Breaking News
Memuat breaking news...

Di Arena Piasan Pasai: Ayahwa Bercanda dengan Bang Baneng, Penjual Mi di Atas Pohon Manggis

Redaksi
Redaksi
Jumat, 11 September 2026 - 1.21 PM WIB
Di Arena Piasan Pasai: Ayahwa Bercanda dengan Bang Baneng, Penjual Mi di Atas Pohon Manggis
Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil bercanda dengan Bang Baneng, penjual mi di atas pohon manggis yang membuka usaha mie Aceh di arena Piasan Pasai Milad Aceh Utara ke-800 Tahun.Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

“Candaan Ayahwa dengan Bang Baneng adalah simbol: perjuangan bisa lahir dari panggung maupun dapur.”

Aceh Utara selalu menemukan cara unik untuk menyalakan kembali ruh sejarahnya. Di tanah Pasai—mercusuar Islam Asia Tenggara—piasan bukan sekadar ritual mengenang masa lalu, melainkan ruang pertemuan antara hikmah dan kreativitas, antara panglima dan rakyat, antara kitab dan wajan.

Pada Kamis siang (10/09/2026), Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil atau Ayahwa menyambangi arena pekan kebudayaan Piasan Pasai. Di salah satu sudut, ia bertemu Bang Baneng, sosok sederhana yang sedang sibuk menumis mi Aceh untuk pelanggan. Suasana mendadak riuh ketika Ayahwa melontarkan candaan kepadanya.

Bang Baneng: Mi Aceh dari Atas Pohon

Siapa Bang Baneng? Ia adalah pria asal Gampong Teungku, Banda Pirak, yang memilih jalan hidup penuh keberanian. Keterbatasan modal tidak membuatnya menyerah. Dengan ide nyeleneh, ia mendirikan warung mi Aceh di atas pohon manggis. Dari ketinggian beberapa meter, ia menumis bumbu rempah khas Aceh, lalu menurunkan mi kepada pelanggan dengan tali. Pohon pun menjelma panggung kuliner.

Kreativitas yang lahir dari keterjepitan ini membuat Bang Baneng viral di media sosial. Dan di arena Piasan Pasai, ia menunjukkan langsung semangat itu kepada Ayahwa.

Piasan Pasai: Dari Kitab ke Wajan

Piasan Pasai kembali berdenyut, bukan hanya lewat kisah Sultan Malikussaleh, tetapi juga lewat keberanian anak-anak Aceh hari ini. Usaha Bang Baneng seolah menyampaikan pesan: kejayaan lahir dari keberanian menyalakan pelita di tengah gelap.

Ayahwa dan Bang Baneng, dengan cara masing-masing, menjadikan Aceh Utara bukan sekadar tanah kenangan, melainkan tanah perlawanan yang terus hidup. Sejarah tidak hanya ditulis di kitab, tetapi juga di wajan dan sutil.

Simbol Perjuangan dari Candaan

Piasan Pasai mengajarkan bahwa peradaban tegak karena ilmu dan adab. Bang Baneng mengingatkan bahwa mimpi bisa tumbuh bahkan dari atas pohon manggis. Dan di piasan itu, candaan Ayahwa dengan Bang Baneng menjadi simbol: perjuangan bisa lahir dari keseriusan maupun kelucuan, dari panggung maupun dapur.

Pesan yang menyala jelas: bangkitlah dengan ilmu, beradablah dengan kepemimpinan, dan jangan pernah menyerah pada keterbatasan. WASPADA.id

Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement