Di Bawah Teduh Maulid, Saat Seragam Bertemu Jubah Ulama


"Di Aceh, silaturahmi bukan sekadar berjabat tangan. Ia adalah jembatan hati yang mempertemukan doa ulama, harapan rakyat, dan ikhtiar menjaga kedamaian."
Langit Matang Tunong siang itu tampak teduh, Minggu (25/10/2026). Angin berembus pelan menyusuri halaman Dayah Darul Muttaqin, Kecamatan Lapang, Aceh Utara. Ribuan langkah datang dari berbagai penjuru. Ada santri dengan sarung yang menjuntai rapi, para tokoh masyarakat, jamaah, hingga para tamu yang hadir membawa niat yang sama: mengenang kelahiran manusia agung, Nabi Muhammad SAW.
Di tengah suasana penuh keberkahan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah itu, hadir sebuah pemandangan yang mengandung pesan tersendiri. Seragam cokelat kepolisian tampak duduk berdampingan dengan para ulama dan santri.
Kapolres Lhokseumawe, AKBP Dr. Ahzan, hadir memenuhi undangan pimpinan Dayah Darul Muttaqin, ulama kharismatik Aceh, Tgk. H. Muzakkir atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Waled Lapang.
Kehadiran itu bukan sekadar memenuhi undangan seremonial. Di tanah yang sejak lama dikenal menjunjung tinggi adat dan syariat, pertemuan antara aparat negara dan ulama selalu memiliki makna yang lebih dalam. Ada upaya merawat tali silaturahmi, memperkuat rasa saling percaya, sekaligus menjaga agar kedamaian tetap tumbuh di tengah masyarakat.
Di bawah tenda maulid, sekat-sekat jabatan seakan menghilang. Yang tampak hanyalah sesama anak bangsa yang duduk bersama dalam majelis ilmu dan zikir.
Momentum Maulid Nabi memang selalu menghadirkan suasana yang berbeda di Aceh. Ia bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga ruang perjumpaan hati. Tempat masyarakat meneguhkan kembali cinta kepada Rasulullah SAW sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
Bagi Kapolres Ahzan, kedekatan dengan ulama merupakan bagian penting dari ikhtiar menjaga harmoni sosial. Ulama, menurutnya, memiliki posisi strategis dalam membimbing umat, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan merawat persatuan di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak menghadapi berbagai tantangan zaman.
Di tengah derasnya arus informasi dan beragam persoalan sosial yang muncul, suara ulama tetap menjadi penuntun yang menenangkan. Dari mimbar-mimbar dayah dan masjid, mereka mengajarkan nilai kejujuran, amanah, kesederhanaan, serta pentingnya menjaga persaudaraan. Nilai-nilai itulah yang diwariskan Rasulullah SAW kepada umatnya.
Karena itu, dalam kesempatan tersebut, Kapolres mengajak masyarakat untuk menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran dalam bertindak, amanah dalam memegang tanggung jawab, saling menghormati sesama, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial menjadi bekal penting dalam membangun kehidupan yang damai.
Bagi masyarakat Aceh, pesan semacam itu terasa begitu dekat. Sebab keamanan tidak hanya lahir dari aturan dan penegakan hukum, tetapi juga tumbuh dari hati yang dipenuhi nilai-nilai agama.
Maulid di Dayah Darul Muttaqin siang itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan antara doa dan pengabdian, antara ilmu dan tanggung jawab, antara ulama dan umara.
Di tengah lantunan shalawat yang terus menggema, tersimpan harapan sederhana namun sangat berharga: agar persatuan tetap terjaga, masyarakat hidup rukun, dan keberkahan senantiasa menaungi negeri.
Karena sesungguhnya, kedamaian tidak dibangun oleh satu pihak saja. Ia lahir dari kebersamaan. Dari tangan-tangan yang saling menggenggam. Dari hati yang saling mendekat.
Dan siang itu, di sebuah dayah sederhana di Matang Tunong, silaturahmi kembali menemukan maknanya.
"Ketika ulama dan umara duduk dalam satu majelis, yang menguat bukan hanya silaturahmi, melainkan harapan agar negeri ini tetap damai di bawah naungan nilai-nilai Rasulullah SAW." WASPADA.id
Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I
Berita Terkait




































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda