Diduga Kas SD Muhammadiyah 19 Medan Di-Nol-kan, Tanda Tangan Guru Dipalsukan Demi Dana Bos


MEDAN (Waspada.id): Dugaan skandal pemalsuan tanda tangan dalam dokumen pertanggungjawaban (SPJ) Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SD Muhammadiyah 19 Medan Denai, Jalan Pancasila Gang Sekolah, Kecamatan Medan Denai, mencuat.
Skandal ini menyeret nama Kepala Sekolah lama berinisial EW Bendahara lama berinisial A yang diduga terlibat, mirisnya bendahara saat dikonfirmasi justru memblokir nomor wartawan saat dikonfirmasi. Lebih parah, Ketua PCM Medan Denai, Harun Al Rasyid, yang dulunya guru di sekolah itu, mengaku tanda tangannya dipalsukan dari tahun 2022 sampai 2023 untuk menggasak bantuan honor guru.
"Tanda tangan saya dipalsukan selama dua tahun oleh kepala sekolah yang lama. Seharusnya saya terima Rp1.000.000 per bulan dari Dana BOS itu," ungkap Harun.
Mendengar hal itu, Ketua Majelis Dikdasmen PNF PDM Kota Medan, Ali Nurdin, naik pitam. Ia menegaskan tidak akan mentolerir praktik kotor di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
"Ini memalukan dan mencoreng wajah Muhammadiyah! Saya sudah dengar informasinya, tapi sampai hari ini PCM Medan Denai belum juga menyerahkan laporan tertulis. Saya minta segera! Jangan dibiarkan. Kalau benar ada pemalsuan tanda tangan untuk menggasak Dana BOS, itu bukan lagi pelanggaran etik, tapi pidana! Pasal 263 KUHP!" tegas Ali Nurdin dengan nada tegas.
Ali memastikan akan segera memanggil semua pihak dan membentuk tim investigasi gabungan Majelis Dikdasmen.
"Jangan main-main dengan uang negara dan uang anak-anak sekolah. Saya sebagai Ketua Dikdasmen PDM Medan tidak akan tutup mata. Kalau terbukti, kepala sekolah lama itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mau dibawa ke ranah hukum, silakan! Muhammadiyah tidak akan melindungi maling! Untuk paving block yang terhenti itu juga akan kami audit. Ini sudah keterlaluan!" kecamnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah baru SD Muhammadiyah 19, R yang baru beberapa bulan menjabat, tak kuasa menahan kekecewaan. Ia membongkar kondisi mengenaskan yang ditinggalkan pendahulunya.
"Bayangkan lah Bang, saya baru menjabat beberapa bulan di sini, sekolah ini ditinggalkan dengan Kas Nol Rupiah! Bagaimana sekolah mau jalan? Tugas saya saat ini harus membenahi Buku BOS yang berantakan, SPJ tidak jelas, semua ditinggal begitu saja. Saya yang harus bereskan dari awal," ungkap R kecewa. Minggu (11/10/2026).
R yang merasa turut dirugikan menegaskan siap berdiri di depan untuk membongkar kejahatan tersebut.
"Saya tidak takut, Bang. Saya siap menjadi saksi kunci dan menjelaskan sejujurnya. Saya punya semua buktinya sekarang. Kalau diminta polisi, kejaksaan, saya siap buka-bukaan. Jangan korbankan sekolah ini dan nama baik Muhammadiyah hanya karena ulah satu orang yang serakah. Kasihan anak-anak didik kami," pungkas R.
Harun Al Rasyid sendiri mengaku masih berkonsultasi dengan LBH Muhammadiyah untuk segera melaporkan kasus dugaan pemalsuan tanda tangan ke penegak hukum.(fs)



















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda