Dunia Kecam Israel Culik Aktivis Global Sumud Flotilla

JAKARTA (Waspada.id): Sejumlah negara secara resmi telah melayangkan kecaman atas tindakan Israel membajak kapal-kapal Global Sumud Flotilla dan menculik relawan serta jurnalis didalamnya. Mereka mendesak pembebasan segera para aktivis terserbut.
Menteri luar negeri dari Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Indonesia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol secara bersamaan mengecam keras serangan terbaru Israel terhadap Global Sumud Flotilla, sebuah inisiatif kemanusiaan sipil damai yang bertujuan menarik perhatian dunia terhadap penderitaan kemanusiaan yang katastrofik yang dialami rakyat Palestina.
Dalam pernyataan bersama semalam, para menteri luar negeri tersebut menyampaikan keprihatinan mendalam atas intervensi Israel terhadap armada-armada kemanusiaan sebelumnya di perairan internasional. Mereka juga mengutuk berlanjutnya tindakan permusuhan yang menargetkan kapal sipil dan para aktivis kemanusiaan.
Menurut mereka, serangan terhadap kapal serta penahanan sewenang-wenang terhadap para aktivis merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional.
Para menteri menyatakan keprihatinan serius terhadap keselamatan dan keamanan peserta sipil dalam armada tersebut. Mereka mendesak pembebasan segera seluruh aktivis yang ditahan serta menuntut penghormatan penuh terhadap hak dan martabat mereka.
Mereka juga menegaskan bahwa serangan berulang terhadap inisiatif kemanusiaan damai mencerminkan terus diabaikannya hukum internasional dan kebebasan navigasi di laut internasional.
Karena itu, para menteri menyerukan komunitas internasional untuk mengambil tanggung jawab hukum dan moralnya, memastikan perlindungan terhadap warga sipil dan misi-misi kemanusiaan, serta mengambil langkah konkret untuk mengakhiri impunitas dan memastikan pertanggungjawaban atas pelanggaran-pelanggaran tersebut.
Kecaman PM Irlandia
Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin juga mengecam intersepsi yang dilakukan Israel terhadap armada bantuan kemanusiaan Sumud Flotilla yang membawa sedikitnya 10 warga negara Irlandia. Ia juga menuntut pembebasan segera seluruh peserta yang ditahan.
Dilansir RTE, Pemerintah Irlandia menyerukan otoritas Israel agar mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional.
“Saya mengecam keras intersepsi terhadap kapal-kapal dalam Sumud Flotilla di perairan internasional serta penahanan orang-orang di dalamnya oleh militer Israel. Saya menyerukan pembebasan mereka segera,” kata Martin dalam sebuah pernyataan.
Martin menambahkan, pemerintah Irlandia saat ini sedang melakukan komunikasi langsung dengan otoritas Israel terkait keselamatan para peserta flotilla yang ditahan.
“Pemerintah telah menyampaikan kekhawatiran terkait keselamatan mereka kepada otoritas Israel. Intersepsi dan penahanan seperti ini sama sekali tidak dapat diterima dan harus dihentikan,” ujar dia.
Ia mengatakan pemerintah Irlandia juga akan berdiskusi dengan para mitra Uni Eropa mengenai langkah-langkah untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan warga negaranya.
Salah satu warga Irlandia yang berada di dalam armada tersebut adalah Dr Margaret Connolly, saudara perempuan Presiden Irlandia Catherine Connolly.
Suami Margaret, anggota dewan wilayah Sligo Declan Bree, mempertanyakan sikap pemerintah Irlandia terhadap tindakan Israel tersebut.
“Berapa kali lagi Israel harus menculik warga Irlandia sebelum pemerintah kami menjatuhkan sanksi?” kata Bree kepada RTÉ Six One.
Ia juga menyebut keterlambatan pernyataan resmi pemerintah “menggambarkan banyak hal” terkait respons Dublin terhadap insiden tersebut.
Belakangan pada Senin malam, pemerintah Irlandia akhirnya mengeluarkan kecaman resmi terhadap intersepsi armada kemanusiaan itu. Sumud Flotilla dilaporkan dicegat sekitar 70 mil laut dari wilayah Siprus di perairan internasional.
Sedangkan Presiden Irlandia Catherine Connolly menyatakan dirinya “sangat bangga” terhadap sang adik yang ditahan pasukan Israel saat berlayar menuju Gaza dalam misi bantuan kemanusiaan.
Adik Presiden Connolly, Margaret Connolly, merupakan seorang dokter umum di Kota Sligo, wilayah barat laut Irlandia. Ia termasuk sedikitnya enam warga Irlandia anggota Global Sumud Flotilla yang ditahan setelah pasukan Israel menaiki kapal mereka pada Senin.
Catherine Connolly menyampaikan pernyataan itu setelah melakukan kunjungan ke Raja Charles di Istana Buckingham, London.
“Saya sangat bangga kepada saudara perempuan saya, tetapi saya juga sangat khawatir terhadap dirinya,” kata Connolly.
Kecaman Turki
Kepala Direktorat Komunikasi Turki, Burhanettin Duran, mengecam keras pencegatan terhadap armada Global Sumud Flotilla. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai serangan di perairan internasional terhadap sebuah inisiatif sipil yang melibatkan aktivis dari 40 negara yang berupaya menembus blokade Gaza.
Dalam pernyataannya, Duran mengatakan operasi Israel itu mencerminkan “kebiadaban dan kebobrokan moral” serta bertentangan secara mendasar dengan nilai-nilai kemanusiaan, prinsip universal, dan hukum internasional.
Menurut dia, penargetan terhadap warga sipil tak bersenjata dan para pembela hak asasi manusia merupakan “serangan langsung terhadap nurani kemanusiaan.”
Duran menegaskan komunitas internasional, terutama negara-negara yang warganya berada di atas armada tersebut, memiliki kewajiban untuk menjamin keselamatan warga sipil dan menuntut pertanggungjawaban melalui mekanisme hukum internasional.
Ia juga menyatakan lembaga-lembaga Turki tengah bekerja untuk memastikan kepulangan dengan selamat warga negara Turki maupun warga negara lain yang berada dalam armada tersebut. Upaya itu, kata dia, dilakukan dengan “kehati-hatian maksimal.”
Menegaskan kembali sikap Ankara, Duran mengatakan Turki di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan akan terus menentang apa yang disebutnya sebagai penindasan dan tindakan ilegal Israel, membela hak-hak rakyat Palestina, serta terus mengangkat isu tersebut di berbagai forum internasional.
PM Anwar Mengecam
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim kembali menyatakan kecamannya terhadap aksi tentara Zionis Israel yang menahan lebih dari 100 aktivis kemanusiaan Gaza Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. Dari jumlah itu, terdapat lima WNI, termasuk dua jurnalis Republika Thoudy Badai dan Bambang Noroyono.
"Tindakan yang dilakukan terhadap misi bantuan kemanusiaan tersebut bukan saja melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional, tetapi juga memperlihatkan kesewenang-wenangan rezim Zionis dalam menutup akses bantuan, membungkam suara kemanusiaan, serta menindas siapa pun yang bangkit mempertahankan dan membela rakyat Palestina," tegas Anwar Ibrahim dalam pernyataan di Kuala Lumpur, Senin (18/5/2026).
Anwar menyatakan dari seratusan aktivis yang ditahan itu terdapat 16 aktivis dari Malaysia yang ikut ditawan. Malaysia dengan tegas mengecam tindakan tersebut dan menuntut jaminan keselamatan serta pembebasan segera seluruh aktivis.
Anwar menekankan dunia tidak boleh terus-menerus tunduk pada kezaliman. Menurut dia penindasan terhadap rakyat Palestina dan terhadap mereka yang menggalang serta membawa bantuan kemanusiaan harus segera dihentikan.
"Israel harus mempertanggungjawabkan tindakannya," tegas Anwar.
Ini bukan kali pertama Anwar mengeluarkan pernyataan keras atas aksi Israel terhadap aktivis kapal kemanusiaan flotilla. Dalam insiden penahanan sebelumnya Anwar juga secara langsung bersuara mengecam aksi militer Israel terhadap para aktivis.
Anwar juga tidak ragu melakukan dialog dengan pemimpin negara-negara sahabat dalam upaya pembebasan para aktivis.(rep)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda