Breaking News
Memuat breaking news...

Erupsi Anak Krakatau Bayangi Rupiah dan IHSG

Redaksi
Redaksi
Senin, 7 September 2026 - 10.03 AM WIB
Erupsi Anak Krakatau Bayangi Rupiah dan IHSG
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Pelaku pasar keuangan nasional diminta mewaspadai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Iran dan Amerika Serikat (AS) yang kembali mendorong harga minyak mentah dunia mendekati US$100 per barel.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, kondisi pasar keuangan saat ini dihadapkan pada sejumlah sentimen global maupun domestik yang berpotensi meningkatkan volatilitas.

"Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan dan saat ini mendekati US$100 per barel. Brent ditransaksikan di kisaran US$96,5 per barel," ujar Gunawan Benjamin, Senin (7/9).

Menurutnya, kenaikan harga minyak tersebut tidak terlepas dari aksi saling serang antara Iran dan AS yang menyasar sejumlah fasilitas minyak. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Di sisi lain, pelaku pasar domestik juga tengah menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia yang akan diumumkan Bank Indonesia (BI). Data tersebut dinilai akan menjadi salah satu indikator penting yang memengaruhi sentimen pasar keuangan nasional.

"Pelaku pasar juga tengah menanti rilis data cadangan devisa. Data ini akan menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar dari dalam negeri," katanya.

Selain faktor geopolitik, Gunawan menyebut pelaku pasar juga mencermati aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut telah mengganggu jadwal penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya, apabila kondisi erupsi memburuk dan menimbulkan gangguan yang lebih luas, dampaknya dapat merembet ke berbagai aktivitas ekonomi, termasuk sektor transportasi dan pariwisata, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi kinerja pasar keuangan.

"Erupsi Gunung Anak Krakatau juga perlu dicermati. Jika gangguannya meluas, bukan tidak mungkin akan memberikan dampak lanjutan terhadap aktivitas ekonomi dan sektor keuangan," jelasnya.

Meski dibayangi berbagai sentimen negatif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu dibuka menguat ke level 6.652. Penguatan tersebut sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang berada di zona hijau.

Namun, kondisi berbeda terlihat pada pasar valuta asing. Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.665 per dolar AS.

Sementara itu, harga emas dunia juga terkoreksi ke level US$4.414 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,52 juta per gram.

Gunawan menilai inflasi masih menjadi salah satu persoalan yang membayangi pasar keuangan maupun pasar komoditas. Tekanan inflasi berpotensi semakin besar apabila kenaikan harga minyak dunia berlangsung dalam waktu yang panjang.

"Inflasi masih menjadi salah satu topik utama yang menghantui kinerja pasar keuangan maupun pasar komoditas, terutama di tengah memburuknya tensi geopolitik," ujarnya.

Dia menambahkan, belum terdapat agenda ekonomi besar di kawasan Asia yang berpotensi memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG maupun Rupiah pada perdagangan kali ini.

Dengan demikian, perhatian pelaku pasar lebih banyak tertuju pada perkembangan geopolitik dan potensi gangguan akibat bencana alam.

"Secara keseluruhan, tidak ada agenda ekonomi besar di Asia yang memberikan pengaruh signifikan terhadap IHSG maupun Rupiah. Pasar saat ini lebih mewaspadai potensi gangguan bencana alam serta memburuknya tensi geopolitik yang dapat memicu gejolak besar di sektor keuangan secara fundamental," pungkas Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement