Ekonomi Tetap Tumbuh, Namun Kontribusi Geliat Ekonomi Ramadhan MelemahEkonomi Tetap Tumbuh, Namun Kontribusi Geliat Ekonomi Ramadhan Melemah

MEDAN (Waspada.id): Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara tetap terjaga di atas 5 persen pada triwulan II 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sumut tumbuh 5,06 persen secara tahunan (year on year), sementara secara kumulatif semester I-2026 mencapai 5,02 persen.
Namun, di balik capaian tersebut, terdapat perubahan pola konsumsi masyarakat. Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai kontribusi aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan Idul Fitri terhadap pertumbuhan ekonomi terus mengalami pelemahan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
"Yang menarik bukan angka pertumbuhan ekonominya, tetapi kontribusi geliat ekonomi Ramadhan dan Idul Fitri yang semakin melemah dari tahun ke tahun," ujar Gunawan, Rabu (5/8).
Ia menjelaskan, pada triwulan I 2026, saat Ramadhan dan Idul Fitri berlangsung sepenuhnya, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, serta sepeda motor hanya tumbuh 0,25 persen secara kuartalan. Sementara pada triwulan II, sektor tersebut justru meningkat 2,57 persen.
Kondisi ini berbeda dengan pola pada 2022. Saat itu, Ramadhan dan Idul Fitri berlangsung sepenuhnya pada triwulan II dan mampu mendorong sektor perdagangan tumbuh hingga 3,61 persen secara kuartalan. Pada 2024, ketika momentum hari besar keagamaan terbagi antara triwulan I dan II, sektor tersebut juga masih mampu mencatat pertumbuhan 2,54 persen pada triwulan II.
Menurut Gunawan, pola serupa juga tercermin pada sektor akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi dan pergudangan yang selama ini identik dengan peningkatan aktivitas masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2026 tumbuh 1,3 persen, sedangkan pada triwulan II meningkat menjadi 2,88 persen. Hal itu menunjukkan belanja masyarakat lebih banyak terjadi setelah periode Lebaran.
Gunawan menilai setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan fenomena tersebut. Pertama, masyarakat mulai menahan belanja selama Ramadhan dan Idul Fitri akibat tekanan ekonomi.
Kedua, pengeluaran rumah tangga lebih difokuskan untuk kebutuhan pendidikan anak pada triwulan II.
Ketiga, belanja pemerintah dan bantuan sosial diperkirakan lebih banyak tersalurkan pada triwulan II sehingga menopang konsumsi masyarakat.
"Selama ini pelaku usaha ritel selalu menjadikan Ramadhan dan Idul Fitri sebagai tolok ukur untuk memproyeksikan penjualan setahun ke depan. Jika belanja masyarakat pada periode itu melambat, maka prospek konsumsi dalam beberapa bulan berikutnya juga cenderung lebih lemah," katanya.
Ia menambahkan, data pertumbuhan ekonomi terbaru mengindikasikan masyarakat kini lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya. Prioritas diberikan pada kebutuhan pokok dibandingkan belanja konsumtif yang selama ini identik dengan Ramadhan dan Idul Fitri.
"Fenomena ini menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih berada dalam tekanan. Masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan dasar dibandingkan mengikuti pola konsumsi musiman saat Ramadhan dan Lebaran. Ini mencerminkan adanya penurunan kualitas daya beli yang perlu menjadi perhatian," tutup Gunawan. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda