Breaking News
Memuat breaking news...

Dody Arisandy Raih Gelar Doktor Unimed, Kembangkan Model Peace Education untuk Tekan Bullying di Sekolah

Redaksi
Redaksi
Jumat, 24 Juli 2026 - 9.20 AM WIB
Dody Arisandy Raih Gelar Doktor Unimed, Kembangkan Model Peace Education untuk Tekan Bullying di Sekolah
Kepala Sekolah SMK Penerbangan SPAN Medan, Dody Arisandy, usai menjalani sidang terbuka promosi doktor, Kamis (23/7).Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Kepala Sekolah SMK Penerbangan SPAN Medan, Dody Arisandy, resmi menyandang gelar doktor setelah sukses menjalani sidang terbuka promosi doktor Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Medan (Unimed) di Ruang Sidang A Lantai III Gedung Pusat Administrasi Unimed, Kamis (23/7).

Disertasinya mengangkat pengembangan model pelatihan Peace Education berbasis Social-Emotional Learning (SEL) sebagai upaya mengurangi perilaku bullying pada peserta didik SMK di Kota Medan.

Sidang terbuka tersebut dipimpin Ketua Sidang Prof. Dr. Ir. Baharuddin, S.T., M.Pd. selaku Rektor Universitas Negeri Medan dengan Sekretaris Prof. Dr. Budi Valianto, M.Pd., Direktur Pascasarjana Unimed.

Komisi promotor terdiri atas Dr. Arif Rahman, M.Pd., Prof. Dr. Yusnadi, M.S., dan Prof. Dr. Aman Simare-mare, M.S. Sementara penguji eksternal adalah Dr. Regina Sipayung, M.Pd. dari Universitas Katolik Santo Thomas. Tim penguji lainnya yakni Prof. Dr. Eka Daryanto, M.T., Prof. Dr. Rosnelli, M.Pd., dan Dr. Dionisius Sihombing, M.Si.

Dalam sidang tersebut, Dody mempertahankan disertasi berjudul "Pengembangan Model Manajemen Pelatihan Peace Education Berbasis Social-Emotional Learning (SEL) dalam Mengurangi Perilaku Bullying Peserta Didik SMK di Kota Medan."

Usai sidang, Dody mengatakan pencapaian gelar doktor bukan menjadi akhir perjalanan akademiknya, melainkan awal untuk mengembangkan hasil penelitiannya agar dapat diterapkan secara luas di dunia pendidikan.

"Kami berharap ke depan model pelatihan Peace Education berbasis Social-Emotional Learning ini bisa diterapkan di dunia pendidikan. Artinya, jangan ada lagi bullying di sekolah, jangan ada lagi bullying di masyarakat. Semoga Indonesia terbebas dari persoalan bullying," katanya.

Dody menjelaskan penelitian disertasinya dilakukan di sejumlah sekolah menengah kejuruan di Kota Medan, yakni SMK Negeri 2 Medan, SMK Yayasan Pendidikan Membangun (Yapim) Medan, dan SMK Penerbangan SPAN Medan.

Menurutnya, tema bullying dipilih karena persoalan tersebut masih menjadi ancaman serius bagi perkembangan karakter generasi muda.

"Sebagai pendidik dan pemerhati pendidikan, saya melihat mulai dari jenjang SD, SMP, SMA hingga SMK, perilaku bullying sangat mengkhawatirkan. Karena itu diperlukan model pendidikan yang mampu membangun karakter, empati, dan pengendalian emosi peserta didik," ujarnya.

Pemerhati Pendidikan Sumatera Utara, Budi Hartoyo, yang turut hadir memberikan apresiasi atas keberhasilan Dody menyelesaikan studi doktoralnya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai karya akademik semata, tetapi dapat diimplementasikan untuk kepentingan masyarakat.

"Saya mengucapkan selamat kepada Bang Dody Arisandy yang hari ini berhasil meraih gelar doktor. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh bermanfaat dan dapat diaplikasikan di tengah masyarakat sehingga memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, bangsa, dan negara," katanya.

Ucapan selamat juga disampaikan Rahmat Hidayat, orang tua siswa SMK Penerbangan SPAN Medan. Menurutnya, keberhasilan Dody menjadi inspirasi bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi demi kemajuan pendidikan.

"Semoga apa yang telah dicapai Pak Dody membawa kemajuan bagi dunia pendidikan dan menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus belajar serta berprestasi," pungkasnya.(Fes)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement