Dengan TKD Tambahan Bronjong Dibangun di Sawmill, Warga Berharap Sungai Tak Lagi Melahap Tanah


TAPANULI SELATAN (Waspada.id): Muhammad Arifin masih mengingat jelas dini hari yang mencekam itu. Sekitar pukul 03.00–04.00, ia hendak melaksanakan salat lalu keluar membawa senter dan menyaksikan musala di tepi sungai sudah mulai hancur.
Ia dan warga sempat berupaya memindahkan barang-barang ke lokasi yang lebih aman, tetapi derasnya arus membuat upaya itu tidak sepenuhnya berhasil. Sekitar 40–50 meter lahan miliknya tergerus, beserta satu musala, satu rumah, tiga tempat usaha, serta puluhan batang sawit miliknya.
“Kami pindah ke Pustu, istirahat sejam saja. Keluar pagi-paginya, semuanya sudah hilang tersapu sungai,” kenang Muhammad Arifin pada Senin (2/11/2026) yang mengulas kembali musibah November 2025 lalu. Pustu adalah Puskesmas Pembantu.
Ia berharap bronjong yang kini dibangun benar-benar bertahan, dan aliran sungai dapat dialirkan dengan lebih teratur agar tidak terus mengancam kampung Dusun Sawmill, Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan,
Di lokasi pekerjaan, Ali Akbar Daulay (60), Kepala Tukang Proyek CV Tondi Simbolon, menceritakan betapa beratnya bekerja di tepi sungai yang kerap naik surut. Para pekerja terlebih dahulu membentuk rangka kawat, lalu melakukan penggalian fondasi menggunakan alat berat sebelum menyusun batu kali ke dalam bronjong berukuran 2 x 1 meter setinggi 1,5 meter.
Di titik paling parah sepanjang sekitar 80 meter, bronjong dipasang empat lapis, sedangkan bagian lain tiga lapis dengan ketinggian keseluruhan sekitar tiga meter. Total kebutuhan diperkirakan mencapai 1.800 unit untuk keseluruhan sekitar 200 meter.

Selain Proyek Pembangunan Bronjong Pengaman Jalan Batas Kota Gua Asom–Batas Angkola Sangkunur, pekerja juga melakukan cut untuk pelebaran jalan, di jalan lintas Angkola Selatan, Senin (2/11/2026). (Dok Tim Media Satgas PRR)
“Sudah empat kali banjir sejak kami mulai bekerja. Kalau air naik, kami harus berhenti dulu, tunggu surut baru lanjut lagi. Kami pakai perlengkapan keselamatan lengkap karena lokasi ini berbahaya,” ujar Ali Akbar.
Ia menambahkan sekitar 15–20 pekerja dilibatkan, material batu dan kawat sejauh ini terpenuhi, tetapi cuaca tetap menjadi tantangan utama. Berdasarkan Surat Perintah Mulai Kerja, pekerjaan dimulai 26 Oktober dan ditargetkan selesai akhir November 2026.
Kepala Bidang Bina Marga II Dinas PUPR Kabupaten Tapanuli Selatan, Andri Agusman Harahap, mengonfirmasi bahwa ini merupakan satu paket pekerjaan mencakup tiga titik, yakni bronjong sepanjang sekitar 200 meter serta pemotongan bukit atau cutting di kawasan Aek Natas. Ia menyatakan proyek ini merupakan bagian pemulihan pascabencana melalui alokasi TKD Tambahan dari pemerintah pusat agar badan jalan tidak amblas dan aliran sungai tidak terus menggerus permukiman.
TKD Tambahan merupakan alokasi dana Transfer Ke Daerah tambahan dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah untuk mendukung percepatan rehabilitasi, pemulihan ekonomi atau penyelesaian masalah infrastruktur di wilayah.
“Kami berterima kasih karena pemerintah pusat masih memperhatikan daerah kami yang terdampak bencana. Bronjong ini berfungsi menahan tebing sehingga jalan tetap terjaga dan warga lebih aman,” ujar Andri.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera akan berlangsung hingga tahun 2028. Ia mengingatkan bahwa sungai-sungai yang mengalami sedimentasi harus segera ditangani karena apabila dibiarkan, hujan lebat saja sudah dapat memicu banjir susulan.
“Poin yang paling penting adalah pemulihan percepatan rehab-rekon bencana Sumatera terus berjalan dan ini berjalan sampai tahun 2028. Karena sedimen ini kalau tidak ditangani, hujan lebat sedikit, banjir lagi. Itu tantangannya kita, kita tidak akan berhenti untuk menangani dalam rangka menyelamatkan rakyat,” ujar Tito Karnavian dalam pernyataan yang dikutip dari dokumen Satgas PRR.
Pembangunan bronjong di Dusun Sawmill pun sejalan dengan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028 yang mengarahkan penguatan tebing sungai, penanganan sedimen, serta pembangunan kembali dengan prinsip Build Back Better, Safer and Sustainable. Dalam kerangka nasional, Kementerian PU telah mengalokasikan pagu efektif Rp21,42 triliun untuk penanganan bencana di Sumatera yang mencakup sektor sumber daya air, Bina Marga, Cipta Karya, dan prasarana strategis.
Meski demikian, data Kemendagri menunjukkan realisasi TKD Tambahan di Sumatera Utara hingga 30 Oktober mencapai 29,91 persen dari total Rp6,34 triliun, sedangkan Kabupaten Tapanuli Selatan tercatat sebesar Rp46,9 miliar atau 18,35 persen dari total Rp255,9 miliar. Hal ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana masih membutuhkan percepatan di sejumlah titik.
Bagi warga Dusun Sawmill, ruas jalan itu bukan sekadar jalur aspal. Di atasnya melintas kendaraan pengangkut sawit, sepeda motor, anak sekolah, serta aktivitas ekonomi harian yang menjadi tumpuan hidup. Selama pekerjaan berlangsung, rambu-rambu peringatan telah dipasang agar pengguna jalan waspada terhadap alat berat dan tumpukan material.
Di Dusun Sawmill, Muhammad Arifin menyaksikan bronjong disusun lapis demi lapis. Bagi dia, itu adalah bukti negara hadir melalui TKD Tambahan, Satgas PRR, pemerintah daerah, kontraktor, dan para pekerja yang berjuang di tengah hujan serta banjir susulan. Namun harapannya tidak berhenti pada bronjong saja. Ia berharap sungai benar-benar dialirkan dengan teratur agar tanah yang tersisa tidak kembali menjadi santapan arus.
“Sudah hampir setahun kami hidup cemas. Kalau bronjong ini bertahan, kami bisa kembali tenang berusaha di sini,” ucapnya.
Berita Terkait












































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda