Diperlukan Kombinasi Kebijakan Dorong Pertumbuhan Ekonomi


JAKARTA (Waspada.id): Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, diperlukan kombinasi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Instrumen suku bunga tidak bisa serta merta mendorong pertumbuhan tanpa kebijakan dari instrumen lainnya, di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu saat ini.
"Jadi apa yang kita lakukan? Kita combine dengan kebijakan lainnya," kata Destry dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
"Kalau kita hanya mengandalkan kebijakan moneter itu pasti enggak akan cukup, karena kita di satu sisi menghadapi suku bunga tinggi dalam waktu lama dari global, sambungnya.
Menurut Destry, BI tetap memiliki mandat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Apalagi perekonomian Indonesia saat ini masih berada sekitar level siklus potensial, sehingga masih terdapat ruang untuk tumbuh lebih tinggi.
Untuk itu, lanjutnya, kebijakan makroprudensial akan digunakan untuk memberikan ruang bagi sektor riil dan perbankan agar tetap dapat mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas.
Namun ia memprediksi, arah kebijakan BI-Rate ke depan akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Meski arah suku bunga dapat ditentukan berdasarkan perkembangan inflasi. Ketika inflasi meningkat, suku bunga dapat dinaikkan untuk menjaga stabilitas.
Sebaliknya, ketika inflasi rendah, terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena itu kondisi global saat ini membuat penentuan BI-Rate harus mempertimbangkan lebih banyak faktor.
"Jadi dalam menentukan BI rate akan banyak pertimbangan. Apalagi terkait dengan kondisi ekonomi dunia, khususnya Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara maju lainnya, turut memengaruhi ruang kebijakan bank sentral di Indonesia, tutur Destry.
Menurut dia, negara-negara tersebut masih menghadapi persoalan inflasi tinggi. Kondisi ini membuat ruang bagi bank sentral di negara maju untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih terbatas karena berisiko kembali mendorong inflasi.
Contohnya di Amerika Serikat, tingginya tekanan tersebut tercermin dari imbal hasil atau yield obligasi pemerintah yang masih tinggi.
Destry mencatat yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun berada di atas 5,3 persen, sedangkan tenor 10 tahun berada di kisaran 4,6 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada di sekitar 3 persen. Di sisi lain, indeks dollar AS atau DXY juga masih menjadi perhatian BI.
Destry menuturkan, persoalan ekonomi Amerika Serikat semakin kompleks karena terjadi ketika tekanan inflasi masih tinggi, sementara pertumbuhan ekonominya justru melambat dibandingkan periode sebelumnya.
"Jadi apa yang kita hadapi sekarang ini semakin kompleks, karena saling berkaitan satu isu dengan isu lain makin tinggi," ungkapnya. (Id88)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda