Fahmil Putri Aceh Tembus Final MTQN XXXI: Cahaya Sejarah dari Panggung Qur’ani Nasional

“Dari panggung Semarang, tiga dara Aceh menyalakan obor sejarah. Fahmil Putri Aceh bukan hanya melaju ke final, tetapi juga menyalakan harapan: bahwa cinta Al-Qur’an akan selalu menemukan jalannya menuju cahaya kemenangan,”- Waled Misran Fuadi.
Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo menjadi saksi lahirnya sejarah baru bagi Provinsi Aceh. Dari panggung Fahmil Qur’an Putri, gema suara tiga dara Aceh—Azka Dara Maulidya, Kayyisa Farras, dan Izza Mushviya—menyatu dalam lantunan ilmu, ketangkasan, dan keberanian. Mereka bukan sekadar bertanding, melainkan menorehkan jejak emas: untuk pertama kalinya, regu Fahmil Putri Aceh melaju ke babak final MTQ Nasional XXXI.
Aceh tampil sebagai Regu D pada sesi kedua pagi. Persaingan berlangsung ketat, seolah setiap detik adalah ujian kesabaran dan kecerdasan. Sumatera Barat mengumpulkan 1.280 poin, Jawa Barat 580 poin, sementara Jawa Tengah dan Aceh sama-sama menorehkan angka 1.400 poin. Angka itu bukan sekadar bilangan, melainkan tanda kemenangan yang membuka pintu menuju panggung puncak.
Di balik sorak dukungan, hadir Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., Ketua Kafilah Aceh sekaligus Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, yang sudah bertekat tidak akan pernah meninggalkan peserta selama MTQ berlangsung. Misran meyakini, keberadaan dirinya pada setiap sesi perlobaan akan menjadi energi bagi peserta.

I Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo, Waled Misran ditemani Wali Kota Subulussalam H. M. Rasyid Bancin. Mereka menyaksikan dengan mata berkaca, bagaimana tiga putri Aceh menjawab tantangan dengan ketenangan dan keyakinan. “Kami merasa sangat bahagia sekaligus terharu dengan perjuangan mereka,” ucapnya.
Makna Sejarah dan Doa
Kata Waled Misran lagi, pada MTQ sebelumnya di Kalimantan Timur, langkah Fahmil Putri Aceh terhenti sebelum final. Kini, sejarah berbalik. Dengan izin Allah, mereka menembus batas yang dulu tertutup. “Alhamdulillah, anak-anak telah memberikan yang terbaik. Ini sejarah baru, Fahmil Putri Aceh untuk pertama kalinya ke final MTQ Nasional.”
Namun, pada setiap kesempatan kemenangan ia selalu mengingatkan, perjalanan belum selesai. Final menanti esok hari. Pesan beliau sederhana namun dalam: tetap tenang, fokus, percaya diri, dan serahkan hasil terbaik kepada Allah.

Menatap Panggung Akhir
Esok, Jumat (18/9/2026), Azka, Kayyisa, dan Izza akan kembali berdiri di panggung final Fahmil Qur’an Putri. Tiket final telah digenggam, tetapi hati mereka masih berdoa agar langkah terakhir menjadi persembahan indah bagi Aceh.
MTQ bukan sekadar lomba. Ia adalah panggung ukhuwah, cahaya ilmu, dan gema Qur’ani yang menyalakan semangat umat. Bagi Aceh, keberhasilan ini adalah cahaya sejarah—sebuah bukti bahwa ketekunan, doa, dan cinta Al-Qur’an mampu menembus batas, mengangkat nama daerah, dan menorehkan kisah yang akan dikenang sepanjang masa. "Langkah mereka bukan hanya menuju final, tetapi menuju keabadian nama Aceh dalam cahaya Al-Qur’an,” kata Waled Misran Fuadi kepada Waspada.id via telepon dari Kota Atlas nun jauh di sana. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda