Breaking News
Memuat breaking news...

Defisit APBN Melebar Jadi Rp319 Triliun, Tembus 1,24 Persen PDB

Redaksi
Redaksi
Jumat, 9 Oktober 2026 - 6.21 AM WIB
Defisit APBN Melebar Jadi Rp319 Triliun, Tembus 1,24 Persen PDB
Menteri Keuangan Suahasil Nazara
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 semakin melebar memasuki akhir September. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat defisit APBN mencapai Rp319 triliun atau 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Posisi tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan akhir Agustus 2026 yang mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen PDB. Artinya, dalam satu bulan defisit APBN melebar sekitar Rp78,9 triliun.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, meski defisit meningkat, kinerja APBN hingga tiga perempat tahun 2026 masih berada dalam jalur yang sesuai target atau on track.

"Sampai dengan akhir September 2026, beberapa hari yang lalu, kinerja anggaran kita cukup baik. Pendapatan negara telah terkumpul Rp2.341,5 triliun, 74,5 persen dari target," ujar Suahasil dalam paparannya di Investor Daily Summit 2026, Jakarta, Kamis (8/10).

Pendapatan Negara Tembus Rp2.341,5 Triliun

Hingga akhir September 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp2.341,5 triliun atau sekitar 74,5 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN.

Suahasil menilai capaian tersebut masih sejalan dengan periode waktu yang telah berjalan. Sebab, hingga September, tahun anggaran 2026 telah memasuki tiga perempat periode.

"Kalau pendapatan negara sudah terkumpul 74 persen, artinya on track," katanya.

Di sisi lain, belanja negara hingga akhir September telah mencapai Rp2.660,5 triliun, atau sekitar 69 persen dari pagu anggaran.

Realisasi belanja tersebut diperkirakan masih akan meningkat dalam dua bulan terakhir 2026. Pemerintah akan melakukan percepatan belanja, terutama menjelang akhir tahun.

"Belanja negara sudah dibelanjakan Rp2.660,5 triliun. Ini adalah 69 persen. Relatively on track, tentu nanti akan ada percepatan belanja, terutama di November dan di Desember," ujarnya.

Defisit Melebar Hampir Rp79 Triliun

Selisih antara pendapatan dan belanja negara tersebut membuat APBN mengalami defisit Rp319 triliun hingga September.

"Defisit APBN di angka Rp319 triliun, dan defisit (setara) 1,24 persen PDB, dan memang APBN kita dari sejak awal didesain untuk defisit," kata Suahasil.

Defisit terjadi karena belanja negara yang mencapai Rp2.660,5 triliun lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara sebesar Rp2.341,5 triliun.

Jika dibandingkan dengan posisi akhir Agustus, defisit APBN meningkat dari Rp240,1 triliun menjadi Rp319 triliun. Secara nominal, defisit bertambah sekitar Rp78,9 triliun hanya dalam satu bulan.

Pemerintah Klaim APBN Tetap Kredibel

Suahasil menegaskan defisit merupakan bagian dari desain APBN. Pemerintah memang merancang belanja negara lebih besar dibandingkan penerimaan untuk menjalankan fungsi APBN sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi sekaligus perlindungan masyarakat.

"Artinya kita desain supaya belanja negara bisa lebih tinggi dari apa yang kita kumpulkan dari masyarakat, pendapatan negara. APBN akan terus menjadi APBN yang menumbuhkan, APBN yang melindungi, dan APBN yang akan terus kredibel," ujar Suahasil.

Menurutnya, pemerintah tetap menjaga angka-angka dalam APBN agar kredibilitas anggaran tetap terpelihara.

"Angka-angkanya kita jaga, sehingga dapat dipercaya bahwa APBN ini adalah APBN yang mengumpulkan uang dari rakyat, namun juga belanjanya kembali lagi kepada masyarakat Indonesia," kata Suahasil.

Sebagai pembanding, hingga akhir Agustus 2026 pendapatan negara tercatat Rp2.055,69 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp2.295,7 triliun. Dengan demikian, APBN pada periode tersebut mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB.

Memasuki kuartal terakhir 2026, pemerintah masih memiliki ruang untuk mempercepat realisasi belanja. Kondisi tersebut berpotensi membuat defisit kembali meningkat hingga akhir tahun, seiring dengan percepatan belanja pemerintah pada November dan Desember. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement