Breaking News
Memuat breaking news...

Emas Dunia Terancam Melemah, US$ 4.000 Jadi Level Kritis

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 9.39 AM WIB
Emas Dunia Terancam Melemah, US$ 4.000 Jadi Level Kritis
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kehilangan momentum di tengah lemahnya minat investor. Meski daya tarik obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mulai berkurang, logam mulia tersebut belum mampu memanfaatkan kondisi itu untuk menguat. Investor kini mencermati level US$ 4.000 per ons troi sebagai area penopang krusial yang berpotensi menjadi penentu arah harga selanjutnya.

Market Analyst StoneX, Julian Pineda mengatakan, harga emas hanya terkoreksi sekitar 0,3% dalam lima sesi perdagangan terakhir. Pergerakan yang terbatas tersebut mencerminkan ketidakpastian pasar sekaligus melemahnya momentum kenaikan emas dalam jangka pendek.

“Pergerakan yang terbatas ini mencerminkan ketidakpastian pasar dan memudarnya momentum harga emas dalam jangka pendek,” tulis Pineda dalam risetnya, dikutip dari Investor.id, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Pineda, emas belum mampu merespons positif penurunan daya tarik obligasi pemerintah AS dalam beberapa sesi terakhir. Padahal, secara umum, penurunan imbal hasil obligasi dapat meningkatkan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan bunga seperti instrumen pendapatan tetap.

Tekanan terhadap minat investor juga terlihat dari aliran dana keluar bersih sekitar US$ 37 juta dari exchange-traded fund (ETF) SPDR Gold Trust (GLD), berdasarkan data per 15 Oktober. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa minat investor institusi terhadap emas masih terbatas.

Inflasi AS dan Kebijakan The Fed Jadi Penentu

Selain arus dana investor, ekspektasi kebijakan moneter AS turut memengaruhi pergerakan harga emas. Data inflasi konsumen AS mencatat kenaikan tahunan sebesar 3,7% pada September, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%.

“Data tersebut sempat memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi masih menjadi tantangan bagi The Fed,” tambah Pineda.

Meski demikian, pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober. Pasar memperkirakan peluang sekitar 82% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pada 28 Oktober.

Pineda menilai pergerakan emas tanpa arah yang jelas berpotensi berlanjut selama minat beli belum kembali menguat. Apabila imbal hasil obligasi AS kembali meningkat dalam beberapa pekan mendatang, tekanan terhadap harga emas berpotensi semakin besar.

Tiga Level Harga Emas yang Perlu Dicermati

Dari sisi teknikal, garis tren turun masih menjadi acuan utama pergerakan emas dalam jangka pendek. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di zona netral, sedangkan histogram Moving Average Convergence Divergence (MACD) bergerak di sekitar garis nol.

Kedua indikator tersebut menunjukkan belum adanya dominasi yang kuat antara pembeli dan penjual. Dalam situasi ini, investor perlu mencermati sejumlah level harga yang dapat menentukan arah pergerakan emas berikutnya.

1. US$ 4.320 per ons troi: Area resistensi utama

Level US$ 4.320 menjadi area resistensi yang berdekatan dengan rata-rata pergerakan sederhana 50 periode. Jika harga emas mampu bertahan di atas level tersebut, tekanan tren turun berpotensi melemah dan membuka peluang perbaikan sentimen pasar.

“Jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, tren turun berpotensi melemah dan membuka peluang perubahan sentimen menjadi lebih positif,” ucapnya.

2. US$ 4.160 per ons troi: Zona konsolidasi

Level US$ 4.160 merupakan area keseimbangan harga yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir. Selama harga emas bergerak di sekitar zona ini, pasar berpotensi melanjutkan konsolidasi tanpa arah dominan.

3. US$ 4.000 per ons troi: Support kritis dan level psikologis

Level US$ 4.000 menjadi titik yang paling perlu diperhatikan investor. Selain berfungsi sebagai area support, level tersebut juga memiliki arti psikologis bagi pelaku pasar.

“Terakhir, US$ 4.000 per ons troi menjadi area support kritis sekaligus level psikologis penting. Jika harga kembali mendekati zona tersebut, tekanan jual berpotensi menguat dan mempertegas tren turun dalam beberapa pekan mendatang,” tutup Pineda.

Dengan momentum yang masih lemah dan minat investor yang belum pulih, arah harga emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan imbal hasil obligasi AS, ekspektasi suku bunga The Fed, serta kemampuan harga bertahan di level-level teknikal penting. Penurunan menuju US$ 4.000 menjadi risiko yang perlu diwaspadai, meski belum dapat dipastikan akan terjadi. (invid)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement