp1.887,7 triliun. Namun, ketahanan konsumsi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada seluruh indikator pengeluaran masyarakat.

Setelah sempat menguat pada momentum Ramadan dan Idul Fitri, pertumbuhan penjualan ritel kembali melemah. Pada Mei 2026, penjualan ritel bahkan terkontraksi 3,9% secara tahunan.

Perbedaan antara konsumsi agregat yang masih tumbuh dengan pelemahan sejumlah indikator ritel menunjukkan bahwa daya tahan konsumsi masyarakat mulai menghadapi tantangan.

Melansir Investor Daily, Peneliti Ekonomi Great Institute Trisha Devita Indraswari mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya melihat konsumsi tidak hanya berdasarkan pertumbuhan agregat, tetapi juga dari perubahan perilaku belanja rumah tangga.

“Konsumsi memang masih tumbuh, tetapi rumah tangga mulai semakin selektif dalam membelanjakan pendapatannya. Ketika penjualan ritel melemah setelah momentum musiman berakhir, ini menunjukkan bahwa daya dorong konsumsi belum cukup kuat untuk bertahan secara konsisten,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/8/2026).

Keyakinan Konsumen Menurun

Trisha menjelaskan, keputusan konsumsi rumah tangga tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan yang diterima pada satu periode. Masyarakat juga mempertimbangkan prospek pendapatan yang dapat dipertahankan pada masa mendatang atau permanent income.

Ketika masyarakat menilai pendapatan maupun kondisi pekerjaan di masa depan semakin tidak pasti, peningkatan pendapatan yang bersifat sementara belum tentu langsung mendorong kenaikan konsumsi.

Sinyal tersebut tercermin dari penurunan keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, meski masih berada di zona optimistis.

Pelemahan juga terlihat pada ekspektasi masyarakat terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha ke depan.

Kondisi ini berpotensi mendorong rumah tangga melakukan precautionary saving, yakni meningkatkan kehati-hatian dengan menyimpan sebagian pendapatan sebagai bantalan menghadapi ketidakpastian.

Dengan demikian, daya beli tidak hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk melakukan konsumsi saat ini atau ability to spend, tetapi juga menyangkut kemauan masyarakat untuk membelanjakan pendapatannya atau willingness to spend.

“Rumah tangga tidak hanya melihat kondisi hari ini. Ketika keyakinan terhadap pendapatan dan pekerjaan ke depan mulai menurun, respons yang muncul biasanya adalah meningkatkan kehati-hatian, menunda pengeluaran yang tidak mendesak, dan mempertahankan tabungan lebih lama,” kata Trisha.

Pembelian Rumah Mulai Ditunda

Pola kehati-hatian tersebut semakin terlihat pada pembelian aset bernilai besar, terutama perumahan.

Penjualan rumah primer tercatat terkontraksi 25,67% secara tahunan pada kuartal I-2026. Di saat yang sama, pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) terus melambat hingga berada di level satu digit.

Great Institute menilai indikator sektor perumahan menjadi salah satu gambaran penting mengenai tingkat keyakinan rumah tangga terhadap stabilitas pendapatan, pekerjaan, serta kemampuan membayar dalam jangka panjang.

Secara ekonomi, pembelian rumah dan barang tahan lama atau durable goods memiliki karakter berbeda dibandingkan konsumsi kebutuhan sehari-hari.

Pembelian aset tersebut relatif lebih mudah ditunda karena membutuhkan dana besar, akses pembiayaan, serta komitmen pembayaran dalam jangka panjang.

Karena itu, ketika ketidakpastian meningkat, penyesuaian konsumsi biasanya lebih cepat terlihat pada pembelian rumah, kendaraan, maupun barang tahan lama dibandingkan kebutuhan pokok.

“Pembelian rumah memberikan sinyal yang lebih kuat mengenai keyakinan rumah tangga dibandingkan konsumsi sehari-hari. Ketika masyarakat merasa pendapatan dan pekerjaannya cukup aman, mereka lebih berani mengambil komitmen jangka panjang. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, pembelian bernilai besar menjadi salah satu yang pertama ditunda,” jelas Trisha.

Dengan sejumlah indikator tersebut, konsumsi rumah tangga masih memiliki peran penting dalam menopang perekonomian Indonesia. Namun, pelemahan penjualan ritel, turunnya keyakinan konsumen, serta penundaan pembelian aset bernilai besar menjadi sinyal bahwa daya dorong konsumsi pada semester II 2026 perlu diwaspadai. (invid)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement