Breaking News
Memuat breaking news...

Disertasi M. Anzaikhan Ungkap Karakter Wasathiyah Ulama Aceh

Redaksi
Redaksi
Rabu, 12 Agustus 2026 - 6.37 PM WIB
Disertasi M. Anzaikhan Ungkap Karakter Wasathiyah Ulama Aceh
Disertasi M. Azhaikhan yang mengangkat tema “Wasathiyah dalam Pemikiran Tengku Dayah di Aceh.” Sidang tersebut berlangsung di lingkungan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Rabu (12/8). Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Ulama Aceh dinilai memiliki karakter pemikiran keagamaan yang moderat dan mengedepankan prinsip wasathiyah. Sikap tersebut tercermin dalam pemikiran para Tengku Dayah yang selama ini berperan penting dalam membimbing kehidupan keagamaan masyarakat Aceh.

Hal itu disampaikan Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA dalam sidang terbuka disertasi M. Azhaikhan yang mengangkat tema “Wasathiyah dalam Pemikiran Tengku Dayah di Aceh.” Sidang tersebut berlangsung di lingkungan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Rabu (12/8).

Prof. Syahrin menyampaikan bahwa berdasarkan kajian terhadap pemikiran ulama Aceh, tidak ditemukan kecenderungan yang menunjukkan sikap radikal. Sebaliknya, pemikiran keagamaan yang berkembang di kalangan Tengku Dayah lebih mencerminkan sikap tengah, seimbang, dan berorientasi pada kemaslahatan.

“Ulama Aceh tidak ada yang radikal. Mereka lebih bersikap wasathiyah,” ujar Syahrin dalam sidang tersebut dengan serius.

Sementara itu, promovendus M. Azhaikhan mengatakan penelitian yang dilakukannya menunjukkan bahwa tradisi keilmuan

Tengku Dayah di Aceh memiliki karakter wasathiyah yang kuat. Karakter tersebut terlihat dari keteguhan para ulama dalam menjalankan ajaran Islam sekaligus kemampuan menempatkannya secara seimbang dalam realitas sosial.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Tengku Dayah di Aceh memiliki karakter wasathiyah yang kuat, yaitu keteguhan dalam menjalankan ajaran Islam sekaligus kemampuan menempatkannya secara seimbang dalam realitas sosial,” kata M. Azhaikhan.

Menurut dia, wasathiyah tidak berarti mengurangi prinsip-prinsip keagamaan. Sebaliknya, konsep tersebut merupakan cara menghadirkan Islam secara bijaksana, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

“Wasathiyah bukan berarti mengurangi prinsip keagamaan, tetapi menghadirkan Islam secara bijaksana, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, keberadaan Tengku Dayah memiliki posisi strategis. Mereka tidak hanya berperan sebagai pengajar ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga menjadi rujukan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, keagamaan, dan kehidupan sehari-hari.

Pemikiran wasathiyah yang dikembangkan para Tengku Dayah juga dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman sosial, budaya, dan pemahaman keagamaan. Sikap moderat menjadi modal penting untuk menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat di tengah perbedaan.

Syahrin menilai penelitian mengenai pemikiran Tengku Dayah penting dilakukan mengingat Aceh memiliki tradisi pendidikan Islam yang panjang. Lembaga dayah telah menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di Aceh dan melahirkan banyak ulama yang berpengaruh di tengah masyarakat.

Disertasi M. Azhaikhan tersebut memberikan kontribusi akademik dalam memahami lebih mendalam karakter pemikiran keagamaan para Tengku Dayah, khususnya dalam perspektif wasathiyah.

Sidang terbuka disertasi tersebut dipimpin Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) UINSU, Dr. Maraimbang Daulat, MA. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses akademik untuk menguji sekaligus memberikan masukan terhadap penelitian yang dilakukan M. Azhaikhan.

Relevansi Luas

Kajian mengenai wasathiyah ulama Aceh juga memiliki relevansi yang lebih luas dalam konteks kehidupan beragama saat ini. Di tengah munculnya berbagai tudingan terkait radikalisme dan ekstremisme keagamaan, penelitian berbasis tradisi keilmuan lokal dapat memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai karakter pemikiran ulama di Indonesia.

Tradisi Tengku Dayah, dengan basis pendidikan Islam yang kuat, menunjukkan bahwa keteguhan dalam menjalankan agama dapat berjalan beriringan dengan sikap moderat, toleran, dan menghargai kemajemukan sosial.

Pemikiran wasathiyah ulama Aceh, dengan demikian, tidak hanya penting bagi masyarakat Aceh, tetapi juga dapat menjadi rujukan dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia. Sikap tengah tersebut diperlukan untuk membangun kehidupan keagamaan yang damai sekaligus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement