Direktur PNL, Rizal Syahyadi: Cahaya Zakat Rp137 Juta untuk 137 Harapan


Di lantai V Gedung Training Development Center Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL), siang itu, Rabu (14/10/2026), bukan sekadar kursi yang terisi, melainkan hati yang dipenuhi kepedulian. Sebanyak Rp137 juta mengalir menjadi cahaya, menyentuh 137 penerima manfaat—mahasiswa dan remaja masjid—yang tengah berjuang menjaga mimpi mereka tetap hidup.
Solidaritas yang Menjadi Nafas Kampus
Unit Pengumpul Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS) PNL bersama Satgas Bencana Baitul Mal Aceh menjadikan kepedulian sosial bukan sekadar angka, melainkan denyut kehidupan. Direktur PNL, Assoc. Prof. Dr. Ir. Rizal Syahyadi, menegaskan bahwa zakat, infak, dan sedekah adalah kekuatan moral yang menjaga masa depan generasi muda. “Jangan sampai keterbatasan ekonomi menjadi alasan terhentinya sebuah impian,” ujarnya penuh haru.
Baginya, kampus bukan hanya tempat menyalakan ilmu, tetapi juga tempat menyalakan empati. Kehebatan perguruan tinggi, katanya, bukan diukur dari megahnya gedung atau canggihnya laboratorium, melainkan dari seberapa besar ia menjaga mahasiswa agar tidak berjuang sendirian.

Dari Tangan Ikhlas, Lahir Harapan
Ketua UPZIS PNL, Assoc. Prof. Dr. Ir. H. Ridwan, menuturkan bahwa sepanjang tahun 2025, dana zakat dan infak yang terkumpul mencapai lebih dari Rp109 juta. Dari jumlah itu, Rp87 juta telah disalurkan kepada mahasiswa dan remaja masjid, sementara Satgas Bencana Baitul Mal Aceh menambahkan Rp50 juta untuk mahasiswa yatim dan kurang mampu.
Setiap rupiah yang disalurkan bukan sekadar angka di rekening, melainkan doa yang menjelma menjadi buku, pena, dan kesempatan. Dari tangan-tangan dosen yang ikhlas berbagi, lahir harapan besar bagi masa depan bangsa.
Pesan yang Menyentuh Jiwa
Di hadapan mahasiswa, Direktur PNL menyampaikan pesan yang menggugah: “Bahagiakanlah orang tua selagi kesempatan itu masih ada. Jangan pernah melupakan jasa seorang ibu, sebab di balik setiap pencapaian ada doa yang tak pernah berhenti. Gunakanlah uang zakat ini untuk kebutuhan kuliah, bukan untuk judi online, bukan untuk top up gim, bukan untuk foya-foya. Jika engkau meratukan ibu, membahagiakan orang tua, maka rezeki akan mengalir deras bagaikan sultan, karena doa seorang ibu adalah pintu keberkahan.”
Pesan itu menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mencetak generasi cerdas, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa syukur, menghargai pengorbanan, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Harapan yang Menyala
Penyaluran bantuan ini adalah bukti bahwa kepedulian mampu menyalakan obor harapan. Boleh jadi bantuan itu terlihat sederhana, tetapi dari sinilah lahir kekuatan besar: menjaga agar mimpi anak bangsa tidak padam di tengah keterbatasan.
Dari Lhokseumawe, cahaya zakat itu menyebar, menyalakan masa depan, dan menegaskan bahwa solidaritas adalah nafas sejati sebuah kampus. WASPADA.id
Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I
Berita Terkait




























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda