Dr Hamka: Bagi Dunia Akademik, AI Bagai Pisau Bermata Dua


P.SIDIMPUAN (Waspada.id): Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Syahada Padangsidimpuan, Dr. Hamka, M.Hum, mengatakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi dunia akademik bagi pisau bermata dua sehingga harus cerdas dalam memanfaatkannya.
"Kecerdasan Buatan atau AI pada hakikatnya hanyalah alat, ibarat pisau bermata dua. Ia dapat memberi manfaat besar sekaligus dapat melukai," kata Dr.Hamka, M.Hum saat membuka Forum Riset dan Inovasi Pendidikan Islam (FORVADIS) FTIK UIN Syahada, P.Sidimpuan, Rabu (9/9).
Pembahasan untuk membedah tantangan serta peluang teknologi digital, terutama penggunaan AI dalam lingkungan pendidikan tinggi yang digelar di Aula FTiK UIN Syahada tersebut dihadiri dosen, tenaga administrasi dan perwakilan mahasiswa.
Dr. Hamka menegaskan bahwa di balik kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan AI, terselip persoalan serius yang tak boleh dianggap sepele.Dimana ketika mesin mulai berpikir, menulis bahkan menyelesaikan pekerjaan akademik maka akan berdampak negatif bagi dunia akademik.
"Persoalannya bukan lagi apakah AI boleh digunakan atau tidak. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah manusia masih mampu mengendalikan teknologi, atau justru perlahan menjadi bergantung kepadanya," ucapnya.
Menurut Hamka, perkembangan AI semestinya tidak membuat sivitas akademika kehilangan kemampuan berpikir kritis. Teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen yang membantu manusia mengembangkan ilmu, bukan mengambil alih tanggung jawab intelektual manusia.
Di lingkungan akademik, kemudahan AI bahkan menghadirkan tantangan baru. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan proses membaca, menelaah, menganalisis dan menulis secara mandiri kini dapat dilakukan jauh lebih cepat dengan bantuan mesin.
Di sinilah persoalan etika menjadi semakin penting. Sebab, kemajuan teknologi tanpa kontrol moral berpotensi melahirkan budaya instan seperti mengejar hasil, tapi mengabaikan proses dan mengejar produktivitas, tetapi mengorbankan kejujuran. Hamka berharap FORVADIS menjadi ruang untuk melahirkan gagasan segar sekaligus memperkuat budaya riset yang berkualitas di FTIK.

Dekan FTIK UIN Syahada Padangsidimpuan, Dr. Hamka, M.Hum, foto bersama dengan pemateri dan peserta FORVADIS di Aula FTIK UIN Syahada, Rabu (9/9/2027). Waspada.id/ist
Jangan Serahkan Nurani kepada Mesin
Dr. Abdussima Nasution, M.A sebagai narasumber dalam sesi diskusi mengajukan pertanyaan, apakah kemajuan digital membawa kemaslahatan atau justru kekhawatiran?”
Menurut Abdussima, teknologi tidak dapat dicap semata-mata sebagai sesuatu yang baik ataupun buruk. Dampaknya bersifat multidimensi dan sangat ditentukan oleh konteks penggunaannya, durasi pemakaian, tingkat literasi serta kepatuhan terhadap etika akademik.
Karena itu, terdapat tiga persoalan pokok yang harus dibaca secara serius, yakni hakikat digitalisasi, dampak yang ditimbulkannya, serta etika sebagai pagar dalam penggunaannya.
Tanpa ketiga aspek tersebut, AI berpotensi menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi mempercepat pekerjaan dan membuka akses pengetahuan. Di sisi lain, penggunaan tanpa kontrol dapat mengikis kemampuan berpikir mandiri dan mengancam integritas akademik.
Abdussima menegaskan, kecanggihan teknologi tidak boleh menggeser nilai dasar dalam dunia akademik. Kejujuran tetap menjadi fondasi. Tanggung jawab tetap berada pada manusia. Sementara AI harus ditempatkan sebagai alat bantu.
Menurutnya, prinsip etika akademik memiliki keselarasan dengan sifat Rasulullah SAW, yakni Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah.
“Prinsip etika akademik sejajar sepenuhnya dengan sifat Rasulullah SAW: Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah. Kejujuran, kepercayaan, menyampaikan kebenaran, dan kecerdasan yang bermanfaat itulah kompas agar AI tetap menjadi alat, bukan pengganti nurani kita.”
Pesan tersebut menjadi penting di tengah derasnya perkembangan teknologi yang membuat batas antara karya manusia dan hasil mesin semakin mudah dipertukarkan.
Sivitas akademika dituntut tidak sekadar mampu menggunakan AI, tetapi juga memiliki kecakapan untuk memeriksa informasi, mengkritisi hasil, memastikan kebenaran sumber dan mempertanggungjawabkan karya yang dihasilkan.(id46)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda