Dengan TKD Tambahan Bronjong Pengaman Jalan Dibangun di Tapsel, Warga: “Kini Kami Hidup Tenang”


TAPANULI SELATAN (Waspada.id): Pembangunan bronjong pengaman jalan sepanjang ruas Batas Kota Gua Asom hingga Batas Angkola Sangkunur di Lingkungan Siondop Sawmill, Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Angkola Selatan, terus berlangsung. Proyek senilai hampir Rp3 miliar yang didukung TKD Tambahan Tahun Anggaran 2026 ini menjadi bagian dari upaya pemulihan infrastruktur pascabanjir bandang sekaligus ikhtiar mencegah badan jalan dan permukiman warga kembali tergerus sungai.
Kepala Tukang Proyek CV Tondi Simbolon, Ali Akbar Daulay (60), menyatakan bahwa pekerjaan di Dusun Sawmill difokuskan pada pemasangan bronjong sepanjang sekitar 200 meter. Pada titik yang paling parah terdampak longsor sepanjang sekitar 80 meter, struktur diperkuat dengan empat lapis bronjong, sedangkan bagian yang kondisinya lebih stabil menggunakan tiga lapis dengan ketinggian keseluruhan sekitar tiga meter.
“Ukuran bronjongnya 2 x 1 meter dengan tinggi 1,5 meter. Kebutuhan keseluruhan diperkirakan mencapai sekitar 1.800 unit. Sebelum dipasang, kami membentuk rangka kawat terlebih dahulu, lalu melakukan penggalian fondasi menggunakan alat berat,” ujar Ali Akbar pada Senin (2/11/2026).
Ia menambahkan bahwa sekitar 15 hingga 20 tenaga kerja dilibatkan dalam proyek ini. Material batu kali dan kawat sejauh ini tersedia cukup memadai. Kendala utama justru berasal dari cuaca yang tidak menentu. Karena lokasi pekerjaan berada di tepi sungai, saat hujan deras debit air naik dan pekerjaan di bagian bawah tebing harus dihentikan sementara hingga air surut.

Proyek pembangunan bronjong pengaman jalan Batas Kota Gua Asom–Batas Angkola Sangkunur yang berlokasi di Dusun Sawmill, Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (2/11/2026). Tampak warga dan pengendara melintasi jalan yang sedang diperbaiki pascabencana Sumatera yang menghancurkan jalan pada November 2025. (Dok. Tim Media Satgas PRR)
“Sudah ada empat kali banjir sejak kami mulai bekerja. Kalau air naik kami harus berhenti dulu, lalu kembali melanjutkan setelah surut. Kami juga melengkapi pekerja dengan perlindungan keselamatan karena lokasi ini berisiko,” tuturnya.
Kepala Bidang Bina Marga II Dinas PUPR Kabupaten Tapanuli Selatan, Andri Agusman Harahap, mengonfirmasi bahwa proyek ini merupakan satu paket pekerjaan yang mencakup tiga titik penanganan. Selain bronjong sepanjang sekitar 200 meter, terdapat pula pekerjaan pemotongan bukit (cutting) di kawasan Aek Natas. Berdasarkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), pengerjaan dimulai pada 26 Oktober 2026 dan ditargetkan selesai pada akhir November 2026.
“Bronjong ini berfungsi sebagai penahan tebing agar badan jalan tidak amblas serta mencegah aliran sungai langsung menggerus ruas jalan. Kerusakan ini bermula dari banjir bandang tahun lalu. Kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat karena telah menyalurkan TKD Tambahan untuk pemulihan daerah terdampak bencana,” ujar Andri.
Muhammad Arifin Pulungan (60), warga Lingkungan Siondop Sawmill, menjadi salah satu warga yang merasakan langsung dampak banjir bandang November 2025. Ia menceritakan bahwa pada dini hari sekitar pukul 03.00–04.00, arus sungai tiba-tiba melonjak dan menyapu sebagian lahan serta bangunan miliknya. Sekitar 40–50 meter lahan miliknya tergerus, beserta satu musala, satu rumah, serta tiga tempat usaha di tepi sungai.
“Kami sempat berusaha memindahkan barang-barang, tetapi arus terlalu deras. Sekarang kami berharap bronjong ini benar-benar bertahan sehingga kami bisa kembali hidup tenang. Kami juga berharap sungai ini dialirkan lebih lurus agar tidak terus mengancam kampung,” ceritanya.
Di lapangan, ruas jalan tersebut tetap dilalui warga untuk mengangkut hasil perkebunan sawit, berangkat sekolah, serta menjalankan aktivitas harian. Petugas telah memasang rambu peringatan di lokasi pekerjaan agar pengguna jalan waspada terhadap tumpukan material dan aktivitas alat berat.
“Kami berharap pekerjaan ini selesai tepat waktu dan benar-benar melindungi kampung kami dari banjir berikutnya,” harap Muhammad Arifin.
Negara Hadir
Proses rehabilitasi dan pemulihan infrastruktur pascabencana di Kabupaten Tapanuli Selatan terus berjalan melalui pembangunan bronjong pengaman jalan di Dusun Sawmill. Kehadiran proyek ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk masyarakat terdampak bencana, tidak hanya melalui dukungan anggaran TKD Tambahan dari pemerintah pusat, tetapi juga melalui kerja nyata pemerintah daerah dalam menangani kerusakan infrastruktur.
Berbagai upaya terus dilakukan agar pembangunan dapat diselesaikan sesuai target, meskipun dihadapkan pada kendala cuaca dan kenaikan debit sungai. Negara bekerja keras memastikan infrastruktur yang rusak kembali terlindungi sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih aman dan nyaman. Seluruh proses ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kontraktor pelaksana, para pekerja, serta masyarakat yang bersama-sama mendorong percepatan pemulihan dan pembangunan kembali kawasan terdampak bencana.
Data dan Latar Belakang
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera memastikan berbagai upaya penanganan terus berjalan sesuai target. Hal ini termasuk upaya rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) di sektor infrastruktur dan fasilitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Berdasarkan dokumen rencana induk rehab-rekon, proses penanganan pascabencana Sumatera berlangsung mulai 2026 hingga 2028. “Poin yang paling penting adalah pemulihan percepatan rehab-rekon bencana Sumatera terus berjalan dan ini berjalan sampai tahun 2028,” jelas Tito.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memiliki tanggung jawab besar karena menangani rehab-rekon berbagai infrastruktur yang terdampak. Infrastruktur tersebut meliputi ruas jalan, sungai, jembatan, dan fasilitas pendidikan. Ia menyebutkan bahwa tak sedikit sungai mengalami sedimentasi sehingga membutuhkan penanganan cepat.
“Karena sedimen ini kalau tidak ditangani, hujan lebat sedikit, banjir lagi,” terangnya.
Tito mengungkapkan bahwa penanganan pascabencana Sumatera membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pasalnya, bencana alam di Sumatera berdampak luas, terlebih dengan adanya bencana susulan seperti banjir yang turut merusak infrastruktur yang telah diperbaiki.
“Tapi itu tantangannya kita, kita enggak akan berhenti untuk menangani dalam rangka untuk menyelamatkan rakyat,” jelasnya.
Kementerian Pekerjaan Umum mengalokasikan pagu efektif sebesar Rp21,42 triliun untuk penanganan bencana di Sumatera. Anggaran tersebut mencakup pemulihan infrastruktur sumber daya air, jalan nasional, jembatan, serta prasarana strategis di wilayah terdampak.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum, Apri Artoto, menjelaskan bahwa dari total anggaran tersebut, sektor sumber daya air memperoleh alokasi Rp7,85 triliun, disusul Bina Marga sebesar Rp6,64 triliun, Cipta Karya Rp4,05 triliun, dan prasarana strategis Rp2,89 triliun.
Penanganan infrastruktur sumber daya air menjadi salah satu fokus dalam upaya mengurangi risiko bencana banjir berulang. Pekerjaan mencakup rehabilitasi daerah irigasi, penanganan sungai dan muara, pembangunan sabodam untuk pengendalian sedimen, serta penyediaan pompa air baku.
Sementara itu, realisasi penggunaan TKD Tambahan dalam APBD Tahun Anggaran 2026 di Provinsi Sumatera Utara masih belum mencapai 30 persen. Hingga 30 Oktober 2026, realisasi TKD Tambahan di seluruh wilayah Sumatera Utara tercatat sebesar Rp1,90 triliun atau 29,91 persen dari total anggaran Rp6,34 triliun.
Data Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah menunjukkan, capaian tersebut merupakan akumulasi anggaran dan realisasi pemerintah provinsi serta kabupaten/kota di Sumatera Utara.
Di tingkat pemerintah provinsi, anggaran TKD Tambahan tercatat sebesar Rp1,1341 triliun. Dari jumlah tersebut, realisasi baru mencapai Rp328,6 miliar atau 28,98 persen.
Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Selatan mencatatkan realisasi sebesar Rp46,9 miliar atau 18,35 persen dari total anggaran Rp255,9 miliar.
Kesesuaian dengan Renduk PRRP
Pembangunan bronjong sejalan dengan arah kebijakan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028. Renduk PRRP mengarahkan pemulihan dan penguatan sistem sungai serta pengendalian risiko banjir berbasis risiko. Salah satu strategi yang ditetapkan adalah rehabilitasi dan penguatan tanggul serta tebing sungai pada segmen kritis yang mengalami kerusakan pascabencana. Arah kebijakan tersebut diwujudkan melalui kegiatan penguatan tebing sungai sebagai bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur sumber daya air.

Kepala tukang dan pengawas sedang memastikan proyek pembangunan bronjong pengaman jalan Batas Kota Gua Asom–Batas Angkola Sangkunur yang berlokasi di Dusun Sawmill, Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, berjalan lancar, Senin (2/11/2026). (Dok. Tim Media Satgas PRR)
Pelaksanaan pembangunan tersebut mencerminkan penerapan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable, yakni membangun kembali infrastruktur pascabencana dengan memperhatikan aspek keselamatan, pengurangan risiko bencana, dan keberlanjutan fungsi infrastruktur. Dengan demikian, pembangunan bronjong tidak hanya berorientasi pada penanganan kerusakan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan infrastruktur dan menjaga konektivitas masyarakat di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda