Di Balik Lumpur dan Kesulitan: Cerita Bupati Armia Pahmi Memimpin di Tengah Bencana

ACEH TAMIANG (Waspada.id): Siapa sangka, akhir November 2025 mengukir sejarah kelam sekaligus membuktikan ketangguhan Kabupaten Aceh Tamiang. Dari hulu hingga hilir, wilayah ini berubah laksana kota mati. Banjir bandang yang membawa material lumpur tebal, kayu gelondongan, pasir, dan bebatuan melanda hampir seluruh permukiman, menyapu habis rumah, sawah, jalan, sekolah, hingga tempat ibadah.
Air dan lumpur setinggi lutut menutupi segala penjuru. Sebanyak 216 kampung di 12 kecamatan terendam. Lebih dari sekadar bencana biasa, ini tercatat sebagai salah satu peristiwa hidrometeorologi terbesar yang pernah melanda daerah itu. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan sumber penghidupan. Roda perekonomian terhenti, jalur komunikasi terputus, dan pemerintahan dihadapkan pada tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya.
Namun di tengah derasnya air dan tebalnya lumpur, ada sosok yang memilih tidak mundur. Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, MH, memutuskan tetap berada di lokasi. Ia memimpin langsung penanganan darurat, berjalan menyusuri jalan yang terhalang puing, sekaligus membangun komunikasi tanpa henti dengan Pemerintah Aceh hingga kementerian di pusat agar bantuan segera mengalir.
Perjalanan itu bukanlah jalan yang mulus. Kritik, tudingan, hingga cemoohan datang silih berganti. Namun Bupati memilih satu sikap: bekerja daripada melayani segala komentar. Kini, seiring mulai diterimanya bantuan dan warga perlahan kembali melangkah, hasil dari keteguhan hati itu mulai terasa nyata.
Tetap di Tengah Masyarakat di Masa Paling Kritis
Saat air mulai surut dan lumpur mengering, gambaran kerusakan terlihat jelas. Rumah-rumah rata dengan tanah, ladang menjadi hamparan lumpur, dan jalan raya tertimbun material. Situasi mendesak membutuhkan keputusan cepat: menyelamatkan warga, membuka akses jalan, dan memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
Menurut Kepala Bidang Media Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh Tamiang, Hendra, ST, selama masa-masa paling genting itu, Bupati Armia nyaris tidak pernah pulang ke rumah dinas.
“Beliau tinggal dan bergerak dari satu titik ke titik lain bersama tim. Setiap hari berkoordinasi, memastikan bantuan datang, sekaligus mendengarkan keluh kesah warga,” ungkapnya.
Karena luasnya dampak bencana, kemampuan anggaran daerah saja tidak cukup. Maka komunikasi dengan pemerintah pusat menjadi kunci. “Kami terus menghubungi BNPB, Kemensos, dan instansi terkait agar bantuan segera turun. Semua harus melalui proses verifikasi yang ketat agar tepat sasaran,” jelas Hendra.
Berbagai bantuan mulai masuk: kebutuhan pokok, stimulan perbaikan rumah, penggantian perabot, hingga dukungan sosial lainnya. Meski demikian, tuduhan-tuduhan negatif sempat mewarnai perjalanan. Menanggapi hal itu, Bupati memilih fokus. “Beliau bilang, biar kerja yang bicara. Kalau kita melayani semua tuduhan, kapan selesai penanganannya? Kini warga sudah mulai merasakan hasilnya,” tegas Hendra.
Ia juga meluruskan kabar yang berkembang: “Bantuan dari pusat tidak masuk ke rekening pribadi maupun kas daerah. Penyalurannya langsung melalui bank dan kantor pos ke rekening masing-masing warga yang berhak. Ini agar jelas dan tidak ada ruang penyimpangan.”
Bantuan: Lebih dari Sekadar Materi, Tapi Harapan
Lambat laun, suasana mulai berubah. Pasar kembali ramai, warung-warung dibuka lagi, dan asap dapur mulai mengepul dari rumah-rumah yang sudah mulai dibersihkan. Bagi warga, bantuan yang diterima bukan sekadar uang atau barang, melainkan tanda bahwa negara hadir di tengah penderitaan.
Ramadhan, 41, warga Kampung Bundar, mengaku sangat terbantu. “Bantuan ini jadi modal awal saya membuka kembali usaha keluarga. Kami bersyukur dan sabar menunggu prosesnya,” ujarnya dengan nada lega.
Hal yang sama dirasakan Linda, 35, warga yang sempat mengungsi ke hunian sementara. “Bantuan ini sangat berarti, apalagi untuk kebutuhan bayi saya yang baru lahir. Rasanya ada harapan baru untuk memulai hidup lagi,” katanya.
Sebelum bantuan resmi tiba, Bupati Armia juga tidak berdiam diri. Ia menggalang dukungan dari rekan-rekan di lingkungan kepolisian dan masyarakat luas. Dana yang terkumpul segera digunakan untuk membeli beras, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya yang didistribusikan ke lokasi terdampak.
Dukungan juga datang dari luar daerah. Herman, 50, warga Langkat, Sumatera Utara, yang mengikuti perkembangan berharap proses pemulihan terus berjalan baik. “Saya lihat pemerintah bekerja keras. Semoga Aceh Tamiang segera pulih sepenuhnya,” ucapnya.
Membangun Kembali, Tidak Hanya Fisik Tapi Juga Harapan
Bencana mengajarkan satu hal: membangun kembali rumah dan jalan bisa selesai dalam hitungan bulan. Namun memulihkan rasa aman, kepercayaan, dan semangat warga membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Pemerintah daerah menyadari pekerjaan belum selesai. Masih ada rumah yang harus diperbaiki, infrastruktur yang harus dibangun, dan warga yang butuh pendampingan. Oleh karena itu, semangat gotong royong tetap digelorakan.
Lumpur mungkin telah mengering, namun jejak bencana akan selalu menjadi pengingat. Di balik segala kesulitan itu, kini tumbuh keyakinan baru. Dengan kepemimpinan yang dekat, kerja sama antarinstansi, dan semangat warga yang tak kenal menyerah, Aceh Tamiang perlahan namun pasti melangkah maju.
Bencana telah menguji, dan ketangguhan telah menjawab. Hari ini, dari balik lumpur yang sempat menenggelamkan harapan, muncul kembali senyum dan keyakinan: kehidupan akan terus berjalan, dan masa depan yang lebih baik sedang dibangun bersama.
Yusri



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda