Breaking News
Memuat breaking news...

Eropa-Asia Berebut Gas Alam, Harga Bisa Tembus US$117

Redaksi
Redaksi
Jumat, 28 Agustus 2026 - 8.14 AM WIB
Eropa-Asia Berebut Gas Alam, Harga Bisa Tembus US$117
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Persaingan memperebutkan pasokan gas alam global diperkirakan semakin ketat, terutama antara Eropa dan Asia. Kondisi ini dipicu kesulitan negara-negara Eropa mengisi kembali cadangan gas menjelang musim dingin.

Persaingan tersebut berpotensi mendorong harga gas melonjak hingga €100 atau sekitar US$117 per megawatt-jam. Jika terjadi, level tersebut akan menjadi yang tertinggi sejak krisis energi Eropa yang terjadi sekitar empat tahun lalu.

Kontrak berjangka gas acuan Eropa, Dutch TTF, telah menembus €68 per megawatt-jam pada Selasa. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak awal 2023, meski harga kemudian sedikit terkoreksi.

Melansir CNBC, Kamis (27/8/2026), Analis Ekuitas Senior Morningstar, Tancrede Fulop, memperkirakan harga gas dapat kembali melonjak apabila kondisi cuaca dan pasokan tidak sesuai harapan.

Menurut dia, musim dingin yang lebih dingin dari perkiraan, ditambah pasokan yang masih terbatas, berpotensi mendorong harga gas ke kisaran €90-€120 per megawatt-jam.

Sementara itu, analis Goldman Sachs memperkirakan harga gas berjangka Eropa dapat menembus €100 per megawatt-jam apabila ekspor LNG dari Timur Tengah hanya pulih secara bertahap hingga 2027.

Kenaikan harga tersebut dibutuhkan untuk menekan permintaan di Asia sehingga Eropa memiliki pasokan gas yang cukup untuk melewati musim dingin.

Selat Hormuz Jadi Titik Rawan

Persoalan pasokan semakin pelik akibat gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz. Jalur energi strategis tersebut telah memangkas secara signifikan ekspor LNG dari produsen utama kawasan Teluk, termasuk Qatar, ketika Eropa tengah melakukan pengisian kembali cadangan gas.

Kondisi ini meningkatkan persaingan antara pembeli Eropa dan Asia untuk mendapatkan kargo LNG yang tersedia di pasar global.

Jika pasokan dari Timur Tengah belum kembali normal, Eropa harus bersaing lebih agresif dengan negara-negara Asia untuk mengamankan pasokan LNG menjelang musim dingin.

Musim Panas Ikut Tekan Pasokan Energi

Di sisi lain, Eropa juga menghadapi tekanan dari kondisi cuaca ekstrem. Musim panas yang sangat terik meningkatkan penggunaan pendingin udara dan peralatan listrik lainnya yang membutuhkan energi besar.

Padahal, permintaan gas yang umumnya digunakan untuk pemanasan dan memasak di Eropa secara musiman justru sedang lebih rendah.

Gas sendiri menyumbang sekitar seperenam dari pembangkitan listrik Uni Eropa. Artinya, perubahan pasokan gas dapat memberikan dampak besar terhadap sistem energi kawasan tersebut.

Cuaca panas juga mengganggu sumber energi alternatif. Suhu tinggi menyebabkan pembangkitan listrik tenaga nuklir menurun. Sejumlah pembangkit bahkan terpaksa ditutup atau mengurangi produksinya di berbagai wilayah.

Pada saat yang sama, produksi listrik tenaga angin juga relatif lemah sepanjang musim panas.

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat posisi cadangan gas Eropa semakin rentan.

Menurut data Gas Infrastructure Europe, tingkat penyimpanan gas di Uni Eropa kini berada di sekitar 63%.

Angka tersebut termasuk salah satu level terendah yang pernah tercatat untuk periode yang sama dalam setahun. Posisi itu juga sekitar 18 poin persentase di bawah rata-rata lima tahun.

Dengan cadangan yang masih rendah, pasokan LNG Timur Tengah yang belum sepenuhnya pulih, serta persaingan dengan Asia yang semakin ketat, pasar gas Eropa menghadapi risiko lonjakan harga menjelang musim dingin.

Jika pasokan tidak segera bertambah secara signifikan, harga gas berpotensi kembali mendekati level krisis energi dan menambah tekanan terhadap biaya energi serta inflasi di kawasan tersebut. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement