Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Dunia Dibayangi Krisis Beras, Indonesia Andalkan Kekuatan Swasembada

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 7 November 2026 - 6.41 AM WIB
Dunia Dibayangi Krisis Beras, Indonesia Andalkan Kekuatan Swasembada
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Ancaman krisis beras mulai membayangi dunia seiring fenomena El Nino yang menekan produksi di sejumlah negara produsen utama. Di tengah kenaikan harga beras internasional dan kekhawatiran terhadap pasokan global, Indonesia justru memiliki modal penting berupa keberhasilan mencapai swasembada beras.

Keputusan Presiden Prabowo Subianto menjadikan swasembada pangan sebagai prioritas nasional kini menunjukkan arti strategis. Target yang semula ditetapkan untuk dicapai dalam empat tahun berhasil diwujudkan Indonesia hanya dalam waktu satu tahun.

Gangguan cuaca di sejumlah negara produsen beras mulai mendorong kenaikan harga dan meningkatkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan global. Bloomberg melalui laporan berjudul “Asian Rice Price Climbs Near Two-Year High in Inflation Threat” mencatat harga acuan beras Asia telah mencapai level tertinggi dalam hampir dua tahun.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi pangan global seiring dampak El Nino yang mengganggu produksi beras di sejumlah kawasan.

Berdasarkan data Asosiasi Eksportir Beras Thailand yang dikutip Bloomberg, harga beras putih Thailand dengan tingkat pecahan 5 persen mencapai US$499 per ton pada Rabu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Desember 2024 dan menunjukkan tekanan yang semakin besar pada pasar beras internasional.

Harga Beras Dunia Terus Tertekan

Tekanan di pasar beras global juga terlihat di Amerika Serikat. Di Chicago, kontrak berjangka beras kasar (rough rice futures) telah meningkat lebih dari 80 persen sejak awal 2026.

Kenaikan tersebut terjadi ketika harga sejumlah komoditas biji-bijian utama lainnya, termasuk jagung dan gandum, justru mengalami penurunan.

Bloomberg menjelaskan kenaikan harga beras berkaitan erat dengan fenomena El Nino yang berlangsung saat ini. Kondisi cuaca kering yang lebih ekstrem mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman pangan di sebagian besar wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Padahal, kedua kawasan tersebut menyumbang lebih dari separuh produksi beras dunia.

Tekanan terhadap pasokan semakin serius karena para petani di berbagai negara Asia sedang memasuki masa panen, sementara kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya menjadi tantangan bagi produksi. India, yang merupakan eksportir beras terbesar dunia, termasuk negara yang menghadapi risiko tersebut.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), sebagaimana dikutip Bloomberg, memperkirakan produksi beras global akan mengalami penurunan pada musim ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) juga memperkirakan produksi beras dunia akan menurun pada musim 2026–2027.

Thailand, salah satu eksportir utama beras dunia, turut menghadapi risiko gangguan produksi. Berdasarkan laporan terbaru USDA Foreign Agricultural Service, ancaman terbesar berada pada tanaman padi di luar musim tanam utama (off-season crop) yang sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi.

Dampak kenaikan harga bahkan mulai terasa di tingkat konsumen. Bloomberg melaporkan harga beras di Filipina, importir beras terbesar dunia, melonjak 21 persen pada Oktober 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data pemerintah Filipina.

Kenaikan harga di tingkat grosir memang biasanya membutuhkan waktu sebelum sepenuhnya diteruskan ke pasar ritel. Namun, lonjakan harga di Filipina menjadi sinyal bahwa tekanan pasar beras internasional mulai dirasakan langsung oleh konsumen.

Situasi ini kembali memperlihatkan betapa rentannya ketahanan pangan dunia terhadap perubahan iklim. Gangguan produksi di negara-negara produsen utama dapat memengaruhi pasokan dan harga pangan lintas negara, mengingat beras menjadi makanan pokok bagi masyarakat di berbagai kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

Indonesia Perkuat Produksi dan Cadangan Beras

Di tengah tekanan global tersebut, Indonesia memiliki posisi yang relatif lebih kuat setelah berhasil mencapai swasembada beras pada 2025.

Berdasarkan data tetap Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 30,62 juta ton.

Kekuatan produksi itu ditopang oleh ketersediaan beras nasional yang mencapai sekitar 25 juta ton. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, jumlah tersebut terdiri atas sekitar 4,5 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog, sekitar 10 juta ton potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen, serta sekitar 10 juta ton stok di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).

Dengan kebutuhan beras nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, total ketersediaan tersebut setara dengan kebutuhan sekitar 10 bulan ke depan atau hingga Juli–Agustus 2027.

“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” ungkap Amran.

Menurutnya, keberhasilan mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki perlindungan yang lebih kuat ketika terjadi konflik geopolitik maupun gangguan rantai pasok internasional.

“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegasnya.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah ancaman El Nino, pemerintah terus memperkuat optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, serta penggunaan benih tahan kekeringan.

Presiden Prabowo juga memberikan dukungan kepada petani melalui peningkatan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton, penurunan harga pupuk sebesar 20 persen, dan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.

Mentan Amran menekankan kondisi pangan nasional yang relatif aman harus disyukuri sekaligus terus dijaga. Produksi perlu ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi agar Indonesia tidak kembali bergantung pada pasokan pangan dari negara lain.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman berkat kebijakan tepat Bapak Presiden. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” pungkasnya.

Di tengah ancaman penurunan produksi dan kenaikan harga beras dunia, keberhasilan Indonesia mempercepat swasembada pangan menjadi modal strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dan melindungi masyarakat dari gejolak harga.

Ketika banyak negara menghadapi ketidakpastian pasokan akibat El Nino, kekuatan produksi dan cadangan pangan dalam negeri menjadi benteng bagi Indonesia. Swasembada bukan sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga menjadi perlindungan strategis untuk menjaga stabilitas pangan dan kedaulatan nasional. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement