Fashion Show Pakaian Adat Simalungun di Pematangsiantar: Simbol Kehormatan-Cerita Filosofi LuhurFashion Show Pakaian Adat Simalungun di Pematangsiantar: Simbol Kehormatan-Cerita Filosofi Luhur

PEMATANGSIANTAR (Waspada.id): Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Pematangsiantar, Liswati Sinaga mengajak para peserta Lomba Fashion Show Pakaian Adat Simalungun tampil penuh percaya diri dan menunjukkan penampilan terbaiknya. Dia sebut, kemenangan merupakan bonus.
"Kepada anak-anakku peserta lomba, tampillah penuh percaya diri. Kemenangan sejati adalah ketika kalian tampil dengan bangga mengenakan identitas adat Simalungun," ucap Liswati pada sambutannya di acara Lomba Fashion Show Pakaian Adat Simalungun Tingkat SMP Negeri dan Swasta Pematangsiantar di Aula SMP Budi Mulia, Jalan Melanthon Siregar, Rabu (22/7/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Syaiful Rizal mengatakan Kota Pematangsiantar kaya akan nilai sejarah dan kebudayaan. Budaya Simalungun menjadi jati diri dan akar kearifan lokal dengan falsafah Habonaron do Bona.
Menurutnya, merupakan langkah krusial di tengah gempuran tren modern dan budaya luar saat ini, memperkenalkan dan menanamkan rasa cinta terhadap pakaian adat, seperti Hiou Simalungun lengkap dengan Gotong dan Bulang kepada generasi muda, khususnya anak-anak usia SMP.
"Pakaian adat bukan sekadar helai kain indah yang kita kenakan, melainkan simbol kehormatan, identitas, dan warisan leluhur yang menyimpan cerita filosofi luhur," katanya.
Dikatakan, melalui panggung fashion show tidak hanya melihat keindahan estetika busana adat Simalungun. Tetapi juga menyaksikan generasi muda membawakan warisan budaya dengan percaya diri, anggun, dan penuh rasa bangga.
"Tunjukkan pesona dan senyum terbaik kalian di atas panggung. Jadikan momentum ini sebagai titik awal untuk semakin mencintai dan melestarikan kebudayaan lokal di kehidupan sehari-hari. Selamat berlomba kepada seluruh peserta," ujar Syaiful.
Salah seorang dewan juri, Hotman Damanik menyebut dewan juri tidak mengetahui asal peserta. Sebab yang mereka terima dari panitia hanya nomor urut peserta.
Ia menegaskan, dewan juri akan berusaha menilai secara objektif.
Kepada para peserta, diimbau agar sebelum pertandingan untuk memperhatikan perangkat yang dikenakan. "Bertanding secara fair play," katanya.
Sebelumnya, Kabid Pendidikan Non Formal dan Kebudayaan Disdik Fakhrudin Sagala dalam laporannya menyampaikan kebudayaan Simalungun merupakan warisan leluhur yang menjadi identitas utama di Simalungun. Sehingga perlu langkah konkret dan kreatif untuk melestarikan adat Simalungun, termasuk busana seperti Gotong, Bulang, dan lainnya, khususnya kepada generasi muda.
"Tujuan kegiatan ini yakni untuk memperkenalkan tata cara budaya Simalungun yang benar, penguatan karakter pelajar yang menghormati kearifan lokal, serta menyediakan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan seni," tuturnya.
Lomba fashion diikuti 38 peserta yang tampil berpasangan, berasal dari 19 sekolah SMP Negeri dan Swasta di Pematangsiantar. "Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang kompeten dan independen," ujarnya. (AtaPara peserta lomba Fashion Show Pakaian Adat Simalungun. (Waspada.id/Diskominfosiantar)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda