Breaking News
Memuat breaking news...

Derita Penambang Pidie, Emas di Hulu, Nyawa di Hilir

Redaksi
Redaksi
Minggu, 26 April 2026 - 2.02 PM WIB
Derita Penambang Pidie, Emas di Hulu, Nyawa di Hilir
Seorang penambang emas menyusuri aliran Krueng Inoeng, Mane, Pidie, mendulang di tengah deras arus demi menghidupi keluarga. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Kabut turun seperti tirai alam yang perlahan dibentangkan, menutup lereng-lereng hijau yang diam.Kicau burung mengalun ringan, menyatu dengan suara air yang berlari tanpa lelah. Di sanalah Krueng Inoeng mengalir, tenang di permukaan, namun di dalamnya tersimpan kisah yang tidak semua orang pulang untuk bercerita.

Pagi di Mane selalu tampak indah. Alam seperti melukis dirinya sendiri, pegunungan hijau, udara dingin, dan sungai yang jernih mengalir di sela bebatuan.

Namun di balik keindahan itu, ada getir yang tidak kasat mata. Ada hidup yang dipertaruhkan, ada harapan yang digantungkan pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar pasti.

Zainunis, 29, adalah satu dari sekian banyak penambang emas yang menggantungkan hidup di Krueng Inoeng. Ia bukan petualang, bukan pencari sensasi. Ia hanya seorang kepala keluarga yang berusaha bertahan di tengah kerasnya hidup.

Di tangannya, dulang itu bukan sekadar alat. Ia adalah simbol harapan, harapan agar dapur tetap menyala, agar anaknya tetap bisa makan, agar hidup tidak sepenuhnya kalah.

Namun harapan itu sering kali berdiri di tepi bahaya.

“Ibarat mencari hidup di ujung maut,” ujar seorang warga pelan, matanya tidak lepas dari aliran sungai.

Hari itu, harapan berubah menjadi kehilangan. Saat mencoba menyeberangi sungai, arus yang semula tampak tenang tiba-tiba mengganas. Tidak ada tanda, tidak ada peringatan.

Dalam hitungan detik, tubuh mereka terseret. Dua orang berhasil selamat. Zainunis tidak.Ia hilang.Dan bersama itu, hilang pula satu harapan dari sebuah rumah kecil yang kini dipenuhi diam.

Di rumahnya, waktu seperti berhenti. Seorang ibu menunggu dengan mata yang tidak lagi utuh menyimpan harap. Seorang anak mungkin belum sepenuhnya mengerti, tetapi merasakan ada yang tidak lagi sama.

Kehilangan seperti ini tidak pernah benar-benar selesai. Krueng Inoeng, bagi warga, adalah ironi yang hidup. Ia memberi, tetapi juga merenggut. Ia menghidupi, tetapi juga menguji.

“Kadang tenang, kadang marah. Kalau hujan di hulu, air bisa tiba-tiba naik. Arusnya seperti menarik ke bawah,” kata seorang warga.

Namun mereka tetap datang. Hari demi hari. Tahun demi tahun.Bukan karena berani. Tetapi karena terpaksa. Di balik setiap langkah penambang emas, ada cerita tentang ekonomi yang sesak.

Lapangan kerja yang sempit, harga kebutuhan yang terus naik, dan pilihan hidup yang kian menyempit. Dalam kondisi seperti itu, sungai menjadi satu-satunya jalan, meski jalan itu penuh risiko.

Pemerhati sosial dan ekonomi Pidie, Safwan Ibrahim, Minggu (26/4/2026) dalam bincang bincang dengan Waspada.id, menilai fenomena ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan kegagalan sistemik dalam menyediakan ruang hidup yang layak bagi masyarakat.

“Ibarat rakyat didorong ke tepi jurang, lalu disuruh bertahan tanpa pegangan. Ketika pilihan ekonomi makin sempit, maka risiko apa pun akan diambil, termasuk mempertaruhkan nyawa di sungai,” ujarnya.

Sejumlah warga dan tim SAR menyusuri aliran Krueng Inoeng, Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie, dalam upaya mencari penambang emas yang hilang terseret arus, di tengah keindahan alam yang menyimpan bahaya, Minggu (26/4/2026).

Menurut Safwan, pemerintah tidak boleh terus-menerus bersikap reaktif. “Selama ini negara hadir saat tragedi terjadi, bukan mencegah sebelum korban jatuh. Ini seperti memadamkan api setelah rumah habis terbakar,” katanya tajam.

Ia juga menekankan bahwa persoalan ini harus dilihat sebagai alarm keras bagi kebijakan daerah. “Jika masyarakat terus bergantung pada aktivitas berisiko tinggi seperti ini, artinya ada yang tidak beres dalam sistem ekonomi lokal. Harus ada solusi konkret, lapangan kerja, pemberdayaan ekonomi, dan pengawasan yang jelas,” tambahnya.

Safwan mengibaratkan kondisi ini seperti “lingkaran luka yang tidak pernah putus”. “Rakyat mencari hidup, alam mengambil korban, negara datang setelah kehilangan. Begitu terus berulang,” ujarnya.

Di Krueng Inoeng, cerita seperti ini bukan hal baru. Ia datang berulang, dengan nama yang berbeda, tetapi kisah yang sama, tentang manusia yang mencari hidup, dan alam yang kadang mengambilnya kembali.

Sungai terus mengalir, tanpa henti, tanpa rasa.Sementara manusia, terus datang, membawa harapan, menantang nasib, dan kadang tidak pernah kembali.Mereka bukan mencari mati.Mereka hanya ingin hidup.

Namun ketika hidup terasa begitu sulit, bahkan untuk sekadar bertahan, maka bahaya pun terasa seperti satu-satunya jalan.

Dan di sanalah, di antara kilau emas yang menipu dan arus yang tidak berbelas, manusia perlahan kehilangan, bukan hanya nyawa, tetapi juga pilihan.

Muhammad Riza

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement