Dosen UMA Sosialisasikan Aplikasi SISIR, Perkuat Resiliensi Mental Anak Pesisir Terdampak Banjir Rob Di DeliserdangDosen UMA Sosialisasikan Aplikasi SISIR, Perkuat Resiliensi Mental Anak Pesisir Terdampak Banjir Rob Di Deliserdang

MEDAN (Waspada.id): Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Medan Area (UMA) melaksanakan kegiatan sosialisasi program pemberdayaan masyarakat melalui inovasi Sistem Edukasi Pesisir (SISIR) sebagai inovasi media pemulihan resiliensi mental anak pascabencana banjir rob di Kabupaten Deliserdang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Program Pemberdayaan Masyarakat (PkM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 2026. "Program Ini menghadirkan solusi edukatif berbasis teknologi dalam membantu anak-anak wilayah pesisir memahami risiko bencana sekaligus memperkuat kemampuan adaptasi psikologis dalam menghadapi dampak banjir rob," ujar Dr Amsal Qori Dalimunthe, M.Pd.I selaku Ketua tim PkM Di Medan, Jumat (21/8).
Kegiatan dilaksanakan di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantailabu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Desa ini merupakan salah satu wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka dengan sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan tradisional. Kondisi geografis tersebut menyebabkan masyarakat memiliki tingkat kerentanan terhadap perubahan lingkungan, khususnya fenomena banjir rob yang terjadi secara berulang.
Banjir rob tidak hanya memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan, rumah tinggal, dan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas pendidikan serta kondisi psikososial anak-anak. "Anak-anak yang tinggal di wilayah terdampak bencana membutuhkan pendekatan edukasi yang mampu membantu mereka memahami situasi bencana sekaligus membangun ketahanan mental agar mampu menghadapi kondisi sulit secara positif."
Menurut Dr Amsal, melihat kondisi tersebut, Tim Pengabdian UMA menghadirkan inovasi SISIR sebagai media edukasi interaktif yang mengintegrasikan pendidikan kebencanaan, penguatan resiliensi mental, nilai spiritual, dan pembelajaran berbasis teknologi. Anggota tim pelaksana terdiri Dari Khairuddin, S.Psi., M.Psi dan Neng Nurcahyati Sinulingga, M.Pd. "Program ini dikembangkan melalui kolaborasi lintas keilmuan antara Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Psikologi Universitas Medan Area," jelas Dr Amsal.
Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan utama dalam pengembangan aplikasi SISIR karena pemulihan anak pasca bencana tidak hanya membutuhkan pemahaman mengenai risiko lingkungan, tetapi juga membutuhkan pendekatan psikologis dan spiritual untuk membangun ketenangan, optimisme, serta kemampuan menghadapi tekanan akibat bencana. Dikatakan Dr Amsal, aplikasi SISIR dirancang sebagai media edukasi yang menggabungkan pembelajaran kebencanaan, penguatan mental anak, serta nilai-nilai spiritual melalui pendekatan yang menarik dan mudah dipahami.
“Kami melihat bahwa anak-anak yang mengalami dampak bencana tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang banjir rob, tetapi juga membutuhkan penguatan mental dan spiritual agar mampu menghadapi kondisi tersebut dengan lebih tenang dan positif,” ujar Dr Amsal.
Menurutnya, aplikasi SISIR tidak hanya berfungsi sebagai media permainan edukatif, tetapi menjadi sarana pembelajaran yang membantu anak mengenali bencana, memahami cara menghadapi tekanan psikologis, serta membangun karakter yang tangguh. “Dalam aplikasi SISIR terdapat materi edukasi mengenai banjir rob, permainan interaktif, permainan tradisional, penguatan resiliensi mental, serta doa-doa ketenangan dan resiliensi yang dirancang sebagai bagian dari penguatan psikospiritual anak. Harapannya, anak-anak pesisir dapat memiliki kesiapan lahir dan batin ketika menghadapi kondisi lingkungan yang penuh tantangan,” tambahnya.
Sementara anggota tim pelaksana, Khairuddin, S.Psi., M.Psi, menjelaskan bahwa aspek psikologi dalam SISIR difokuskan pada penguatan kemampuan anak dalam mengelola emosi, membangun rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan adaptasi setelah mengalami situasi bencana.
Sedangkan Neng Nurcahyati Sinulingga, M.Pd, menjelaskan bahwa pendekatan pendidikan dalam SISIR dirancang agar materi pembelajaran dapat diterima oleh anak-anak melalui metode yang interaktif, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar.
Dalam tahap awal pelaksanaan kegiatan, Tim PkM UMA melakukan koordinasi bersama Pemerintah Desa Paluh Sibaji sebagai mitra kegiatan. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memperkenalkan program SISIR, menyampaikan tahapan pelaksanaan kegiatan, serta membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, sekolah, dan masyarakat.
Kepala Desa Paluh Sibaji, Bapak Nasri menyampaikan apresiasi terhadap program yang dilaksanakan oleh Universitas Medan Area. “Kami sangat mendukung adanya program SISIR ini karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat kami. Anak-anak di Desa Paluh Sibaji hidup berdampingan dengan kondisi banjir rob, sehingga edukasi mengenai kesiapsiagaan dan penguatan mental sangat penting diberikan sejak dini,” ujar Nasri.
Sementara itu, Sekretaris Desa Paluh Sibaji, Endah Yustika N menyampaikan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat merupakan langkah positif dalam menghadirkan solusi terhadap permasalahan wilayah pesisir. “Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi anak-anak dan masyarakat.
SISIR menjadi inovasi yang tidak hanya memberikan pengetahuan tentang bencana, tetapi juga membantu membangun kesiapan dan ketenangan mental anak dalam menghadapi kondisi lingkungan mereka,” ungkap Endah.
Selain melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, tim juga melakukan kunjungan ke SD Negeri 104255 Paluh Sibaji sebagai lokasi sasaran utama program. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperkenalkan program SISIR kepada pihak sekolah sekaligus membangun kerja sama dalam pelaksanaan edukasi kepada peserta didik.
Perwakilan guru SD Negeri 104255 Paluh Sibaji, Masitah, menyambut baik pelaksanaan program SISIR. “Kami sangat mendukung adanya kegiatan ini karena anak-anak membutuhkan media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi mereka sebagai masyarakat pesisir. Dengan SISIR, siswa dapat belajar mengenai banjir rob, kesiapsiagaan, dan penguatan mental melalui metode yang lebih menarik serta menyenangkan,” kata Masitah.
Program SISIR akan dikembangkan sebagai aplikasi edukasi yang memiliki berbagai fitur, seperti pengenalan fenomena banjir rob, edukasi kesiapsiagaan bencana, permainan edukatif, permainan tradisional, penguatan resiliensi mental, serta doa-doa ketenangan yang mendukung proses pemulihan psikologis anak. Melalui program ini, UMA menunjukkan komitmennya menghadirkan kontribusi nyata perguruan tinggi melalui pendekatan lintas disiplin ilmu, teknologi, pendidikan, psikologi, dan pemberdayaan masyarakat.
Sosialisasi awal PkM SISIR menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, sekolah, dan masyarakat pesisir untuk menciptakan generasi yang lebih tangguh menghadapi perubahan lingkungan. Melalui inovasi SISIR, anak-anak pesisir diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman mengenai risiko banjir rob, tetapi juga mampu mengelola emosi, meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat nilai spiritual, serta tumbuh menjadi generasi yang adaptif, resilien, dan siap menghadapi berbagai tantangan lingkungan di masa depan.(id04)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda