Breaking News
Memuat breaking news...

Emas Tembus US$4.500, Pasar Keuangan Mulai Bernapas

Redaksi
Redaksi
Kamis, 20 Agustus 2026 - 9.27 AM WIB
Emas Tembus US$4.500, Pasar Keuangan Mulai Bernapas
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Harga emas dunia kembali mencetak rekor tinggi hingga menembus level US$4.500 per troy ounce. Di tengah lonjakan harga emas, pasar keuangan domestik justru menunjukkan pergerakan positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak menguat pada perdagangan pagi.

Penguatan pasar keuangan domestik terjadi setelah imbal hasil atau yield US Treasury mengalami penurunan. Kondisi tersebut dipicu rencana Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) untuk meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah AS.

Rencana buyback tersebut meredakan tekanan jual pada US Treasury. Dampaknya, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke kisaran 4,641%.

Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin menilai penurunan yield US Treasury dan melemahnya indeks dolar AS menjadi sentimen positif bagi aset keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Penurunan imbal hasil US Treasury dan melemahnya USD Index memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Ini juga menjadi sentimen positif bagi pasar saham domestik," ujar Gunawan, Kamis (20/8).

Pada perdagangan pagi, USD Index terpantau turun ke sekitar level 98,8. Kondisi tersebut membuka ruang bagi rupiah untuk menguat terhadap dolar AS.

Rupiah terpantau bergerak menguat ke kisaran Rp17.790 per dolar AS. Sementara itu, IHSG pada pembukaan perdagangan juga menguat hingga level 6.447.

Menurut Gunawan, penguatan IHSG dan rupiah menunjukkan pasar domestik mendapatkan sentimen positif dari perkembangan pasar keuangan global. Namun, pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter AS dan kondisi geopolitik global.

Hasil FOMC Minutes menunjukkan bahwa The Fed masih berpeluang mempertahankan suku bunga acuannya. Sementara peluang pemangkasan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi AS ke depan.

"Pasar untuk sementara mendapatkan keyakinan bahwa The Fed tidak memiliki urgensi untuk menaikkan suku bunga. Ini membantu meredakan tekanan pada pasar keuangan," jelas Gunawan.

Emas Melonjak, Minyak Masih Tinggi

Di tengah penguatan IHSG dan rupiah, perhatian pasar juga tertuju pada harga emas yang terus mencetak rekor.

Harga emas dunia melonjak hingga US$4.497 per troy ounce, bahkan sempat diperdagangkan di atas US$4.500 per troy ounce dalam sesi perdagangan Amerika Serikat.

Jika dikonversikan ke rupiah, harga emas dunia saat ini setara dengan sekitar Rp2,58 juta per gram.

Gunawan menilai lonjakan harga emas mencerminkan tingginya permintaan terhadap aset safe haven. Ketidakpastian ekonomi global, arah kebijakan suku bunga AS, serta ketegangan geopolitik menjadi faktor yang membuat emas tetap diminati investor.

"Emas masih menjadi pilihan ketika pasar menghadapi ketidakpastian. Selama risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter masih tinggi, permintaan terhadap emas berpotensi tetap kuat," katanya.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia jenis Brent yang menjadi salah satu indikator kondisi pasokan energi global masih bertahan di level tinggi. Brent terpantau stabil di kisaran US$91,9 per barel.

Pergerakan harga minyak masih erat dikaitkan dengan perkembangan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya situasi di sekitar Selat Hormuz.

Hingga kini belum terlihat tanda-tanda kuat menuju penyelesaian konflik dalam waktu dekat. Karena itu, pasar masih mewaspadai potensi gangguan terhadap jalur perdagangan dan pasokan energi global.

Gunawan mengingatkan bahwa kondisi pasar yang terlihat positif pada perdagangan pagi belum berarti risiko global telah hilang. Pergerakan IHSG, rupiah, emas dan minyak masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global.

"Pasar masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, pergerakan yield US Treasury, dolar AS dan kebijakan The Fed. Jadi, penguatan IHSG dan rupiah perlu dilihat secara hati-hati," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement