Di Arena Piasan Pasai: Ayahwa Bercanda dengan Bang Baneng, Penjual Mi di Atas Pohon Manggis


“Candaan Ayahwa dengan Bang Baneng adalah simbol: perjuangan bisa lahir dari panggung maupun dapur.”
Aceh Utara selalu menemukan cara unik untuk menyalakan kembali ruh sejarahnya. Di tanah Pasai—mercusuar Islam Asia Tenggara—piasan bukan sekadar ritual mengenang masa lalu, melainkan ruang pertemuan antara hikmah dan kreativitas, antara panglima dan rakyat, antara kitab dan wajan.
Pada Kamis siang (10/09/2026), Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil atau Ayahwa menyambangi arena pekan kebudayaan Piasan Pasai. Di salah satu sudut, ia bertemu Bang Baneng, sosok sederhana yang sedang sibuk menumis mi Aceh untuk pelanggan. Suasana mendadak riuh ketika Ayahwa melontarkan candaan kepadanya.
Bang Baneng: Mi Aceh dari Atas Pohon
Siapa Bang Baneng? Ia adalah pria asal Gampong Teungku, Banda Pirak, yang memilih jalan hidup penuh keberanian. Keterbatasan modal tidak membuatnya menyerah. Dengan ide nyeleneh, ia mendirikan warung mi Aceh di atas pohon manggis. Dari ketinggian beberapa meter, ia menumis bumbu rempah khas Aceh, lalu menurunkan mi kepada pelanggan dengan tali. Pohon pun menjelma panggung kuliner.
Kreativitas yang lahir dari keterjepitan ini membuat Bang Baneng viral di media sosial. Dan di arena Piasan Pasai, ia menunjukkan langsung semangat itu kepada Ayahwa.
Piasan Pasai: Dari Kitab ke Wajan
Piasan Pasai kembali berdenyut, bukan hanya lewat kisah Sultan Malikussaleh, tetapi juga lewat keberanian anak-anak Aceh hari ini. Usaha Bang Baneng seolah menyampaikan pesan: kejayaan lahir dari keberanian menyalakan pelita di tengah gelap.
Ayahwa dan Bang Baneng, dengan cara masing-masing, menjadikan Aceh Utara bukan sekadar tanah kenangan, melainkan tanah perlawanan yang terus hidup. Sejarah tidak hanya ditulis di kitab, tetapi juga di wajan dan sutil.
Simbol Perjuangan dari Candaan
Piasan Pasai mengajarkan bahwa peradaban tegak karena ilmu dan adab. Bang Baneng mengingatkan bahwa mimpi bisa tumbuh bahkan dari atas pohon manggis. Dan di piasan itu, candaan Ayahwa dengan Bang Baneng menjadi simbol: perjuangan bisa lahir dari keseriusan maupun kelucuan, dari panggung maupun dapur.
Pesan yang menyala jelas: bangkitlah dengan ilmu, beradablah dengan kepemimpinan, dan jangan pernah menyerah pada keterbatasan. WASPADA.id
Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda