Di Balik Toga ProfesorDi Balik Toga Profesor

Ada momen-momen tertentu dalam hidup yang membuat seseorang berhenti sejenak dari rutinitasnya. Bukan karena kelelahan, melainkan karena ia sedang dihadapkan pada sesuatu yang mengingatkannya tentang arti sebuah perjalanan.
Saya merasakan momen itu pada Selasa pagi, 9 Juni 2026, di Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala. Ini almamater saya juga.
Di tengah prosesi akademik yang berlangsung khidmat, satu per satu nama dipanggil untuk menerima pengukuhan sebagai profesor. Toga dikenakan, kalung jabatan disematkan, lalu tepuk tangan bergema memenuhi ruangan.
Namun di balik seluruh seremoni itu, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukanlah sekadar pencapaian akademik. Yang hadir di hadapan kami adalah kisah panjang tentang ketekunan, kesabaran, dan konsistensi yang dijaga selama bertahun-tahun.
Ini sesuatu yang sering kali luput terlihat ketika seseorang akhirnya berdiri di puncak.
Hari itu saya datang bukan sekadar memenuhi undangan. Saya datang untuk menyaksikan beberapa orang yang saya kenal menuntaskan salah satu perjalanan tertinggi dalam kehidupan akademik mereka.
Salah satunya adalah Prof. Dr. Sulaiman, S.H., M.H. Bagi sebagian orang, ia dikenal sebagai akademisi hukum. Namun bagi saya, Sulaiman adalah sosok yang lebih luas dari sekadar profesinya.
Kami pernah satu jalur. Sulaiman pernah menjadi wartawan. Dia penulis opini, sekaligus pegiat literasi yang nyaris tidak pernah berhenti menulis.
Tulisan-tulisannya rutin menghiasi media massa. Saat itu ia menggunakan nama pena Sulaiman Tripa, merujuk pada kampung halamannya di kawasan Trienggadeng. Tulisan-tulisannya tajam, argumentatif, tetapi tetap nyaman dibaca.
Ada satu kisah yang selalu saya ingat. Suatu ketika ia bercerita bahwa masyarakat di kampungnya justru bertanya ketika dalam satu bulan tidak menemukan tulisannya di media lokal.
Pertanyaan sederhana itu ternyata menyimpan makna yang besar. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sapaan biasa. Namun bagi seorang penulis, itu adalah pengingat bahwa apa yang ia kerjakan ternyata dibaca, dinanti, dan dihargai.
Tulis 225 Buku
Barangkali dari sanalah energi itu terus tumbuh.Ia terus menulis. Terus berkarya. Terus menjaga disiplin yang sama dari tahun ke tahun. Hasilnya kini terlihat sangat nyata.
Setiap ulang tahunnya, Sulaiman memiliki tradisi yang unik: meluncurkan buku. Tradisi itu dimulainya sejak tahun 2005 dan terus berlangsung hingga sekarang. Bahkan pada suatu kesempatan, ia pernah meluncurkan 44 buku sekaligus dalam sebuah acara yang diberi nama Khenduri Buku.
Angka produktivitasnya sungguh mencengangkan. Hingga hari ini ia telah menghasilkan 225 judul buku, baik karya tunggal maupun kolaborasi. Sebagian besar diterbitkan oleh penerbit lokal, sementara lainnya terbit di berbagai kota besar di Indonesia.
Melihat rekam jejak seperti itu, gelar profesor yang kini disandangnya terasa bukan sebagai kejutan. Ia lebih menyerupai konsekuensi logis dari kerja panjang yang dilakukan secara konsisten selama puluhan tahun.
Pada hari yang sama, saya juga menyaksikan Prof. Dr. Sri Walny Rahayu, S.H., M.Hum., dikukuhkan sebagai guru besar. Beliau pernah menjadi dosen saya sekitar dua dekade lalu.
Namun ada fakta menarik yang baru saya ketahui saat prosesi pengukuhan berlangsung. Di balik karier akademiknya yang cemerlang, Sri Walny ternyata pernah menjadi penyiar Radio Flamboyant FM, salah satu stasiun radio yang sangat populer di Banda Aceh pada masanya.
Ketika menyampaikan ucapan terima kasih di penghujung orasi ilmiahnya, ia sempat memperlihatkan gaya khas seorang penyiar radio. Hanya beberapa detik. Namun cukup untuk membuat ruangan tersenyum dan memberikan tepuk tangan yang hangat.
Saya mungkin termasuk orang yang bertepuk paling keras saat itu.
Barangkali karena saya merasa ada irisan perjalanan yang sama. Saya masih aktif sebagai wartawan, sementara beliau pernah menghabiskan sebagian fase hidupnya di dunia penyiaran.
Dari momen singkat itu, saya kembali belajar bahwa jalan menuju profesor ternyata tidak selalu dimulai dari laboratorium, ruang kuliah, atau perpustakaan.
Ada yang memulainya dari ruang redaksi. Ada yang memulainya dari studio radio.
Ada pula Prof. Dr. Teuku Muttaqin Mansur, M.H., yang dikukuhkan pada hari yang sama. Saya mengenalnya sejak masih aktif sebagai mahasiswa. Sosok yang ramah, aktif dalam berbagai kegiatan sosial, dan sering hadir sebagai narasumber dalam beragam isu publik.
Mereka datang dari latar yang berbeda-beda. Ada wartawan. Ada penyiar radio. Ada aktivis kampus. Ada akademisi. Namun pada akhirnya mereka bertemu di titik yang sama: ketekunan.
Hari itu saya menyadari bahwa profesor sesungguhnya bukan hanya soal kecerdasan. Gelar itu adalah akumulasi dari ribuan halaman yang dibaca, ratusan tulisan yang disusun, puluhan penelitian yang dilakukan, serta tahun-tahun panjang yang dijalani dengan kesabaran yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Mungkin karena itulah menyaksikan pengukuhan para guru besar hari itu terasa lebih dari sekadar menghadiri sebuah acara akademik.
Saya sedang menyaksikan waktu bekerja. Saya sedang menyaksikan disiplin yang perlahan berubah menjadi prestasi. Saya sedang melihat mimpi-mimpi yang dipelihara selama bertahun-tahun akhirnya menemukan bentuknya.
Dan barangkali, pelajaran terpenting yang saya bawa pulang pagi itu adalah bahwa hidup tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat seseorang berlari, melainkan oleh kemampuannya untuk terus berjalan ketika banyak orang memilih berhenti.
Sebab tidak peduli dari mana seseorang memulai langkahnya. Baik itu dari ruang redaksi, studio radio, organisasi kampus, atau ruang kelas, selama ia terus belajar, tekun berkarya, dan menjaga konsistensi, maka garis akhir yang tampak mustahil hari ini suatu saat dapat berdiri nyata di hadapannya.
Sebagaimana toga profesor yang akhirnya dikenakan oleh mereka yang tak pernah berhenti berjuang. Selamat. [Munawardi Ismail/Waspada.id]































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda